JAKARTA, BursaNusantara.com – Saham PT Astra International Tbk (ASII) mengalami pelemahan 2,33% pada perdagangan Jumat (14/3/2025), ditutup di harga Rp 4.620 per lembar. Sepanjang sesi perdagangan, ASII sempat menyentuh Rp 4.610, yang merupakan level terendahnya dalam sepekan.
Sebanyak 35,97 juta lembar saham ASII diperdagangkan dengan frekuensi 11.568 kali, menghasilkan nilai transaksi sebesar Rp 167,19 miliar. Penurunan ini melanjutkan tren negatif sehari sebelumnya, di mana ASII melemah 1,66% pada perdagangan Kamis (13/3/2025).
Valuasi Saham Astra dan Fundamental Perusahaan
Secara valuasi, saham ASII saat ini tergolong murah. Rasio price-to-book value (PBV) berada di level 0,88 kali, sementara price-to-earnings ratio (PER) tercatat sebesar 5,49 kali. Dengan angka tersebut, ASII menawarkan peluang menarik bagi investor yang mencari saham undervalued.
Dari sisi kinerja, Astra International mencatat pertumbuhan laba bersih 0,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 34,05 triliun pada tahun 2024. Laporan NH Korindo Sekuritas mengungkapkan bahwa pencapaian ini sejalan dengan ekspektasi internal mereka dan bahkan melampaui konsensus pasar (97%/102%).
Kinerja Segmen Utama
- Agribisnis dan Keuangan: Kedua segmen ini menjadi motor pertumbuhan utama dengan laba bersih naik masing-masing 9% dan 6% yoy.
- Otomotif: Mengalami penurunan laba bersih sebesar 2% akibat melemahnya permintaan kendaraan.
- HEMCE (Heavy Equipment, Mining, Construction, and Energy): Laba bersih turun 5% yoy karena volume penjualan alat berat Komatsu menurun serta harga batu bara yang terus melemah.
Pasar Otomotif dan Dampak Suku Bunga
Pada tahun 2024, ASII menjual 483 ribu unit kendaraan roda empat (4W), turun 14% yoy. Penurunan ini sejalan dengan pelemahan pasar wholesale otomotif Indonesia. Faktor utama yang mempengaruhi penjualan adalah suku bunga tinggi dan meningkatnya kesulitan dalam mendapatkan pembiayaan kendaraan.
Meski demikian, Astra tetap mempertahankan pangsa pasar sebesar 58%, didukung oleh produk-produk unggulan seperti Toyota dan BMW yang memiliki posisi kuat di pasar.
Prospek Segmen HEMCE dan Batu Bara
Segmen HEMCE mencatat penurunan laba bersih 5% yoy menjadi Rp 12 triliun. Penurunan ini terjadi meskipun terdapat pertumbuhan dalam beberapa indikator operasional:
- Volume penambangan emas naik 32%
- Volume penambangan batu bara meningkat 11%
- Pemindahan lapisan tanah penutup naik 5%
Namun, harga batu bara yang terus melemah menjadi tantangan utama bagi divisi ini. Kebijakan baru dari Kementerian ESDM mengenai Harga Batubara Acuan (HBA) untuk semua ekspor diharapkan dapat menciptakan stabilitas harga yang lebih baik. Sayangnya, kebijakan ini menghadapi penolakan dari beberapa pembeli internasional yang mempertanyakan transparansi dan akurasi HBA dalam mencerminkan harga pasar.
Rekomendasi Saham ASII dan Target Harga
NH Korindo Sekuritas mempertahankan rating OVERWEIGHT untuk saham ASII dengan target harga (target price/TP) sebesar Rp 5.475. Valuasi ini didasarkan pada rasio price-to-earnings (P/E) sebesar 6,23x, setara dengan standar deviasi negatif satu (SD-1) dari rerata tiga tahun terakhir.
Analis NH Korindo menilai bahwa ASII masih memiliki prospek positif, terutama dengan potensi penurunan suku bunga yang dapat menstabilkan pasar otomotif. Selain itu, regulasi HBA yang baru diperkirakan dapat memberikan patokan harga batu bara yang lebih stabil bagi produsen.
Namun, ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan investor, di antaranya:
- Berlanjutnya pelemahan daya beli konsumen.
- Ketidakpastian regulasi harga HBA.
- Kenaikan nilai tukar dolar AS yang dapat berdampak pada biaya impor dan harga kendaraan.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, investor disarankan untuk mencermati perkembangan pasar sebelum mengambil keputusan investasi pada saham ASII.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











