Ekspor Kuatkan Neraca, Tapi Risiko Masih Mengintai
JAKARTA, BursaNusantara.com – Di balik catatan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 4,41 miliar pada Juni 2025, Indonesia menyimpan tantangan struktural yang tak bisa diabaikan begitu saja.
Momentum positif ini ditopang lonjakan ekspor yang tumbuh 11,29% secara tahunan menjadi US$ 23,44 miliar, jauh melampaui laju impor yang hanya naik 4,28% ke level US$ 19,33 miliar.
Namun performa apik tersebut belum mencerminkan keseimbangan ekonomi luar negeri yang sehat dan berkelanjutan.
Komoditas Nonmigas Jadi Motor Pendorong Utama
Surplus neraca perdagangan lebih banyak ditopang ekspor nonmigas yang mencatat nilai US$ 5,22 miliar, jauh menutupi defisit neraca migas sebesar US$ 1,11 miliar.
Tiga komoditas andalan yang menjadi penyumbang surplus terbesar di sektor nonmigas adalah lemak dan minyak hewan/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Bahkan dari sisi kumulatif, nilai ekspor nonmigas Januari–Juni 2025 mencapai US$ 128,39 miliar, mengalami kenaikan 8,96% secara tahunan.
Sayangnya, kinerja sektor migas kembali jadi batu sandungan dengan defisit konsisten, menandakan ketergantungan pada impor minyak mentah dan hasil olahan masih tinggi.
Perang Dagang Halus: China Dominasi Defisit
Salah satu catatan merah yang tak bisa diabaikan adalah struktur defisit Indonesia terhadap mitra dagang utama seperti China.
Selama enam bulan pertama 2025, defisit perdagangan dengan China mencapai US$ 10,69 miliar hampir dua setengah kali lipat dari surplus tertinggi Indonesia dengan Amerika Serikat yang sebesar US$ 9,92 miliar.
Dominasi barang-barang asal Tiongkok pada sektor mesin, peralatan listrik, dan produk plastik membuat ketergantungan impor Indonesia kian dalam.
Sementara tiga negara yang menyumbang surplus terbesar adalah AS, India, dan Filipina tetapi kontribusinya belum mampu mengimbangi tekanan defisit dari kawasan Pasifik dan Latin.
Struktur Impor Masih Rentan Teknologi Asing
Defisit terbesar bukan semata akibat konsumsi, tetapi karena mayoritas impor Indonesia adalah barang modal dan penolong seperti mesin mekanis, perlengkapan elektronik, serta alat optik dan medis.
Sektor industri pengolahan dalam negeri tampak masih menggantungkan inovasi pada luar negeri, terutama dari negara maju dan kawasan manufaktur Asia Timur.
Hal ini menjadi cermin bahwa surplus perdagangan bukan indikator tunggal kesehatan ekonomi jika tidak diimbangi pembangunan kapasitas industri domestik.
Risiko Defisit Energi Semakin Nyata
Dengan neraca migas yang masih merah dan tidak ada tanda-tanda pemulihan, Indonesia perlu menyusun ulang strategi ketahanan energi.
Kebutuhan impor minyak mentah dan hasil olahan tetap tinggi, meski harga energi global sedang relatif stabil, menciptakan kerentanan pada neraca berjalan di masa depan.
Penguatan sektor energi bersih dan eksplorasi domestik tampaknya tak bisa ditunda jika Indonesia ingin keluar dari jerat defisit struktural di sektor migas.
Surplus Berkepanjangan, Tapi Apakah Tahan Lama?
Surplus perdagangan Indonesia telah bertahan 62 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, menjadikannya rekor historis tersendiri.
Namun keberlanjutan tren ini masih bergantung pada arah kebijakan industri, substitusi impor, diversifikasi ekspor, serta reposisi hubungan dagang strategis.
Tanpa strategi jangka panjang, surplus ini bisa jadi fatamorgana tampak sehat di permukaan, tapi menyembunyikan kegentingan struktural yang siap meledak sewaktu-waktu.









