Analisis Lonjakan Laba Bersih di Tengah Efisiensi Beban Pokok
JAKARTA, BursaNusantara.com– Para pelaku pasar modal kini dihadapkan pada anomali pertumbuhan laba yang sangat ekstrem, di mana angka keuntungan bersih meroket hingga ribuan persen dalam satu tahun buku saja.
Fenomena ini menuntut ketelitian investor untuk membedah sumber pendapatan perseroan, apakah murni berasal dari produktivitas tambang atau sekadar dampak akuntansi dari aksi korporasi non-kas.
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Kamis (26/3/2026), PT Darma Henwa Tbk (DEWA) membukukan laba bersih fantastis sebesar Rp4,3 triliun sepanjang tahun 2025.
Capaian tersebut mencerminkan kenaikan sekitar 77 kali lipat atau setara 7.690 persen dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp55,2 miliar.
Pendapatan perseroan turut menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 5,97 persen menjadi Rp6,39 triliun, naik dari posisi sebelumnya sebesar Rp6,03 triliun.
Mengapa Negative Goodwill Mendominasi Keuntungan Perseroan?
Meskipun angka laba bersih terlihat masif, riset Stockbit mengungkapkan bahwa lonjakan ini terutama ditopang oleh pengakuan negative goodwill.
Keuntungan non-operasional senilai Rp4,5 triliun tersebut muncul dari hasil akuisisi PT Gayo Mineral Resources (GMR) yang dilakukan oleh perseroan.
Pendapatan akuntansi ini berperan krusial dalam mengimbangi total kerugian sebesar Rp724 miliar yang timbul dari penghapusan piutang, persediaan, hingga hilangnya pengendalian entitas anak.
Kendati demikian, kinerja inti (core profit) Saham DEWA secara operasional tetap menunjukkan perbaikan yang sehat dengan kenaikan 59 persen menjadi Rp910 miliar.
Efisiensi juga terlihat dari beban pokok pendapatan yang berhasil ditekan menjadi Rp5,43 triliun, sehingga mendorong margin laba bruto melesat ke level 15,1 persen.
Bagaimana Prospek Operasional di Proyek KPC Tahun 2026?
Struktur neraca perseroan kini jauh lebih kuat dengan total aset yang melonjak signifikan menjadi Rp16,73 triliun per 31 Desember 2025.
Ekuitas perusahaan meningkat menjadi Rp8,5 triliun, sementara liabilitas tercatat berada pada posisi Rp8,1 triliun pada akhir periode audit tersebut.
Prospek jangka panjang dinilai tetap positif berkat potensi tambahan volume kontrak sekitar 50 juta bcm dari proyek non-Bengalon milik PT Kaltim Prima Coal (KPC).
Selain itu, manajemen telah mengumumkan rencana percepatan pengambilalihan pekerjaan secara in-house di proyek Bengalon KPC yang akan dimulai pada April 2026.
Strategi in-house ini diharapkan menjadi motor penggerak efisiensi lebih lanjut bagi Saham DEWA guna menjaga kesinambungan kinerja operasional di masa mendatang.
Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












