CDIA dan Dinamika Pasar Saham
JAKARTA, BursaNusantara.com – Saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia pada 9 Juli 2025 tengah mengalami fase koreksi tajam.
Setelah sempat menorehkan rekor tertinggi di Rp 2.100 per saham pada 5 Agustus 2025, harga CDIA kini terkoreksi ke Rp 1.590 atau melemah 2,75% pada sesi I perdagangan Jumat (15/8/2025).
Kondisi ini memunculkan pertanyaan dari pelaku pasar mengenai arah selanjutnya saham CDIA yang merupakan entitas infrastruktur dari PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).
Sebab, ekspektasi besar sempat mengiringi langkah IPO perseroan yang berhasil meraup dana segar Rp 2,37 triliun dengan harga perdana Rp 190 per saham.
Empat Pilar Bisnis yang Jadi Andalan
Dalam prospektus IPO, manajemen menegaskan bahwa CDIA hadir untuk menggarap peluang jangka panjang di sektor infrastruktur.
Perseroan membagi fokus usaha ke dalam empat pilar utama yakni energi, logistik, kepelabuhanan dan penyimpanan, serta air.
Model bisnis ini diposisikan untuk menopang strategi TPIA dalam memperluas ekosistem industri, terutama pada sisi hilir yang membutuhkan infrastruktur pendukung. Dengan begitu, CDIA diharapkan menjadi katalis pertumbuhan baru yang tidak hanya bergantung pada industri petrokimia induknya.
Namun, pasar kini menunggu bukti konkret atas peta jalan tersebut, khususnya dari kinerja keuangan semester I-2025 yang dijadwalkan rilis paling lambat akhir September. Laporan ini akan menjadi indikator awal bagi investor dalam menilai efektivitas ekspansi bisnis.
Sinyal Aksi Korporasi Baru
Prospektus juga membuka kemungkinan bahwa CDIA siap menempuh jalur merger dan akuisisi untuk memperluas kapasitas.
Strategi anorganik ini dinilai penting untuk mempercepat pertumbuhan dibandingkan hanya mengandalkan pembangunan organik yang memakan waktu lebih panjang.
Manajemen menyebut sedang memaksimalkan aset yang ada sambil menyiapkan ruang untuk ekspansi agresif.
Hal ini memicu spekulasi bahwa aksi korporasi baru bisa muncul dalam waktu dekat, apalagi dengan sokongan dana IPO yang masih tersedia untuk investasi strategis.
Ekspansi Logistik Lewat Dua Kapal Baru
Salah satu langkah nyata sudah terlihat melalui penguatan kapabilitas bisnis logistik. CDIA mengumumkan penambahan dua kapal chemical vessel berkapasitas 9.000 DWT yang saat ini dalam tahap pembangunan di Jepang.
Kapal tersebut dirancang untuk mendukung pengangkutan bahan kimia di jalur domestik maupun internasional, sekaligus meningkatkan efisiensi distribusi dalam ekosistem bisnis TPIA.
Kedua armada ini akan berbendera Indonesia dan internasional sehingga fleksibel dalam melayani pasar lokal maupun ekspor.
Menurut rencana, pengoperasian dimulai pada semester I-2026 setelah semua proses konstruksi dan pengujian selesai sesuai standar maritim global. Investasi di sektor logistik ini sekaligus menjadi bukti penggunaan dana IPO yang dialokasikan untuk pembelian kapal.
Pasar Tunggu Bukti Konsistensi
Meski prospek bisnis jangka panjang terlihat menjanjikan, dinamika harga saham CDIA menunjukkan pasar masih berhati-hati. Lonjakan cepat pasca-IPO yang kemudian diikuti koreksi tajam mengindikasikan adanya fase penyesuaian valuasi.
Investor kini menanti bukti konsistensi kinerja keuangan serta kepastian aksi korporasi baru yang dijanjikan. Tanpa realisasi konkret, tekanan jual berpotensi berlanjut meskipun fundamental sektor infrastruktur yang digarap perseroan menawarkan peluang jangka panjang.
Keberhasilan CDIA mengelola ekspansi dan menjaga arus kas akan menjadi faktor penentu apakah sahamnya bisa kembali reli atau justru terjebak dalam fase konsolidasi lebih lama.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.










