JAKARTA, BursaNusantara.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan pada Senin pagi (17/3/2025). Penguatan ini didorong oleh ketidakpastian kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump serta pelemahan data ekonomi makro AS yang berdampak pada pergerakan pasar keuangan global.
Rupiah Menguat di Tengah Pelemahan Dolar AS
Rupiah tercatat menguat 21 poin atau 0,14% ke level Rp16.329 per dolar AS dalam perdagangan pagi ini. Sebelumnya, pada Jumat (14/3/2025), rupiah sempat ditutup menguat 78 poin (0,47%) di level Rp16.350 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar turun tipis sebesar 0,02 poin menjadi 103,7, dengan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun merosot 17 basis poin ke level 4,3%.
Dolar AS Melemah Akibat Ketidakpastian Kebijakan Trump
Faktor Penyebab Pelemahan Dolar AS
Kebijakan perdagangan Presiden Trump yang tidak menentu menjadi salah satu faktor utama melemahnya dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Analis dari Goldman Sachs, Dominic Wilson dan Kamakshya Trivedi, mencatat dua perubahan besar dalam pasar makro selama sebulan terakhir:
1. Penurunan tajam dalam aset AS
Akibat volatilitas tarif perdagangan yang diterapkan pemerintahan Trump.
2. Peningkatan stimulus fiskal Jerman
Mendorong optimisme pasar Eropa dan meningkatkan daya tarik euro.
Euro saat ini diperdagangkan di level US$1.0881, sedikit lebih rendah dari puncak US$1.0947 yang dicapai pada Selasa lalu, yang merupakan level tertinggi sejak Oktober 2024.
Dampak Kebijakan Ekonomi Jerman terhadap Euro
Kanselir Jerman, Friedrich Merz, telah mendapatkan dukungan dari Partai Hijau untuk meningkatkan pinjaman negara secara signifikan. Rencana ini mencakup dana sebesar 500 miliar euro (US$544 miliar) untuk infrastruktur dan reformasi aturan pinjaman. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi terbesar di Eropa.
Yen Jepang dan Yuan China Menguat
Yen Jepang Bertahan di Level Tertinggi Lima Bulan
Sementara itu, yen Jepang bertahan di level tertinggi lima bulan, didorong oleh sikap hawkish Bank of Japan (BOJ). Meskipun BOJ diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan ini, ada indikasi kuat bahwa kenaikan suku bunga berikutnya semakin dekat. Perusahaan-perusahaan besar Jepang telah menawarkan kenaikan gaji yang signifikan selama tiga tahun berturut-turut, yang diperkirakan akan meningkatkan konsumsi domestik.
Yuan China Bergerak Menuju Level Terkuat Empat Bulan
Di sisi lain, yuan China juga mengalami penguatan mendekati level terkuat dalam empat bulan. Pemerintah China dijadwalkan mengumumkan langkah-langkah baru untuk mendorong konsumsi domestik dalam konferensi pers pada Senin pukul 07.00 GMT. Hal ini mendorong yuan offshore naik 0,15% menjadi 7.2266 per dolar AS, mendekati level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Dampak Global: Dolar Australia Naik, Indeks Dolar Tertekan
Dolar Australia, yang sering dianggap sebagai indikator likuiditas yuan China, naik 0,06% ke level US$0.6328. Indeks dolar AS sendiri stagnan di level 103.71 pada sesi perdagangan Asia, hanya sekitar 0,5% dari level terendah lima bulan di 103.21 yang dicapai Selasa lalu.
Dengan meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan AS, pergerakan pasar mata uang global diperkirakan akan tetap volatil dalam beberapa pekan ke depan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.










