Geser Kebawah
Internasional

Serangan Iran dan Selat Hormuz: Ancaman Energi ke Eropa

52
×

Serangan Iran dan Selat Hormuz: Ancaman Energi ke Eropa

Sebarkan artikel ini
Serangan Iran dan Selat Hormuz Ancaman Energi ke Eropa
Operasi militer AS ke Iran diduga bagian dari strategi menekan Uni Eropa lewat risiko blokade Selat Hormuz yang vital bagi energi global.

Serangan AS dan Krisis Energi Global

JAKARTA, BursaNusantara.com – Serangan udara mendadak Amerika Serikat terhadap Iran pada malam 21–22 Juni 2025, yang dinamai Operasi Midnight Hammer, mengguncang tiga fasilitas nuklir strategis: Fordow, Natanz, dan Isfahan.

Operasi ini bukan hanya soal ketegangan dua negara, melainkan bagian dari skema geopolitik energi global yang menjadikan Uni Eropa sebagai target tekanan tersembunyi.

Sponsor
Iklan

Isu ini menjadi sangat krusial ketika dikaitkan dengan Selat Hormuz titik sempit yang menjadi jalur utama minyak dunia dan kini berada di ambang risiko blokade penuh.

Selat Hormuz: Jalur Energi Dunia dalam Ancaman

Selat Hormuz hanya selebar 33 kilometer, tetapi menjadi tulang punggung distribusi hidrokarbon global yang mencapai 21 juta barel per hari.

Nilai perdagangan minyak yang melewati jalur ini diperkirakan mencapai lebih dari USD 1 triliun per tahun, dengan harga rata-rata minyak mentah global berkisar USD 80–100 per barel.

Negara pengirim utama melalui selat ini meliputi Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Irak.

Negara tujuan dominan ekspor energi Teluk antara lain Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan, dan kini Eropa yang menjadi pasar tumbuh pasca embargo terhadap Rusia.

Kondisi ini menempatkan Selat Hormuz sebagai urat nadi stabilitas energi Eropa, menjadikannya target strategis dalam konflik terkini.

Strategi Terselubung Amerika: Serang Iran, Tekan Eropa

Serangan ke fasilitas nuklir Iran tampak seperti manuver militer terbatas, namun diduga menyimpan niat politis yang jauh lebih kompleks.

AS menunjukkan dominasi militer dan intelijen, memperingatkan bahwa Iran tak bisa melawan tanpa risiko kehancuran ekonominya sendiri.

Pesan tak langsung pun mengarah ke Eropa: jika Teluk Persia terganggu, pasokan energi mereka bergantung sepenuhnya pada goodwill Amerika.

Dengan hilangnya Rusia sebagai sumber energi, Uni Eropa telah berpaling ke Timur Tengah, terutama Saudi, UEA, dan Qatar.

Namun, jika Selat Hormuz diblokir oleh Iran sebagai aksi balasan, Uni Eropa akan kembali terjerumus dalam krisis energi berat.

Eropa Terjepit: Energi, Inflasi, dan Tekanan Ukraina

Eropa sangat rentan terhadap skenario blokade Selat Hormuz, yang dapat mengakibatkan gelombang inflasi baru dan kelangkaan energi lintas sektor.

Produktivitas industri akan terpukul keras akibat lonjakan harga minyak dan gas hingga dua atau tiga kali lipat.

Situasi ini berisiko melemahkan komitmen bantuan militer ke Ukraina, membuka celah baru bagi dominasi Rusia di Eropa Timur.

Washington tampaknya ingin memaksa Eropa mengurangi dukungan militernya ke Kiev agar segera masuk ke meja perundingan.

Dengan cara ini, tekanan energi bukan hanya soal ekonomi, tetapi instrumen strategis untuk mengatur ulang posisi geopolitik Eropa.

Tiongkok dan Rusia: Kartu Diplomasi Washington

Dalam permainan ini, Tiongkok menjadi faktor penting lainnya karena mengimpor sekitar 30% minyak Teluk Persia.

Jika pasokan terganggu, Beijing akan meningkatkan impor dari Rusia, mempererat hubungan keduanya dalam poros anti-Barat.

AS dapat memanfaatkan kedekatan ini untuk membangun narasi baru di panggung diplomatik global tentang poros Beijing–Moskow.

Washington juga mengincar keuntungan strategis di kawasan Asia dengan membuat Tiongkok memilih antara stabilitas ekonomi atau risiko reputasi global.

Oleh karena itu, serangan terhadap Iran bukan hanya simbol kekuatan, tetapi juga instrumen pemetaan ulang pengaruh politik di Asia dan Eropa.

Operasi Midnight Hammer: Lebih dari Sekadar Serangan Militer

AS tampaknya ingin menyampaikan pesan global: “Kami bisa menyerang dengan presisi kapan pun kami mau.”

Operasi ini menjadi uji coba unjuk kekuatan militer tanpa eskalasi penuh, sebagai bentuk intimidasi terstruktur terhadap musuh dan sekutu sekaligus.

Dalam konteks ini, Iran hanyalah medan eksperimen, sementara target sesungguhnya adalah jaringan stabilitas energi global.

Tujuan lebih besarnya adalah menggiring Eropa agar bergantung total pada energi Amerika Serikat, dari LNG hingga cadangan strategis.

Dengan cara ini, pemerintahan Trump mendapatkan kembali pengaruh yang hilang atas mitra NATO, sekaligus memperluas pengaruh ekonomi domestik dalam ekspor energi.

Risiko Blokade Selat Hormuz: Eropa Jadi Pion, Bukan Pemain

Krisis ini memaksa Eropa menjadi penonton dalam konflik global yang terus membesar.

Tanpa Selat Hormuz, jalur pasokan utama terakhir Eropa akan tertutup, dan ketergantungan terhadap AS menjadi mutlak.

Tanpa kepemimpinan energi yang otonom, Uni Eropa berisiko kehilangan kontrol geopolitik dan kekuatan diplomatik di panggung internasional.

Ketika kekuatan dunia bergerak dalam logika dominasi energi dan militer, posisi Eropa kian terjepit sebagai pion dalam peta besar kekuasaan global.

Serangan ke Iran mungkin tampak seperti babak baru konflik Timur Tengah, tetapi sesungguhnya ini adalah langkah catur tingkat tinggi dalam geopolitik energi global.

Tinggalkan Balasan