Geser Kebawah
KomoditasPasar

Rupiah Tertekan, Sentuh Rp 16.575 per Dolar AS di Perdagangan Senin

109
×

Rupiah Tertekan, Sentuh Rp 16.575 per Dolar AS di Perdagangan Senin

Sebarkan artikel ini
Rupiah Tertekan Sentuh Rp 16.575 Per Dolar AS Di Perdagangan Senin
Nilai tukar rupiah turun ke Rp 16.575 per dolar AS pada Senin (24/3), tertekan pernyataan hawkish The Fed dan sentimen global yang tidak menentu.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot. Pada perdagangan Senin (24/3),

Rupiah berada di level Rp 16.575 per dolar AS pada pukul 13.30 WIB. Posisi ini mencerminkan pelemahan 0,45% dibandingkan dengan penutupan Jumat (21/3) yang berada di Rp 16.502 per dolar AS.

Sponsor
Iklan

Dengan pelemahan ini, rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia. Sejumlah faktor eksternal dan domestik memengaruhi pelemahan mata uang Garuda, termasuk kebijakan The Fed, kondisi pasar global, serta isu dalam negeri yang menambah ketidakpastian investor.

Dampak Kebijakan The Fed dan Sentimen Global

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah terjadi seiring dengan rebound-nya dolar AS setelah pernyataan hawkish dari dua pejabat The Fed, Golsbee dan Williams. Mereka menegaskan bahwa belum ada urgensi untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.

“Rupiah juga tertekan oleh sentimen risk-off di pasar saham yang masih berlanjut,” ujar Lukman, Senin (24/3).

Selain kebijakan The Fed, pelemahan rupiah juga dipicu oleh sejumlah faktor eksternal lainnya. Beberapa di antaranya adalah perlambatan ekonomi global, ketidakpastian tarif dagang era Trump, eskalasi konflik di Gaza, serta belum adanya titik terang dalam perdamaian Ukraina.

Faktor Domestik yang Menekan Rupiah

Dari dalam negeri, beberapa faktor turut memperburuk tekanan terhadap rupiah. Salah satunya adalah isu terkait pengelolaan dana sovereign wealth fund (SWF) Danantara, yang menurut Lukman masih menimbulkan skeptisisme di kalangan investor.

“Pengelolaan dana SWF dalam jumlah besar seperti ini bukan hal yang mudah. Investor masih meragukan transparansi dan efektivitas pengelolaannya,” ungkapnya.

Di sisi lain, defisit anggaran dan perlambatan ekonomi dalam negeri juga menjadi sentimen negatif bagi rupiah.

Intervensi Bank Indonesia dan Proyeksi Rupiah

Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan terus melakukan intervensi guna menjaga stabilitas rupiah. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi volatilitas nilai tukar dalam jangka pendek.

Namun, menurut Lukman, sulit untuk memprediksi target rupiah secara pasti karena BI melakukan intervensi secara berkelanjutan.

Dengan mempertimbangkan posisi cadangan devisa yang masih cukup kuat serta dukungan dari Peraturan Pemerintah terkait Devisa Hasil Ekspor (PP DHE), Lukman memperkirakan rupiah akan tetap berada di bawah Rp 17.000 per dolar AS sepanjang tahun ini.

“Akan berfluktuasi di kisaran Rp 16.000. Namun, jika ekonomi global memburuk dan AS terkena resesi, rupiah berpotensi menembus Rp 17.000 hingga Rp 18.000 per dolar AS,” pungkasnya.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan