Valuasi INET Meroket 75%: Peluang Emas Saham Rights Issue!
JAKARTA – PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET) telah secara resmi mengumumkan rincian final aksi korporasi Right Issue dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) melalui keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini. Aksi ini menargetkan perolehan dana segar sebesar Rp3,2 Triliun, menjadikannya salah satu right issue terbesar di sektor infrastruktur telekomunikasi tahun ini.
Pengumuman resmi INET ini menegaskan detail penting yang perlu dicermati investor.
Rincian Valuasi dan Dana Segar
Aksi korporasi ini akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 12,8 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham, sesuai dengan data yang telah dikonfirmasi.
| Item | Detail Resmi | Dampak Valuasi |
| Dana Segar (Modal Baru) | Rp3,2 Triliun | Rp12,8 Miliar saham x Rp250 |
| Rasio Right Issue | 3:4 | Penambahan Valuasi Modal Awal ≈75% |
| Harga Pelaksanaan | Rp250 per saham | Lebih tinggi dari harga pasar saat pengumuman |
Dengan rasio 3:4, secara proporsional, total saham baru yang diterbitkan adalah 75% dari jumlah saham lama yang beredar. Ini secara fundamental akan mendongkrak valuasi permodalan perseroan sebesar 75% dari nilai modal awalnya.
Jadwal dan Penggunaan Dana Fokus FTTH
Dana Rp3,2 Triliun yang diperoleh dari Right Issue INET ini akan sepenuhnya diarahkan untuk pengembangan usaha di masa depan. Secara spesifik, INET akan mempercepat pembangunan dan perluasan jaringan FTTH (Fiber to The Home), dengan fokus utama pada daerah pariwisata dan pertumbuhan tinggi, yaitu Bali dan Lombok. Target yang diincar adalah 2 juta pelanggan baru.
Aksi korporasi ini diperkirakan akan memiliki jadwal penting sebagai berikut (perlu cek jadwal final dari prospektus):
- Tanggal Terakhir Perdagangan Saham dengan HMETD (Cum Date): Diperkirakan pada awal hingga pertengahan bulan mendatang.
- Tanggal Pencatatan (Recording Date): Setelah Cum Date.
- Periode Pelaksanaan HMETD: Periode di mana pemegang saham dapat menebus haknya.
Waspada Efek Dilusi ≈57%
Poin krusial bagi investor adalah potensi efek dilusi. Jika pemegang saham lama tidak melaksanakan HMETD-nya (tidak membeli saham baru), persentase kepemilikannya di INET akan terdilusi secara signifikan.
Berdasarkan rasio 3:4, efek dilusi maksimal yang akan dialami oleh investor lama yang tidak berpartisipasi diperkirakan mencapai 57,14% terhadap persentase kepemilikan saham mereka saat ini.
Manajemen INET mengharapkan right issue ini akan memperkuat struktur permodalan perusahaan dan memberikan landasan yang kokoh untuk mencapai target ambisius dalam perluasan infrastruktur digital di Indonesia.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





