Hilirisasi Batu Bara: Peran Strategis Pembiayaan Nasional
JAKARTA, BursaNusantara.com – Program hilirisasi batu bara di Indonesia terus menunjukkan perkembangan signifikan. Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
Salah satu terobosan penting adalah dukungan pembiayaan dari perbankan dan lembaga keuangan nonbank nasional, sebagaimana diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2025 yang ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto.
Dukungan Keppres 1/2025: Momentum Baru untuk Hilirisasi
Keppres tersebut memberikan mandat kepada Satuan Tugas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi untuk mengidentifikasi proyek strategis yang layak mendapatkan pembiayaan.
Langkah ini menjadi solusi konkret atas sulitnya mendapatkan pendanaan dari lembaga keuangan internasional yang cenderung menghindari proyek berbasis batu bara karena alasan lingkungan.
Menurut Gita Mahyarani, Plt Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI), dukungan pendanaan domestik sangat penting. “Sejauh ini, proyek berbasis batu bara sulit mendapatkan financing. Namun, dengan adanya perbankan nasional, tantangan tersebut dapat diatasi,” ujar Gita.
Tantangan Keekonomian dan Teknologi
Meski demikian, proyek hilirisasi masih menghadapi tantangan besar, terutama terkait keekonomian dan teknologi. Salah satu proyek yang menjadi sorotan adalah gasifikasi batu bara menjadi dimetil eter (DME). Proyek yang awalnya melibatkan Air Product, investor asal Amerika Serikat, mengalami stagnasi setelah pihak investor mengundurkan diri.
Gita menyebutkan bahwa proyek DME membutuhkan kajian mendalam. “Keekonomian menjadi faktor krusial, terutama jika dibandingkan dengan harga gas bumi,” jelasnya. Hal ini juga diakui oleh Direktur Portofolio dan Pengembangan Usaha MIND ID, Dilo Seno Widagdo, yang menekankan bahwa kelayakan ekonomi menjadi kunci utama keberlanjutan proyek.
Peluang Baru: Gasifikasi dan Konversi Bahan Baku Baterai
Selain DME, program hilirisasi juga melibatkan konversi batu bara menjadi metanol dan bahan baku baterai kendaraan listrik. Proyek ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah signifikan bagi perekonomian nasional. PT Bukit Asam Tbk (PTBA), sebagai bagian dari holding BUMN MIND ID, menjadi pemain utama dalam program ini.
Gasifikasi batu bara menghasilkan metanol dengan kandungan setara gas bumi (C1H4), yang permintaannya cukup tinggi di pasar domestik maupun internasional. “Jika harga gas bumi lebih tinggi dibandingkan hasil gasifikasi, proyek ini dapat menjadi alternatif yang ekonomis,” tambah Dilo.
Peran Perbankan Nasional: Solusi Pendanaan Berkelanjutan
Dalam konteks pendanaan, keberadaan perbankan nasional menjadi kunci untuk memastikan keberlanjutan proyek hilirisasi. Sumber daya batu bara Indonesia yang mencapai 97,29 miliar ton, dengan cadangan sebesar 31,71 miliar ton, memberikan potensi besar untuk pengembangan hilirisasi. Namun, keberhasilan program ini bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga keuangan domestik.
Potensi dan Sebaran Sumber Daya Batu Bara di Indonesia
Indonesia memiliki kekayaan batu bara yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan. Sebagian besar cadangan merupakan batu bara kualitas rendah yang cocok untuk program hilirisasi. Optimalisasi sumber daya ini tidak hanya memberikan nilai tambah tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan negara.
Masa Depan Hilirisasi Batu Bara
Dengan dukungan kebijakan strategis dan pendanaan nasional, masa depan hilirisasi batu bara di Indonesia tampak cerah. Pemerintah menargetkan program ini mulai berproduksi pada 2030, seiring dengan uji kelayakan yang sedang dilakukan oleh enam perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).
Melalui hilirisasi, Indonesia tidak hanya meningkatkan nilai tambah batu bara tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan perbankan nasional menjadi kunci utama untuk mewujudkan visi besar ini.











