Danantara Proyeksikan Akselerasi PMDN 2026, Bidik Hilirisasi Boksit US$ 2,8 Miliar
JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menargetkan peningkatan signifikan pada realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) untuk tahun anggaran 2026.
Kepala BPI Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa lembaga ini akan menjadi katalis utama dalam menggerakkan sektor-sektor strategis di tengah perlambatan tren Penanaman Modal Asing (PMA) global.
Dalam keterangannya, Rosan Roeslani mengungkapkan bahwa strategi investasi 2026 akan difokuskan pada penguatan hilirisasi industri dan optimalisasi aset domestik.
Danantara diproyeksikan mampu meningkatkan laju pertumbuhan investasi dalam negeri sebesar 50% lebih cepat dibandingkan periode sebelumnya melalui skema kolaborasi strategis antara pemerintah dan dunia usaha.
Fokus Strategis: Hilirisasi Boksit dan Energi Hijau
Peta jalan investasi yang disusun oleh Rosan Roeslani menempatkan sektor pertambangan dan energi terbarukan sebagai prioritas utama.
Salah satu proyek mercusuar yang dibidik Danantara adalah pengembangan hilirisasi boksit menjadi alumina dan aluminium di Kalimantan Barat dengan nilai investasi mencapai US$ 2,8 miliar.
Selain boksit, Danantara juga mengawal realisasi proyek Waste to Energy (pengolahan sampah menjadi energi) yang dijadwalkan memulai fase konstruksi pada Maret 2026.
Dalam proyek ini, Danantara menerapkan kebijakan wajib kemitraan, di mana investor asing diharuskan menggandeng entitas lokal dengan porsi kepemilikan domestik minimal 30% guna memastikan terjadinya transfer teknologi.
Restrukturisasi Sektor Tekstil dan Padat Karya
Guna memitigasi risiko deindustrialisasi, Rosan Roeslani mengonfirmasi rencana Danantara untuk melakukan intervensi pada sektor tekstil.
Fokus utamanya adalah restrukturisasi distressed assets melalui skema permodalan baru maupun perbaikan tata kelola pasar.
Langkah ini diambil mengingat sektor tekstil memiliki multiplier effect yang tinggi terhadap penyerapan tenaga kerja.
Rosan Roeslani menegaskan bahwa Danantara memiliki parameter investasi yang fleksibel untuk sektor padat karya, di mana aspek penciptaan lapangan kerja menjadi bobot penilaian utama selain imbal hasil finansial (return).
Persaingan Regional dan Mitigasi Risiko
Di sektor teknologi, Indonesia melalui Danantara terus memperkuat daya saing terhadap Malaysia dan Thailand dalam memperebutkan investasi pusat data (Data Center).
Rosan Roeslani mengandalkan keunggulan biaya listrik kompetitif dan stabilitas makroekonomi nasional sebagai insentif utama bagi investor global.
Menghadapi volatilitas nilai tukar dan tensi geopolitik, Rosan Roeslani memastikan bahwa Danantara aktif melakukan mitigasi risiko melalui perbaikan regulasi.
Upaya ini bertujuan untuk menekan tingkat ketidakpastian (uncertainty) bagi para pemodal yang ingin masuk ke pasar Indonesia di tahun 2026.
Analisis Pasar: Realisasi proyek di bawah bendera Danantara ini diprediksi akan memperkuat posisi likuiditas pasar modal domestik seiring dengan meningkatnya keterlibatan perusahaan lokal dalam rantai pasok global.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












