Geser Kebawah
BisnisPerdagangan & Industri

Suasana Haru Perpisahan Bos Sritex Terima Kasih ke Karyawan

110
×

Suasana Haru Perpisahan Bos Sritex Terima Kasih ke Karyawan

Sebarkan artikel ini
Suasana Haru Perpisahan Bos Sritex Terima Kasih ke Karyawan
Sritex resmi menutup operasional per 1 Maret 2025. Komisaris Utama menyampaikan terima kasih kepada karyawan dan memastikan hak pekerja tetap diperjuangkan.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Industri tekstil Indonesia kehilangan salah satu pemain besarnya. PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) resmi menghentikan seluruh operasionalnya secara permanen per 1 Maret 2025.

Keputusan ini diumumkan setelah hasil Rapat Kreditur dalam proses kepailitan Sritex Grup di Pengadilan Niaga Semarang pada Jumat (28/2). Meskipun tidak sesuai dengan harapan perusahaan, manajemen Sritex menerima putusan tersebut dan menegaskan akan terus mengawal hak para karyawan.

Sponsor
Iklan

Bos Sritex: “Kami Berduka, Kami Mohon Maaf”

Komisaris Utama dan Presiden Direktur Sritex, Iwan Kurniawan (Wawan) Lukminto, menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh karyawan atas penutupan ini.

“Sritex berduka, kami berduka. Kami mohon maaf karena tidak mampu memperjuangkan keinginan karyawan agar dapat tetap bekerja kembali di Sritex,” ujar Wawan dalam keterangan resminya, Jumat (1/3).

Meski begitu, Wawan memastikan bahwa pihak manajemen akan tetap berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan agar proses kepailitan berjalan lancar dan hak karyawan dapat terpenuhi.

Penyebab Sritex Harus Gulung Tikar

Keputusan penutupan permanen ini menjadi pukulan berat bagi industri tekstil dalam negeri. Beberapa faktor utama yang menyebabkan kebangkrutan Sritex antara lain:

1. Beban Utang yang Menumpuk

Sritex mengalami kesulitan likuiditas akibat utang yang terus membengkak. Restrukturisasi utang tidak mampu menyelamatkan perusahaan dari kondisi keuangan yang semakin kritis.

2. Persaingan Global yang Ketat

Industri tekstil menghadapi persaingan ketat dengan produk impor, terutama dari China dan Vietnam yang menawarkan harga lebih murah.

3. Dampak Pandemi dan Penurunan Permintaan

Sejak pandemi COVID-19, permintaan terhadap produk tekstil Sritex mengalami penurunan drastis, yang membuat arus kas perusahaan terganggu.

4. Perubahan Tren Industri

Perubahan tren fashion dan beralihnya banyak produsen ke bahan yang lebih ramah lingkungan membuat produk Sritex semakin kurang diminati di pasar global.

Nasib Karyawan Sritex Pasca Penutupan

Dengan penutupan ini, ribuan karyawan Sritex terancam kehilangan pekerjaan. Untuk memastikan hak-hak mereka tetap terpenuhi, dalam rapat kreditur telah disepakati pembentukan panitia kreditur yang akan mengawasi transparansi pemberesan aset perusahaan.

Wawan menegaskan bahwa manajemen Sritex siap bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk kurator dan pemerintah, untuk memastikan bahwa proses kepailitan ini berjalan adil dan hak karyawan tetap diperjuangkan.

“Kami siap berkomunikasi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait agar hak karyawan bisa terpenuhi sesuai ketentuan yang berlaku,” tegas Wawan.

Kesimpulan: Akhir dari Perjalanan Panjang Sritex

Penutupan Sritex menandai berakhirnya era salah satu raksasa tekstil Indonesia. Keputusan ini tidak hanya berdampak pada karyawan yang kehilangan pekerjaan, tetapi juga pada ekosistem industri tekstil nasional.

Kini, semua mata tertuju pada langkah-langkah pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menangani dampak sosial dan ekonomi dari bangkrutnya Sritex.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru