JAKARTA, BursaNusantara.com – Pasar valuta asing kembali menunjukkan gejolak pada Selasa pagi (18/2/2025) saat nilai tukar rupiah mengalami penurunan.
Di tengah perundingan perdamaian antara Rusia dan Ukraina yang tengah berlangsung, rupiah sempat tertarik ke level Rp16.256 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB menurut data Bloomberg.
Situasi ini muncul setelah perdagangan pada Senin (17/2/2025) ditutup dengan kenaikan sebesar 52 poin (0,32%) mencapai level Rp16.198,5 per dolar AS.
Kinerja Pasar dan Data Terkini
Menurut data pasar spot exchange, rupiah turun 28 poin atau sekitar 0,17% pada Selasa pagi. Sementara itu, indeks dolar tercatat naik 0,33 poin hingga mencapai 106,9.
Imbal hasil obligasi AS 10 tahun juga menunjukkan tren penurunan, tercatat turun 13 poin ke level 4,5%. Angka-angka ini menjadi indikator bahwa pasar sedang merespons berbagai faktor eksternal dan geopolitik yang tengah berlangsung, termasuk harapan terhadap keberhasilan perundingan perdamaian antara Rusia dan Ukraina.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi di kisaran Rp16.150 hingga Rp16.250 per dolar AS. “Rupiah diperkirakan berkonsolidasi dengan potensi menguat terbatas terhadap dolar AS yang masih tertekan oleh harapan pada perundingan untuk perdamaian perang Rusia-Ukraina,” ungkap Lukman.
Prediksi ini mencerminkan sentimen pasar yang cenderung pesimis meski data neraca perdagangan menunjukkan surplus yang lebih besar pada perdagangan Senin, disebabkan oleh impor yang jauh di bawah perkiraan dan permintaan domestik yang lemah.
Prediksi dan Faktor Pendukung
Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar rupiah saat ini meliputi ekspektasi mengenai hasil perundingan perdamaian, kondisi perdagangan internasional, serta sentimen investor terhadap stabilitas ekonomi global.
Meskipun perdagangan Senin menunjukkan surplus yang meningkat, para analis mengindikasikan bahwa surplus tersebut bukan merupakan cerminan dari permintaan domestik yang sehat, melainkan hasil dari impor yang melambat dan ekspor yang belum memenuhi target.
Indeks dolar yang meningkat dan imbal hasil obligasi AS yang turun juga menunjukkan bahwa investor internasional masih berhati-hati dalam mengambil posisi di pasar global.
Kondisi ini, bersama dengan dinamika politik dan ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, menjadi faktor pendukung prediksi bahwa rupiah akan mengalami potensi penguatan yang terbatas dalam waktu dekat.
Perundingan Perdamaian Rusia-Ukraina
Salah satu faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar adalah perundingan perdamaian antara Rusia dan Ukraina. Dalam beberapa hari terakhir, pejabat senior Pemerintah AS dikabarkan akan bertemu dengan pejabat Rusia untuk membahas prospek perdamaian di Ukraina.
Di antaranya, Penasihat Keamanan Nasional AS Mike Waltz, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Utusan Khusus Timur Tengah Steve Witkoff dijadwalkan menuju Arab Saudi untuk pertemuan strategis dengan pejabat senior Rusia.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan kesediaannya untuk segera memulai perundingan guna mengakhiri perang tiga tahun di Ukraina, setelah melakukan pembicaraan intens dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Walaupun detail perundingan masih dalam tahap awal, ekspektasi bahwa kesepakatan perdamaian akan membawa stabilitas di kawasan ini telah mempengaruhi dinamika nilai tukar rupiah.
Pengaruh Ekonomi Domestik
Di sisi domestik, meskipun data neraca perdagangan menunjukkan surplus yang lebih besar, hal tersebut disebabkan oleh penurunan impor dan ekspor yang tidak memenuhi ekspektasi.
Permintaan domestik yang lemah turut mencerminkan bahwa sentimen ekonomi dalam negeri belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini membuat investor cenderung berhati-hati dan memprediksi bahwa penguatan rupiah terhadap dolar AS akan bersifat terbatas dalam jangka pendek.
Analisis pasar menunjukkan bahwa untuk meningkatkan nilai tukar rupiah, diperlukan perbaikan fundamental pada sektor ekspor dan peningkatan permintaan domestik yang lebih stabil.
Sementara itu, perundingan perdamaian di Ukraina dapat menjadi faktor eksternal yang memberikan angin segar jika mencapai kesepakatan yang diharapkan, namun efeknya kemungkinan besar baru akan terasa dalam jangka menengah.
Nilai tukar rupiah saat ini diperkirakan akan berkonsolidasi di kisaran Rp16.150 hingga Rp16.250 per dolar AS, meski terdapat tekanan dari faktor eksternal seperti perundingan perdamaian Rusia-Ukraina dan kondisi ekonomi global yang belum stabil.
Data pasar terbaru menunjukkan bahwa rupiah mengalami penurunan 0,17% pada Selasa pagi, dengan indeks dolar naik dan imbal hasil obligasi AS menunjukkan tren penurunan.
Meskipun surplus perdagangan menunjukkan angka positif, hal tersebut lebih mencerminkan penurunan impor dan ekspor yang lemah, bukan peningkatan permintaan domestik yang signifikan. Dalam konteks ini, para analis tetap berhati-hati dan memprediksi bahwa potensi penguatan rupiah terhadap dolar AS akan terbatas.
Tetap ikuti update dan analisis mendalam seputar nilai tukar serta dinamika ekonomi global hanya di BursaNusantara.com, sumber terpercaya informasi keuangan dan berita ekonomi di Indonesia.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.










