JAKARTA, BursaNusantara.com – Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mengalami lonjakan signifikan pada perdagangan Kamis (13/3/2025), mencatatkan kenaikan sebesar 9,57% ke level Rp 1.260 per saham. Lonjakan ini terjadi di tengah tingginya minat investor, dengan volume transaksi mencapai 123,44 juta saham dalam 19.166 kali transaksi, senilai Rp 152,63 miliar.
Aksi Beli Asing Dorong Penguatan Saham UNVR
Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan saham UNVR adalah aksi beli oleh investor asing. Data menunjukkan bahwa broker UBS Sekuritas Indonesia mencatatkan pembelian bersih (net buy) saham Unilever Indonesia senilai Rp 46,3 miliar. Secara keseluruhan, investor asing membukukan net buy sebesar Rp 45,5 miliar, mencerminkan optimisme pasar terhadap saham emiten ini.
Dividen Tinggi Jadi Daya Tarik Utama
Phintraco Sekuritas dalam ulasannya pada Jumat (14/3/2025) mengungkapkan bahwa lonjakan harga saham UNVR kemungkinan besar didorong oleh ekspektasi terhadap kebijakan dividen perusahaan. Sejak beberapa tahun terakhir, Unilever Indonesia dikenal dengan dividend payout ratio yang mencapai 100%, menjadikannya saham yang menarik bagi investor yang mencari pendapatan dividen.
Untuk tahun buku 2023, UNVR telah membagikan total dividen sebesar Rp 5,34 triliun atau setara Rp 140 per saham. Sementara itu, laba bersih perusahaan pada tahun tersebut tercatat sebesar Rp 4,8 triliun, dengan saldo laba ditahan mencapai Rp 3,19 triliun. Hal ini menunjukkan komitmen Unilever Indonesia dalam membagikan sebagian besar laba kepada pemegang saham.
Selain itu, laporan RHB Sekuritas menyebutkan bahwa perusahaan memperkirakan distribusi dividen dari pemisahan bisnis es krim akan terealisasi pada akhir 2025 atau awal 2026, yang semakin memperkuat prospek pembagian dividen di masa mendatang.
Kinerja Keuangan UNVR Masih Diuji
Di balik lonjakan sahamnya, kinerja keuangan Unilever Indonesia pada kuartal IV-2024 menunjukkan tantangan besar. Laba bersih perusahaan pada periode ini hanya mencapai Rp 359 miliar, turun 41% secara tahunan (yoy) dan turun 34% secara kuartalan (qoq). Bahkan, angka tersebut lebih rendah dibandingkan laba bersih pada kuartal IV-2023, ketika sentimen boikot terhadap produk tertentu masih tinggi.
Secara keseluruhan, total laba bersih Unilever Indonesia sepanjang 2024 tercatat sebesar Rp 3,4 triliun, mengalami penurunan 30% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini juga lebih rendah dari ekspektasi pasar, hanya memenuhi 90% dari estimasi konsensus tahun 2024.
Prospek Saham UNVR ke Depan
Meskipun kinerja keuangan UNVR mengalami tekanan, daya tarik utama saham ini masih terletak pada kebijakan dividennya yang konsisten. Lonjakan harga saham yang terjadi baru-baru ini menunjukkan bahwa investor masih melihat potensi pertumbuhan jangka panjang, terutama dengan adanya kemungkinan distribusi dividen tambahan dari divestasi bisnis es krim.
Di sisi lain, investor tetap perlu mencermati bagaimana perusahaan menangani tantangan dalam menjaga profitabilitasnya. Jika Unilever Indonesia mampu memperbaiki margin keuntungannya dan mempertahankan kebijakan dividen yang menarik, saham UNVR masih berpotensi menjadi pilihan menarik di pasar saham Indonesia.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












