Neraca Dagang Menguat, Tapi Bukan Tanpa Celah
JAKARTA, BursaNusantara.com – Neraca perdagangan Indonesia kembali mencetak surplus pada Juni 2025, memperpanjang rekor positif selama 62 bulan berturut-turut.
Namun di balik pencapaian itu, tekanan struktural dari sisi impor mulai menunjukkan potensi disrupsi terhadap kestabilan neraca dagang nasional.
Ekspor Indonesia naik signifikan 11,29% YoY menjadi US$ 23,44 miliar, dipimpin oleh lonjakan sektor manufaktur sebesar 16,57% YoY.
Meski harga komoditas global tengah lesu, sektor ini berhasil menjadi pendorong utama surplus, sementara sektor pertambangan justru mengalami kontraksi 13,36% YoY.
Di sisi lain, impor turut meningkat 4,28% YoY menjadi US$ 19,33 miliar, sebagian besar didorong oleh lonjakan barang modal yang mencapai 37,89% YoY.
Lonjakan Barang Modal dan Risiko Deregulasi Impor
Kenaikan barang modal sejatinya mencerminkan sinyal pembangunan industri, tetapi kontras dengan indeks manufaktur yang masih kontraksi di level 46,7.
Lonjakan ini menjadi ambigu: apakah mencerminkan investasi produktif atau justru ekspansi semu di tengah ketidakpastian permintaan.
Impor kendaraan dari China tumbuh pesat hingga US$ 2,23 miliar, dan kenaikan impor mesin dari AS sebesar 19,57% YoY turut menambah tekanan pada sisi keluar neraca.
Deregulasi impor atas 10 komoditas utama yang dijadwalkan Agustus 2025 menjadi titik rawan baru dalam arsitektur perdagangan Indonesia.
Jika tidak diimbangi dengan strategi hilirisasi atau proteksi sektor domestik, lonjakan impor akan menjadi bumerang bagi keberlanjutan surplus dagang.
Kondisi ini diperparah jika harga komoditas ekspor tetap stagnan di pasar global, yang selama ini menjadi penopang utama surplus.
AS Jadi Mitra Dominan, Tapi Ketergantungan Menguat
Amerika Serikat tetap menjadi mitra surplus terbesar bagi Indonesia dengan kontribusi US$ 8,57 miliar hingga semester I 2025.
Namun dominasi ini menimbulkan ketergantungan struktural yang rawan jika kondisi geopolitik atau ekonomi AS memburuk.
Apalagi, penurunan tarif resiprokal dari 32% menjadi 19% bagi Indonesia membuka keran ekspor, tapi juga menyiratkan ketergantungan politik dagang.
Peningkatan ekspor pertanian (US$ 4,5 miliar), energi (US$ 15 miliar), dan pesawat (US$ 3,2 miliar) ke AS disambut positif pelaku pasar.
Namun, arus investasi BUMN dan BPI Danantara senilai US$ 34 miliar ke sektor-sektor AS menimbulkan pertanyaan soal orientasi alokasi modal nasional.
Di satu sisi, arus balik devisa dari ekspor meningkat, tetapi outflow investasi ke luar negeri tetap menjadi perhatian bagi stabilitas jangka panjang.
Inflasi Stabil Tapi Pangan Tekan Daya Beli
Dari sisi domestik, inflasi Juli 2025 terjaga pada 2,37% YoY dan 0,30% MoM, sesuai dengan target Bank Indonesia dalam rentang 2,5–4,5%.
Namun inflasi bahan pangan bergejolak menyentuh 3,82% YoY, terutama akibat naiknya harga beras, bawang merah, dan tomat.
Sementara itu, inflasi barang dan jasa yang diatur pemerintah tercatat hanya 1,32% YoY meski terjadi penyesuaian harga BBM.
Kondisi ini menciptakan ketimpangan daya beli di lapisan masyarakat bawah, di tengah stabilnya indikator inflasi secara agregat.
Inflasi inti yang tetap rendah di angka 2,32% YoY juga menunjukkan lemahnya tekanan permintaan, sehingga stimulus fiskal maupun moneter tetap dibutuhkan.
BI Longgarkan SRBI, Tapi Efek Masih Terbatas
Bank Indonesia mulai bersikap lebih akomodatif dengan melonggarkan imbal hasil Surat Berharga Rupiah Indonesia (SRBI).
Langkah ini diambil untuk menahan potensi arus keluar modal dan menstimulasi likuiditas domestik tanpa menurunkan suku bunga utama.
Namun efektivitas kebijakan ini masih perlu waktu, mengingat tekanan dari sisi eksternal belum sepenuhnya mereda.
Terlebih, pelaku pasar masih menunggu kepastian global terhadap arah suku bunga The Fed serta outlook ekonomi China yang memengaruhi harga komoditas.
Jika kebijakan moneter tidak diiringi dengan reformasi struktural perdagangan, surplus neraca bisa kembali rapuh dalam jangka menengah.












