JAKARTA, BursaNusantara.com – Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI kembali memerah, mencatatkan penurunan sebesar 0,49% ke level Rp 4.080 pada perdagangan Senin, 30 Desember 2024. Asing pun mencatatkan net sell saham BBRI sebesar Rp 235 miliar.
Selama periode year to date (ytd), saham BRI mengalami koreksi tajam hingga 28,11%. Bahkan, pada 20 Desember 2024, BBRI sempat menyentuh level terendahnya dalam satu tahun terakhir di Rp 4.050. Meski demikian, sejumlah analis pasar modal tetap optimistis terhadap prospek saham ini dalam jangka panjang.
Valuasi Menarik di Tengah Penurunan
Investment Analyst Lead Stockbit, Rahmanto Tyas Raharja, mengungkapkan bahwa penurunan harga saham BRI saat ini memberikan peluang entry point yang menarik bagi investor jangka panjang. “Valuasi BRI hampir menyentuh level terendahnya dalam 10 tahun terakhir (di luar periode pandemi). Fundamental perusahaan juga menunjukkan perbaikan signifikan dengan dividend yield yang hampir mencapai 8%,” jelasnya.
Meskipun demikian, Rahmanto mengakui bahwa masih sulit untuk memprediksi kapan foreign outflow akan mereda atau kapan valuasi akan mencapai titik terendahnya. Namun, dengan PE rasio hanya sekitar 10,5 kali dan PBV di 1,99 kali pada level harga Rp 4.200 – Rp 4.300, saham BRI dinilai undervalued jika dibandingkan dengan rata-rata historisnya.
Value investor ternama, Rivan Kurniawan, turut memberikan pandangannya dalam video YouTube pada 21 Desember 2024. Ia menyatakan bahwa turunnya harga saham BRI justru memberikan peluang investasi menarik. Menurutnya, pada harga Rp 4.200 hingga Rp 4.300, PE rasio BRI lebih rendah dari rata-rata historis di 15 kali, sementara PBV-nya jauh di bawah rata-rata 2,8 kali.
“Jika harga saham BRI kembali ke PE 15 atau PBV 2,8 kali, maka estimasi harga wajarnya berada di kisaran Rp 6.000. Ini adalah deal yang cukup menarik,” pungkas Rivan.
Dividen BBRI: Daya Tarik bagi Investor
Salah satu daya tarik utama BBRI adalah kebijakan dividennya. Pada tahun buku 2024, BRI akan menebar dividen interim senilai total Rp 20,4 triliun atau Rp 135 per saham. Tanggal daftar pemegang saham yang berhak atas dividen ini adalah 30 Desember 2024, sementara pembayarannya akan dilakukan pada 15 Januari 2025.
Kebijakan dividen yang konsisten ini membuat BBRI tetap menjadi primadona bagi investor yang mencari penghasilan pasif. Dividend yield BRI yang mendekati 8% juga menjadi salah satu yang tertinggi di sektor perbankan Indonesia.
Apa Kata Para Pakar?
Saham BRI menjadi topik hangat di kalangan pelaku pasar modal. Beberapa analis dan influencer investasi di YouTube, seperti Astronacci, Rivan Kurniawan, dan Leon Hartono, turut membahas saham ini. Menurut mereka, meskipun tekanan harga saham masih berlanjut, potensi rebound tetap ada, terutama jika valuasi kembali ke rata-rata historisnya.
Astronacci, misalnya, menyoroti peran sentimen pasar dan arus keluar asing dalam menentukan arah pergerakan saham BBRI. Sementara itu, Leon Hartono menekankan pentingnya melihat fundamental perusahaan secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.
Kesimpulan: Investasi Jangka Panjang Lebih Menjanjikan
Di tengah tekanan harga saham, BBRI tetap menawarkan prospek menarik bagi investor jangka panjang. Valuasi yang rendah, fundamental yang solid, serta kebijakan dividen yang menggiurkan menjadi faktor utama yang membuat saham ini layak dipertimbangkan.
Namun, investor perlu bersabar dan memperhatikan perkembangan sentimen pasar, khususnya arus keluar asing yang masih membayangi. Dengan pendekatan yang tepat, BBRI dapat menjadi investasi yang menguntungkan dalam portofolio jangka panjang.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.






