JAKARTA, BursaNusantara.com – Antusiasme terhadap Surat Berharga Negara (SBN) ritel sepanjang tahun 2025 terus menunjukkan tren yang positif. Pemerintah, melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, telah merilis dua seri awal SBN ritel dengan hasil pemesanan yang mengesankan.
ORI027 memecahkan rekor sepanjang sejarah dengan nilai pemesanan mencapai Rp37,4 triliun, sementara ST014 yang baru saja selesai ditawarkan, mencatat total pemesanan sebesar Rp23,35 triliun. Keduanya membuktikan bahwa instrumen investasi ritel negara tetap menjadi primadona di tengah ketidakpastian ekonomi global.
SR022 Disiapkan sebagai Seri Berikutnya
Sebagai kelanjutan dari rangkaian penerbitan SBN ritel 2025, DJPPR berencana menawarkan Sukuk Ritel (SR) seri SR022 dengan masa penawaran tentatif mulai 16 Mei hingga 8 Juni 2025. Informasi ini disampaikan melalui akun resmi DJPPR di Instagram.
Menurut Ahmad Nasrudin, analis Pefindo, momentum pasar yang masih diliputi kehati-hatian justru mendorong investor ritel beralih ke instrumen berisiko rendah seperti surat utang negara.
“Peluang SR022 tetap besar karena investor mencari opsi aman di tengah potensi fluktuasi geopolitik dan ketegangan perdagangan global,” ungkap Ahmad, Minggu (20/4).
Yield Diprediksi Kompetitif di Tengah Penundaan Tarif AS
Ahmad menyebut, perkiraan yield untuk SR022 kemungkinan berada di kisaran 6,5%–6,7% untuk tenor 3 tahun dan 6,6%–6,8% untuk tenor 5 tahun. Ini mengacu pada kondisi pasar saat ini yang relatif stabil usai Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan tarif impor tambahan selama 90 hari, kecuali terhadap China.
Namun, ia juga menyoroti risiko menjelang batas akhir penundaan tarif pada Juni 2025, yang bisa meningkatkan tekanan pasar dan menyebabkan yield naik. Bila itu terjadi, SR022 bisa tampak kurang atraktif dibanding seri obligasi konvensional seperti FR dan PBS.
Daya Tarik Kupon Bulanan SR022
Meski potensi kompetisi yield terbuka, SR022 tetap memiliki keunggulan signifikan dibanding instrumen obligasi lainnya, yakni pembayaran kupon secara bulanan, bukan semesteran seperti pada FR atau PBS.
“Bagi investor yang mengejar arus kas rutin dan stabil, SR022 adalah pilihan ideal. Ini jadi pembeda yang kuat,” tambah Ahmad.
Ia juga memperkirakan bahwa pemerintah kemungkinan akan menaikkan target penghimpunan dana SR022 seiring meningkatnya kebutuhan pembiayaan negara. Hingga akhir Maret 2025, tercatat defisit APBN mencapai Rp104,2 triliun, atau 0,43% dari PDB. Ini berbanding terbalik dengan posisi tahun lalu yang masih mencatat surplus.
Strategi Penerbitan Dilakukan Pruden dan Fleksibel
Direktur DJPPR Tony Priyanto menegaskan bahwa strategi penerbitan SBN ritel tetap dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan fleksibilitas. Faktor-faktor seperti waktu penawaran, ukuran emisi, jenis instrumen, hingga komposisi mata uang akan menjadi pertimbangan utama.
“Informasi lengkap SR022 akan disampaikan pada waktu yang tepat, menyesuaikan dengan perkembangan pasar dan kebutuhan pembiayaan negara,” jelas Tony.
SBN Ritel Tetap Unggul Dibanding Deposito
Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, turut menilai bahwa potensi SBN ritel tetap tinggi. Yield SBN ritel saat ini jauh lebih menarik dibandingkan instrumen seperti deposito.
“Kalau dibandingkan 4–5 tahun lalu, bunga SBN ritel sekarang sudah sangat kompetitif. Itu nilai jual utamanya,” ujar Ramdhan.
Namun, ia mengingatkan bahwa investor tetap perlu memantau kondisi pasar obligasi global dan domestik, karena pergerakan yield sangat bergantung pada fluktuasi tersebut. Ia memproyeksikan yield SR022 akan berada di kisaran 6,7%–6,75%, cukup menarik meski belum tentu menjadi yang tertinggi di pasar.
Dengan dukungan keunggulan struktural dan sentimen positif investor, SR022 diperkirakan akan kembali mencetak angka pemesanan yang kuat. Apalagi di tengah situasi global yang belum stabil, minat terhadap instrumen pendapatan tetap seperti SBN ritel masih akan bertahan tinggi.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












