Gurita Bisnis Happy Hapsoro Guncang Bursa 2026: Antara Hujan Dividen dan Risiko Volatilitas
JAKARTA – Awal tahun 2026 menjadi saksi bisu kembalinya dominasi saham-saham yang terafiliasi dengan pengusaha Happy Hapsoro di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Suami dari Ketua DPR RI Puan Maharani ini terus memperkuat cengkeramannya di berbagai sektor, mulai dari energi hingga properti mewah.
Namun, di balik lonjakan harga yang fantastis, membayangi risiko volatilitas tinggi yang patut diwaspadai investor.
Sektor Energi: RAJA Tebar Dividen, RATU Cetak Rekor
Bintang utama dalam portofolio ini adalah PT Rukun Raharja Tbk (RAJA). Per 10 Januari 2026, RAJA mengumumkan pembagian dividen interim yang membuat Happy Hapsoro diprediksi meraup dana segar sekitar Rp 29,8 miliar.
Fokus utama pasar saat ini tertuju pada rampungnya konsolidasi bisnis midstream RAJA ke dalam subholding baru yang dijadwalkan selesai awal tahun ini.
Sementara itu, sang anak usaha, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), mencatatkan performa yang hampir sulit dipercaya.
Sejak melantai di bursa tahun lalu, saham ini telah meroket 647,82%. Meski demikian, BEI sempat menyematkan status Unusual Market Activity (UMA) akibat pergerakan harga yang dianggap tidak wajar.
Kebangkitan Sektor Perhotelan & Properti
Pembalikan kinerja (turnaround story) yang paling mencolok terlihat pada PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA).
Setelah sempat terpuruk, BUVA sukses membukukan laba bersih Rp 81,1 miliar di tahun 2025, didorong oleh keuntungan investasi yang signifikan.
Bersama dengan MINA dan PSKT, saham ini kembali aktif diperdagangkan setelah masa suspensi berakhir.
Di sisi lain, ekspansi ke sektor properti melalui PT Pakuan Tbk (UANG) dan PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) mempertegas strategi Hapsoro untuk menguasai aset-aset bernilai investasi tinggi.
Strategi Exit dan Rebalancing: Kasus SINI
Menariknya, Happy Hapsoro juga menunjukkan kepiawaian dalam melakukan realisasi keuntungan (profit taking).
Pada akhir Desember 2025, melalui perusahaannya, ia melepas sekitar 12% saham PT Singaraja Putra Tbk (SINI), yang diperkirakan menghasilkan dana ratusan miliar rupiah.
Langkah ini dinilai analis sebagai bagian dari strategi penyeimbangan portofolio untuk pendanaan aksi korporasi berikutnya.
Analisis Strategis: Fundamental atau Euforia?
Melihat volatilitas yang begitu ekstrem pada emiten-emiten Hapsoro, analis menyarankan pendekatan yang lebih hati-hati:
- Fokus Fundamental: Perhatikan progres konsolidasi RAJA dan profitabilitas berkelanjutan pada BUVA.
- Manajemen Risiko: Saham-saham ini cenderung sensitif terhadap isu geopolitik (harga minyak) dan sentimen politik domestik.
- Waspada Notasi Khusus: Status UMA atau suspensi sering kali membayangi emiten dengan kenaikan ribuan persen dalam waktu singkat.
Tahun 2026 diprediksi akan terus menjadi tahun yang “panas” bagi ekosistem bisnis Hapsoro.
Bagi Anda pemilik modal, pertanyaannya bukan hanya soal seberapa besar cuan yang bisa diraih, melainkan seberapa kuat jantung Anda menghadapi fluktuasi harga yang liar.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.







