JAKARTA, BursaNusantara.com – Rupiah menunjukkan performa impresif sepanjang pekan ini dengan mencatatkan penguatan mingguan sebesar 1,81%. Setelah menyentuh titik terlemah sejak 1998 di Rp16.596 per dolar AS pekan lalu, rupiah kini berhasil menguat ke level Rp16.295 per dolar AS pada perdagangan Jumat (7/3). Penguatan ini menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terbaik di Asia.
Faktor Penguatan Rupiah Pekan Ini
Menurut Analis PT Finex Berjangka, Nanang Wahyudin, situasi ekonomi Amerika Serikat (AS) menjadi faktor utama yang mendorong apresiasi rupiah pekan ini. Perkiraan pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) akibat perlambatan ekonomi turut berkontribusi terhadap pelemahan dolar AS.
“Selain itu, kebijakan impor yang diterapkan oleh Trump berdampak kurang baik bagi pasar, karena meningkatkan ketidakpastian global,” ujar Nanang kepada Kontan.co.id.
Hingga Kamis (6/3), rupiah masih berada di level Rp16.399 per dolar AS. Namun, momentum penguatan terus berlanjut hingga akhir pekan.
Stabilitas Rupiah dan Peran Bank Indonesia
Nanang menilai, pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir juga dipengaruhi oleh sejumlah kasus korupsi yang melibatkan lembaga pemerintahan. Kendati demikian, Bank Indonesia (BI) telah mengumumkan akan mempertahankan suku bunga guna menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global.
Saat ini, pergerakan rupiah sangat bergantung pada pelemahan dolar AS yang tengah berlangsung. “Sebagaimana kita ketahui, dolar melemah terhadap mata uang utama lainnya, sehingga mendorong indeks dolar ke level terendah sejak November lalu,” jelas Nanang.
Prospek Rupiah dalam Waktu Dekat
Situasi ekonomi AS bisa mengalami perubahan jika data ketenagakerjaan yang akan dirilis dalam waktu dekat menunjukkan hasil positif. Namun, jika data non-farm payroll justru mengecewakan, maka rupiah masih berpeluang untuk menguat lebih lanjut.
“Untuk pekan depan, rupiah diperkirakan akan diperdagangkan dalam kisaran Rp16.200–Rp16.390,” tambah Nanang.
Mata Uang Asia Ikut Menguat
Perlambatan ekonomi AS tidak hanya berdampak positif bagi Indonesia, tetapi juga bagi mayoritas negara Asia. Mata uang lain yang turut menguat meliputi:
- Peso Filipina naik 0,24%
- Yen Jepang menguat 0,22%
- Baht Thailand naik 0,17%
Dengan tren ini, investor diharapkan terus mencermati dinamika ekonomi global yang dapat mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan mendatang.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











