Saratoga Terkapar Tapi Bertahan: Sinyal Kontras dari Rugi Investasi dan Laba Bersih
JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) menunjukkan dinamika finansial yang kontras sepanjang paruh pertama 2025.
Di tengah tekanan pasar yang menekan portofolio sahamnya, Saratoga justru mencetak laba bersih Rp102,01 miliar hingga Juni.
Situasi ini menggambarkan kontras tajam antara realisasi rugi investasi yang membengkak dengan pencapaian laba bersih yang tidak terduga.
Namun bagi pelaku pasar, kontradiksi ini justru menyimpan peluang menarik di tengah turbulensi investasi sektor riil dan portofolio publik.
Kerugian Portofolio Saratoga Melebar
Saratoga membukukan rugi neto atas investasi saham dan efek lainnya sebesar Rp1,82 triliun di semester I 2025.
Angka itu melebar 32,83% dibanding kerugian Rp1,37 triliun pada semester yang sama tahun sebelumnya.
Aset investasi saham juga terkoreksi dari Rp51,91 triliun menjadi Rp51,09 triliun per Juni 2025.
Artinya, koreksi valuasi portofolio Saratoga terjadi bersamaan dengan volatilitas pasar yang mendominasi semester awal 2025.
Kondisi ini diperburuk oleh performa saham-saham tambang dan infrastruktur yang menjadi mayoritas portofolio perusahaan.
Komposisi Investasi Saratoga: Dominasi Energi & Infrastruktur
Portofolio publik Saratoga menyebar di sejumlah emiten bluechip seperti TBIG (9,13%), MDKA (20,34%), dan ADRO (4%).
Kepemilikan besar juga dimiliki melalui jalur tidak langsung di AADI, baik lewat Adaro Strategic Capital (25%) dan Adaro Strategic Lestari (29,79%).
Saratoga juga menggenggam saham MPMX (56,69%), AGII (10%) dan NRCA (6,97%), yang masuk kategori emiten berkembang.
Nilai investasi terbesar masih tertahan di sektor energi dan pertambangan, yang volatilitasnya sangat sensitif terhadap dinamika harga global.
Kondisi ini memperbesar potensi rugi nilai wajar investasi saat pasar bergerak negatif dalam jangka pendek.
Laba Bersih Saratoga Berasal dari Pendapatan Non-Operasional
Meski menderita rugi investasi jumbo, Saratoga mencatatkan laba bersih Rp102,01 miliar per semester I 2025.
Laba itu terutama ditopang oleh manfaat pajak tangguhan sebesar Rp837,87 miliar yang berhasil dibukukan.
Sebagai perbandingan, pada semester I 2024 Saratoga justru membayar beban pajak tangguhan sebesar Rp350,02 miliar.
Faktor pembalik inilah yang menyelamatkan bottom line Saratoga dari zona rugi ke zona laba.
Pendapatan dividen juga menopang stabilitas arus kas dengan kontribusi mencapai Rp1,26 triliun sepanjang semester pertama.
NAV Saratoga Menguat, Optimisme Masih Terjaga
Nilai aset bersih alias net asset value (NAV) Saratoga per Juni 2025 tercatat Rp53,99 triliun.
Kenaikan NAV ini menjadi sinyal bahwa secara nilai intrinsik, perusahaan tidak mengalami degradasi fundamental.
Peningkatan NAV juga menjadi dasar keyakinan Saratoga untuk tetap agresif pada sektor strategis jangka panjang.
Manajemen menyebut akan fokus pada sektor kesehatan, digital, energi hijau, dan konsumsi masyarakat ke depan.
Langkah ini menunjukkan upaya rekalibrasi portofolio ke arah sektor yang lebih resilient dan berprospek pertumbuhan berkelanjutan.
Analis: Rugi Bukan Masalah, Prospek SRTG Masih Cerah
Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset menilai rugi investasi Saratoga masih wajar karena dampak volatilitas pasar.
Menurutnya, faktor historis menunjukkan pasar saham cenderung menguat pada Agustus dan November-Desember.
Itu sebabnya ia tetap merekomendasikan maintain buy untuk SRTG dengan target harga Rp2.220 per saham.
Indy Naila dari Edvisor Profina menyebut dividen dari ADRO, MPMX, dan MDKA menjadi bantalan arus kas dan valuasi SRTG.
Namun ia menekankan bahwa SRTG masih harus membuktikan perbaikan kinerja portofolio agar bisa keluar dari tekanan PER negatif.
Sinyal Pemulihan Sektor Portofolio Saratoga di Semester II
Prospek pemulihan kinerja SRTG di semester II ditopang sejumlah katalis.
Pertama, pemulihan harga emas global diprediksi mendorong performa MDKA yang jadi tulang punggung portofolio.
Kedua, potensi penurunan suku bunga BI akan menguntungkan emiten infrastruktur digital seperti TBIG.
Ketiga, potensi realized gain dari saham-saham undervalue seperti MPMX bisa mengangkat nilai portofolio.
Namun, rekomendasi wait and see tetap dilayangkan Indy, mengingat kinerja kuartalan belum konsisten membaik.
Dari sisi valuasi, PER negatif Saratoga masih menjadi pengganjal untuk masuk sebagai posisi jangka pendek.
Saratoga dalam Mode Bertahan, Bukan Menyerah
Kinerja semester I Saratoga mencerminkan dinamika perusahaan investasi yang tengah menghadapi tekanan valuasi pasar.
Namun, kemampuan membalikkan rugi ke laba bersih dan menjaga NAV tetap tumbuh memperlihatkan fundamental yang belum goyah.
Dengan arus dividen yang stabil dan strategi sektor yang prospektif, SRTG masih menyimpan daya tarik bagi investor sabar.
Rekomendasi analis untuk tetap beli menjadi sinyal bahwa pasar belum kehilangan kepercayaan terhadap portofolio konglomerasi ini.
Jika katalis makro mendukung dan emiten portofolio pulih sesuai harapan, harga saham SRTG berpeluang merefleksikan nilainya kembali.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












