Rupiah Tertekan Inflasi Produsen AS
JAKARTA, BursaNusantara.com – Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah pada perdagangan Jumat (15/8/2025) setelah data inflasi produsen Amerika Serikat (AS) menunjukkan lonjakan di atas perkiraan.
Rupiah di pasar spot Bloomberg pada pukul 09.11 WIB terkoreksi 32 poin atau 0,2% ke level Rp 16.147 per dolar AS, sementara indeks dolar AS turun tipis 0,15% menjadi 98,1.
Sehari sebelumnya, rupiah sempat menguat 87 poin atau 0,54% ke posisi Rp 16.115 per dolar AS, seiring optimisme pasar terhadap potensi pelonggaran kebijakan The Fed.
Inflasi Produsen Memicu Guncangan Pasar
Data dari Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan harga produsen naik tercepat dalam tiga tahun terakhir pada Juli, didorong lonjakan biaya barang dan jasa.
Kenaikan ini kontras dengan inflasi konsumen awal pekan yang cenderung terkendali, sehingga ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed langsung terkikis.
Pelaku pasar kini memprediksi peluang pemangkasan suku bunga 25 basis poin (bps) pada September tetap ada, namun proyeksi pemangkasan agresif 50 bps menghilang sepenuhnya.
Kepala Riset Pepperstone Chris Weston menilai data inflasi produsen ini wajar mengerek yield obligasi jangka pendek dan memperkuat dolar AS. Namun, ia tetap melihat peluang pemangkasan 25 bps sebagai skenario utama.
Tekanan Terhadap Aset Global
Dolar AS masih bertahan menguat terhadap euro dan poundsterling yang masing-masing melemah 0,5% dan 0,3% pada Kamis. Yen Jepang justru menguat 0,3% terhadap dolar setelah data PDB kuartal II Jepang melampaui perkiraan.
Yield obligasi AS tenor dua tahun bertahan di 3,7262% setelah naik 5 bps, sedangkan tenor 10 tahun stabil di 4,2849%.
Kepala Ekonomi Internasional Commonwealth Bank of Australia, Joseph Carpuso, melihat situasi ini menjadi dilema bagi The Fed karena inflasi tinggi dibarengi pelemahan pasar tenaga kerja.
Ia memperkirakan Ketua The Fed Jerome Powell akan membahas hal ini secara mendalam dalam pidatonya pada konferensi tahunan bank sentral di Jackson Hole pekan depan.
Faktor Geopolitik Menambah Ketidakpastian
Selain faktor ekonomi, pasar juga memantau perkembangan geopolitik, terutama rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska pada Jumat ini.
Trump mengklaim Putin siap mengakhiri perang di Ukraina, meski kemungkinan diperlukan pertemuan lanjutan dengan melibatkan pemimpin Ukraina untuk mencapai kesepakatan final.
Alex Hill, Direktur Pelaksana Electus Financial Ltd, menilai pasar sedang menunggu pemicu volatilitas baru. Menurutnya, pelemahan bertahap data ekonomi AS dan kenaikan inflasi bisa menguji daya tahan dolar, apalagi dengan jadwal penerbitan utang pemerintah yang lebih besar pada September–Oktober.
Dengan kombinasi tekanan inflasi, ketidakpastian kebijakan moneter, dan dinamika geopolitik, investor diperkirakan akan tetap berhati-hati dalam menempatkan aset, sementara rupiah kemungkinan bergerak fluktuatif dalam waktu dekat.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












