JAKARTA, BursaNusantara.com – Pasar saham Indonesia sedang dalam tren menurun, termasuk saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Namun, menurut Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja, kondisi ini justru bisa menjadi momentum emas bagi investor untuk masuk ke pasar.
Dalam acara Emiten Talk with BBCA yang digelar oleh Stockbit Sekuritas pada Jumat (28/2/2025), Jahja menegaskan bahwa harga saham yang sedang melemah tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental perusahaan yang buruk.
“Kalau kita lihat secara umum, harga-harga saham sedang turun cukup besar. BCA juga termasuk. Tapi ini bisa jadi peluang menarik,” ujar Jahja.
Analisis Saham: Teknikal vs Fundamental
Jahja menjelaskan bahwa ada dua pendekatan utama dalam analisis saham, yaitu teknikal dan fundamental.
1. Pendekatan Teknikal: Bermain di Support dan Resistance
Investor yang menggunakan analisis teknikal lebih fokus pada level support dan resistance.
- Saat harga mencapai support, mereka melihatnya sebagai peluang beli.
- Ketika harga menyentuh resistance, mereka melakukan take profit.
Strategi ini mengandalkan pola pergerakan harga, volume transaksi, serta indikator teknikal lainnya untuk menentukan kapan waktu terbaik membeli atau menjual saham.
2. Pendekatan Fundamental: Menilai Kesehatan Perusahaan
Di sisi lain, investor yang berfokus pada analisis fundamental melihat kondisi keuangan dan bisnis perusahaan secara menyeluruh.
“Kalau turunnya harga saham itu karena fundamentalnya, misalnya NPL (non-performing loan) meningkat tajam, atau strategi pasar yang tidak tepat, maka itu perlu koreksi manajemen,” jelas Jahja.
Investor fundamental lebih memperhatikan:
- Laporan keuangan emiten
- Kinerja manajemen dan strategi bisnis
- Prospek pertumbuhan jangka panjang
- Stabilitas makroekonomi dan faktor global
Menurut Jahja, jika harga saham turun bukan karena fundamental yang buruk, maka kondisi ini bisa menjadi peluang investasi jangka panjang.
Faktor Global dan Makroekonomi Ikut Berperan
Kondisi pasar saham juga dipengaruhi oleh situasi global dan makroekonomi yang tidak bisa dihindari (unavoidable), seperti:
- Kebijakan suku bunga bank sentral (The Fed & BI)
- Geopolitik dan ketidakpastian global
- Inflasi dan pertumbuhan ekonomi
Faktor-faktor ini bisa memicu fluktuasi pasar yang tajam, namun bagi investor jangka panjang, momen pelemahan harga saham bisa menjadi waktu terbaik untuk masuk.
Peluang Investasi: Saatnya Beli Saham BCA?
Jahja Setiaatmadja menegaskan bahwa bagi investor yang memahami fundamental perusahaan, koreksi harga saham justru bisa menjadi peluang.
“Saat harga saham sedang tertekan, ini bisa jadi momentum terbaik untuk beli saham-saham dengan fundamental kuat,” katanya.
BCA dikenal sebagai salah satu bank dengan kinerja keuangan terbaik di Indonesia, dengan profitabilitas tinggi, manajemen solid, dan basis nasabah kuat. Hal ini membuat saham BBCA sering menjadi pilihan utama investor institusional maupun ritel.
Apakah Saat Ini Waktu yang Tepat untuk Investasi?
Bagi investor yang percaya pada fundamental kuat dan prospek jangka panjang, penurunan harga saham bukanlah ancaman, melainkan peluang.
Namun, sebelum membeli saham, investor tetap harus:
- Menganalisis kondisi keuangan perusahaan
- Melihat prospek industri dan ekonomi global
- Menentukan strategi investasi yang sesuai dengan profil risiko
Dengan pendekatan yang tepat, saat-saat seperti ini justru bisa menjadi kesempatan terbaik untuk meraih keuntungan di pasar saham!
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.








