Geser Kebawah
PasarSaham

Saham Rantai Pasok EV global Harga Masih Murah banget Genjot Produksi MHP

53965
×

Saham Rantai Pasok EV global Harga Masih Murah banget Genjot Produksi MHP

Sebarkan artikel ini
Saham Rantai Pasok EV Global Harga Masih Murah Banget Genjot Produksi MHP
Merdeka Battery Materials (MBMA) mulai menjual MHP untuk baterai EV, memperkuat ekosistem kendaraan listrik dan mendorong potensi kenaikan saham.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Kinerja PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), perusahaan nikel dengan cadangan terbesar di Indonesia, diproyeksikan membaik pada tahun 2025. Perbaikan ini didorong oleh masuknya perseroan ke dalam ekosistem kendaraan listrik (EV) serta dimulainya penjualan mixed hydroxide precipitate (MHP), material penting dalam produksi baterai EV.

Masuk ke Rantai Pasok EV

MBMA kini resmi menjadi bagian dari rantai pasok EV global dengan memproduksi MHP. Produk ini merupakan bahan nikel antara yang diolah lebih lanjut menjadi kobalt dan nikel sulfat, komponen utama dalam katoda baterai lithium-ion. Langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap harga saham MBMA yang saat ini masih terdiskon jauh dari nilai wajarnya.

Sponsor
Iklan

Menurut riset Phintraco Sekuritas, kinerja keuangan MBMA pada kuartal III-2025 menunjukkan adanya penurunan pendapatan sebesar 4% secara kuartalan menjadi US$ 458,16 juta. Sementara itu, laba bersihnya turun 61,8% secara kuartalan menjadi US$ 13,78 juta.

Tantangan Produksi dan Efisiensi

Penurunan laba bersih ini disebabkan oleh defisit margin high grade nickel matte (HGNM) yang tercatat sebesar -125,60% QoQ, atau sekitar US$ -469 per ton dibandingkan dengan US$ 1,83 per ton pada kuartal sebelumnya. Dengan total produksi mencapai 12.980 ton, harga jual rata-rata (ASP) produk ini berada di angka US$ 13.350 per ton, sementara biaya produksi menyeluruh (AISC) mencapai US$ 13.830 per ton.

Di sisi lain, produksi nickel pig iron (NPI) dan HGNM mengalami penurunan pada kuartal III-2024 dibandingkan kuartal sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh adanya perbaikan tungku pada salah satu dari dua jalur rotary kiln-electric furnace (RKEF) smelter.

Ekspansi dan Peningkatan Produksi

MBMA terus melakukan eksplorasi pertambangan secara konsisten untuk memenuhi kebutuhan operasional fasilitas high pressure acid leach (HPAL), yang menghasilkan MHP. Kehadiran pabrik HPAL PT ESG New Energy Material dan PT Meiming New Energy Material pada kuartal IV-2024 diproyeksikan dapat meningkatkan agresivitas operasional tambang SCM milik MBMA.

Tambang SCM ditargetkan untuk meningkatkan produksi bijih nikel limonit sebesar 131,25% dari 1,6 juta ton pada tahun sebelumnya menjadi 3,7 juta ton pada kuartal III-2024. Langkah ini dilakukan guna memenuhi permintaan tambahan bijih nikel limonit tahun 2025 yang diperkirakan mencapai 9 juta ton per tahun.

Kinerja Pabrik dan Proyeksi Keuangan

Phintraco mencatat bahwa pabrik acid iron metal (AIM) MBMA telah berhasil memproduksi 164.985 ton asam, 225.036 ton uap, serta menghasilkan first sponge copper pada kuartal IV-2024. Selain itu, pembangunan pabrik logam klorida sedang dalam tahap commissioning, sementara pabrik katoda tembaga telah memasuki tahap akhir konstruksi.

Sejalan dengan itu, dua pabrik HPAL MBMA yang bekerja sama dengan GEM Co Ltd diproyeksikan akan mulai beroperasi optimal pada 2025. Kemajuan ini membuka peluang bagi MBMA untuk memperkuat posisinya di pasar melalui peningkatan kapasitas operasional, akuisisi fasilitas pengolahan nikel, diversifikasi produk, serta pemanfaatan sumber bijih nikel yang melimpah.

Target Harga Saham dan Prospek Bisnis

Phintraco memperkirakan harga wajar saham MBMA berada di angka Rp 525, berdasarkan price to earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV) masing-masing sebesar 32,1 kali dan 2,2 kali. Estimasi ini mencerminkan potensi kenaikan hingga 74% dari harga saham terakhir yang berada di level Rp 302.

Pandangan positif ini didukung oleh ekspektasi tambahan penjualan MHP sebanyak 25 ribu ton, efisiensi biaya, serta optimalisasi operasional pertambangan. Selain itu, MBMA juga berencana melakukan private placement sebesar 10,79 miliar saham untuk memperkuat modal kerja dan mendukung ekspansi bisnisnya.

Namun, potensi risiko tetap ada, termasuk fluktuasi harga nikel global, kemungkinan keterlambatan ekspansi, serta kenaikan royalti nikel yang direncanakan menjadi 15%.

Dengan berbagai langkah strategis yang telah diambil, MBMA optimistis dapat memperkuat kinerja bisnisnya dan meningkatkan daya saing di industri nikel global, terutama dalam mendukung pertumbuhan industri kendaraan listrik di masa mendatang.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.