JAKARTA, BursaNusantara.com – Bank Indonesia (BI) tengah menghadapi tekanan dilematik antara kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Keputusan moneter kini tak bisa hanya berpijak pada kondisi domestik, tetapi juga harus mencermati dinamika global yang penuh ketidakpastian.
BI masih mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75% meskipun inflasi telah terkendali di level 1,95% year-on-year per April 2025.
Stabilitas nilai tukar rupiah serta antisipasi terhadap arah kebijakan Federal Reserve dan tensi perang dagang menjadi alasan utama.
Baca Juga: BI Dihadapkan Dilema: Ruang Penurunan Suku Bunga Kian Terbatas
Kondisi Eksternal Tahan Pelonggaran Moneter
Menurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, BI sebenarnya sudah berada pada titik yang tepat untuk mulai berpikir tentang stimulus terhadap perekonomian.
Namun, ruang untuk menurunkan suku bunga sangat terbatas dalam waktu dekat karena tekanan eksternal belum mereda.
BI perlu menjaga daya saing aset domestik serta memastikan arus modal tidak keluar. Fluktuasi nilai tukar yang masih dinamis mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter konvensional seperti pemangkasan suku bunga.
Sinyal Lemahnya Permintaan Domestik
Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2025 tercatat hanya 4,87% secara tahunan, menjadi yang terendah sejak kuartal III 2024. Kinerja ini mencerminkan lemahnya permintaan domestik yang selama ini menjadi motor utama perekonomian nasional.
Konsumsi rumah tangga, yang biasanya kuat saat Ramadan, hanya tumbuh 4,89%. Sementara itu, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) terperosok hingga 2,12%. Dunia usaha pun masih cenderung menunggu, dipengaruhi oleh ketidakpastian global dan suku bunga tinggi.
Strategi Alternatif Dorong Ekonomi
Meski suku bunga belum bisa diturunkan, Josua menyebut BI masih memiliki berbagai instrumen untuk mendukung pertumbuhan.
Salah satunya melalui operasi moneter pro-pasar seperti penerbitan SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia), SVBI (Sekuritas Valas BI), dan SUVBI (Sekuritas Utang Valas BI) untuk menjaga stabilitas pasar valas dan SBN.
Selain itu, pelonggaran kebijakan makroprudensial juga bisa dilakukan. BI dapat meningkatkan insentif kredit melalui relaksasi loan to value (LTV) untuk KPR, kendaraan bermotor, hingga pembiayaan sektor produktif.
Instrumen stabilisasi nilai tukar melalui skema triple intervention dan penguatan diplomasi kebijakan eksternal juga dapat dimaksimalkan untuk menjaga persepsi pasar.
Sektor Prioritas dan Insentif Hijau
Dalam upaya mendorong aktivitas ekonomi, BI juga bisa mengarahkan kebijakan ke sektor padat karya seperti pertanian, perdagangan, dan manufaktur.
Penyaluran kredit bisa ditingkatkan melalui insentif giro wajib minimum (GWM) dan kebijakan makroprudensial hijau yang pro-lingkungan.
Dengan pendekatan ini, likuiditas diarahkan ke sektor-sektor yang memiliki efek berganda terhadap penciptaan lapangan kerja dan penggerak konsumsi.
Skenario Jika Ketidakpastian Mereda
Jika tekanan eksternal mulai mereda, arah kebijakan moneter berpotensi menjadi lebih longgar. Josua memproyeksikan pelonggaran bisa dilakukan ketika The Fed mulai menurunkan suku bunga atau ketika tensi perdagangan global mereda.
Dalam skenario tersebut, BI memiliki peluang untuk lebih agresif dalam menopang pertumbuhan ekonomi, termasuk melalui kebijakan suku bunga.
Pandangan dari Kalangan Perbankan
Sementara itu, Kepala Ekonom BCA David Sumual menilai bahwa BI memang memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan, namun langkah tersebut sangat bergantung pada stabilitas eksternal, terutama perang dagang dan dampaknya terhadap nilai tukar rupiah.
David juga menekankan pentingnya peran kebijakan fiskal dalam mempercepat pemulihan ekonomi. Realisasi program flagship pemerintah dan penguatan kebijakan makroprudensial disebut sebagai kunci pelengkap dari kebijakan moneter.
Dalam bayang-bayang ketidakpastian global dan tekanan nilai tukar, arah kebijakan BI kini berada di titik krusial: menjaga keseimbangan antara stabilitas dan keberlanjutan pertumbuhan menjadi langkah yang tak bisa ditawar lagi.










