JAKARTA, BursaNusantara.com – Rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal pekan ini.
Dalam penutupan perdagangan Senin (7/4), rupiah spot ditutup pada level Rp 16.822 per dolar AS atau melemah sekitar 1% dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya di Rp 16.653 per dolar AS.
Intervensi BI Stabilkan Rupiah
Meski mengalami pelemahan harian, rupiah sempat menyentuh titik terlemah di Rp 16.890 pada awal perdagangan. Namun, intervensi strategis Bank Indonesia (BI) di pasar Non Deliverable Forward (NDF) Asia, Eropa, dan New York berhasil menahan depresiasi lebih dalam dan mendorong sedikit penguatan menjelang penutupan.
Baca Juga: Rupiah Fluktuatif, Berpotensi Dekati Rp 17.000 di Kuartal II
Langkah intervensi ini menjadi respons cepat terhadap tekanan global yang meningkat selama libur panjang Lebaran, serta rekor nilai tukar rupiah di pasar NDF yang sempat menyentuh Rp 17.103 per dolar AS, tertinggi sepanjang sejarah.
Menurut Ekonom Bank Danamon Indonesia, Hosianna Evalita Situmorang, intervensi BI menjadi kunci dalam meredam gejolak nilai tukar. “Ini menjadi indikasi awal dari stabilisasi nilai rupiah, meskipun masih dibayangi tekanan eksternal,” ujarnya.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Industri Otomotif Siapkan Strategi
Tekanan Global dan Kebutuhan Valas Korporasi
Hosianna menjelaskan bahwa pelemahan rupiah kali ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China kembali memanas, ditandai dengan kebijakan tarif balasan dari China terhadap barang impor AS.
Selain itu, rilis data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan turut memperkuat posisi dolar AS di pasar global.
Dari sisi domestik, meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) korporasi setelah masa libur panjang turut menambah tekanan pada nilai tukar rupiah. Permintaan valas yang tinggi ini mendorong penjualan rupiah di pasar spot.
Baca Juga: Rupiah Menguat: Update Kurs Dollar dan Panduan Valas BCA
“Pelemahan rupiah hari ini juga menjadi refleksi dari meningkatnya permintaan valas untuk kebutuhan bisnis pasca-Lebaran,” jelas Hosianna.
Strategi Intervensi Lanjutan
Bank Indonesia dipastikan akan melanjutkan intervensi agresif di pasar valuta asing, baik spot maupun NDF, pada perdagangan Selasa (8/4). Selain itu, BI juga akan mengoptimalkan instrumen likuiditas untuk menjaga stabilitas sistem keuangan domestik.
Langkah intervensi di pasar NDF ini merupakan langkah yang relatif baru bagi BI, dan menjadi strategi yang dianggap perlu dalam merespons dinamika pasar global yang bergerak masif selama 24 jam.
Baca Juga: Rupiah Tertekan, Sentuh Rp 16.575 per Dolar AS di Perdagangan Senin
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa dominasi pasar NDF terhadap psikologis pelaku pasar spot cukup signifikan. “Pergerakan NDF itu real-time dan sangat agresif. Intervensi BI sangat krusial untuk mengendalikan ekspektasi,” ujarnya.
Proyeksi Kurs Rupiah Hari Ini
Dalam jangka pendek, pasar diperkirakan akan fokus pada kelanjutan komunikasi diplomatik Indonesia dengan mitra dagang utama terkait kebijakan tarif impor, serta koordinasi regional yang dibahas dalam ASEAN Trade Ministers Meeting.
Hosianna memperkirakan kurs rupiah pada Selasa (8/4) akan bergerak di kisaran Rp 16.680 hingga Rp 16.850 per dolar AS, seiring ekspektasi stabilisasi pasca-intervensi.
Baca Juga: Strong Dollar Bangkit: Perang Dagang AS Kembali Membara
Di sisi lain, Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah berada pada rentang yang lebih tinggi, yakni Rp 16.970 hingga Rp 17.050, tergantung kekuatan sentimen global dan volume perdagangan valas korporasi.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.







