Geser Kebawah
BankKeuangan

SDRA Genjot NIM di Tengah Tekanan, Kredit Ditahan Demi Risiko

204
×

SDRA Genjot NIM di Tengah Tekanan, Kredit Ditahan Demi Risiko

Sebarkan artikel ini
Bank Woori Saudara (SDRA) naikkan NIM dan laba operasional meski kredit stagnan, bukti strategi konservatif dan likuiditas induk efektif.

SDRA Prioritaskan Risiko, Siap Tancap Gas Saat Ekonomi Pulih

JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA) menjaga profitabilitas stabil meski laju kredit tertahan dan tekanan ekonomi belum mereda.

Pendapatan bunga bersih tumbuh 4,1% menjadi Rp 871,02 miliar, terdorong oleh penurunan beban bunga sebesar 4,86%.

Sponsor
Iklan

Kondisi ini membuat net interest margin (NIM) SDRA naik ke level 3,29% pada semester I-2025.

Pendapatan bunga total tetap di kisaran Rp 1,98 triliun, menunjukkan tekanan margin mampu diatasi lewat efisiensi pendanaan.

Strategi ini menegaskan fokus manajemen pada penguatan struktur biaya dan pengendalian risiko.

Laba Operasional Naik, Tapi SDRA Perbesar Pencadangan

Pendapatan non-bunga SDRA sebesar Rp 111,9 miliar berasal dari fee-based income dan transaksi derivatif.

Secara keseluruhan, total pendapatan operasional naik dan menghasilkan PPOP Rp 240,85 miliar.

Namun manajemen memilih meningkatkan pencadangan menjadi Rp 130,74 miliar untuk meredam risiko aset bermasalah.

Laba bersih SDRA tercatat Rp 82,67 miliar, tetap positif meski ditekan pencadangan tinggi.

Analis Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, menilai kebijakan ini sebagai cermin manajemen risiko sehat.

Cadangan ini bisa menjadi tambahan laba saat tekanan ekonomi mereda dan kualitas aset membaik.

Kredit Stagnan, Tapi Strategi Bertahan Dinilai Rasional

Penyaluran kredit SDRA ke pihak ketiga stagnan di angka Rp 46,88 triliun pada Juni 2025.

Aditya menilai langkah konservatif ini penting agar rasio kredit bermasalah tetap rendah saat permintaan belum pulih.

Jika kredit dipaksakan tumbuh di tengah tekanan, NPL bisa meningkat dan menggerus laba.

Rasio NPL bruto SDRA hanya 2,39% dan neto 1,57%, jauh di bawah ambang batas OJK.

Kualitas aset terjaga justru membuka peluang ekspansi yang lebih sehat ketika ekonomi membaik.

Keseimbangan ini menjadi keunggulan SDRA dibanding bank lain yang terlalu agresif di masa sulit.

Dukungan Induk Perkuat Likuiditas dan Biaya Dana

Dana pihak ketiga (DPK) SDRA tercatat Rp 26,83 triliun, turun tipis namun likuiditas tetap terjaga.

Keunggulan utama SDRA adalah akses dana murah dari induk usaha yang berbasis internasional.

Keistimewaan ini memberi daya saing signifikan di tengah tren kenaikan biaya dana industri perbankan.

Tidak semua bank punya privilege struktur modal dan dana seperti SDRA.

Ini membuat SDRA punya ruang strategi lebih fleksibel saat tekanan bunga pasar meningkat.

Struktur Modal dan Aset SDRA Tetap Kuat

Rasio kecukupan modal (CAR) SDRA mencapai 31,11%, jauh di atas ketentuan minimum regulator.

Total aset bank mencapai Rp 58,28 triliun per akhir Juni 2025, mencerminkan struktur pertumbuhan sehat.

Rasio keuangan yang solid ini menjadi fondasi penting untuk menyambut pemulihan ekonomi paruh kedua tahun ini.

SDRA disebut berada di posisi ideal untuk ekspansi terukur jika sinyal pemulihan makin nyata.

Aditya memperkirakan SDRA akan lebih agresif pada semester II dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian.

Langkah ini memberi keunggulan jangka panjang di tengah fluktuasi kondisi pasar dan ketatnya kompetisi bank menengah.

SDRA tak hanya bertahan, tapi siap melaju saat waktunya tiba.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.