Geser Kebawah
KomoditasPasar

Rupiah Perkasa Sepekan, The Fed Jadi Pemicu Utama

193
×

Rupiah Perkasa Sepekan, The Fed Jadi Pemicu Utama

Sebarkan artikel ini
Rupiah Perkasa Sepekan, The Fed Jadi Pemicu Utama
Rupiah menguat signifikan sepekan terakhir dipicu ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed hingga 75 bps, meski terkoreksi tipis di akhir pekan.

Rupiah Tetap Positif Meski Ditutup Melemah Tipis

JAKARTA, BursaNusantara.com – Rupiah menutup pekan perdagangan dengan catatan positif, meski pada sesi akhir Jumat (8/8/2025) sempat terkoreksi tipis di tengah kehati-hatian investor global.

Di pasar spot Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp 16.293 per dolar AS atau melemah 0,04% dari perdagangan sebelumnya, namun masih membukukan penguatan 1,35% dalam sepekan.

Sponsor
Iklan

Berdasarkan kurs tengah Jisdor Bank Indonesia, rupiah menguat 0,08% ke Rp 16.299 per dolar AS dibandingkan sehari sebelumnya, mencatatkan apresiasi mingguan sebesar 1,18%.

The Fed Jadi Sentimen Penggerak Utama

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa pelemahan tipis di akhir pekan dipicu kekhawatiran pasar terkait dampak kebijakan tarif terhadap perekonomian kawasan ASEAN, termasuk Indonesia.

Meski demikian, ia menilai kekhawatiran tersebut cepat mereda seiring meredanya tensi pasar dan munculnya sentimen positif dari luar negeri.

Faktor dominan yang mengangkat rupiah adalah revisi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, dari 25 basis poin menjadi 75 basis poin, setelah rilis data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan.

Ekspektasi pelonggaran moneter AS ini mendorong pelemahan dolar secara global, membuka ruang apresiasi lebih besar bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Prediksi Pekan Depan: Potensi Melemah Terbatas

Memasuki pekan depan, Josua memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 16.250 hingga Rp 16.375 per dolar AS, dengan kecenderungan melemah terbatas.

Prediksi ini didasari oleh antisipasi kenaikan inflasi tahunan di AS, baik dari sisi harga konsumen maupun produsen, yang dapat membatasi ruang pelonggaran moneter The Fed.

Sentimen eksternal diperkirakan masih akan memegang peran penting, mengingat ketidakpastian kebijakan perdagangan global yang belum sepenuhnya mereda.

Pelaku pasar akan mencermati rilis data ekonomi AS secara detail, terutama indikator inflasi yang menjadi acuan kebijakan suku bunga bank sentral.

Dinamika Pasar dan Strategi Investor

Penguatan rupiah sepanjang pekan ini memberi sinyal positif bagi stabilitas nilai tukar, namun volatilitas jangka pendek tetap harus diwaspadai.

Investor cenderung mengadopsi strategi lindung nilai (hedging) untuk mengantisipasi fluktuasi kurs, khususnya menjelang rilis data inflasi AS pekan depan.

Di sisi domestik, stabilitas makroekonomi dan cadangan devisa yang memadai menjadi faktor penopang utama rupiah di tengah guncangan eksternal.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan tetap menarik bagi arus modal asing, terutama jika The Fed mengonfirmasi pemangkasan suku bunga lebih agresif pada pertemuan berikutnya.

Peran Kebijakan Dalam Negeri

Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan terus menjaga koordinasi kebijakan untuk mengantisipasi gejolak pasar global.

Langkah-langkah stabilisasi nilai tukar melalui intervensi pasar dan pengelolaan likuiditas dinilai akan menjadi kunci menjaga rupiah dalam tren positif.

Konsistensi dalam menjaga inflasi domestik tetap terkendali juga menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan pelaku pasar.

Jika tren positif rupiah ini mampu dipertahankan, peluang penguatan lanjutan masih terbuka lebar, terutama bila didukung sinyal dovish yang lebih kuat dari The Fed.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.