Geser Kebawah
AgrobisnisBisnis

Tarif Impor AS Naik, Biaya Produksi Sawit Bisa Melonjak

86
×

Tarif Impor AS Naik, Biaya Produksi Sawit Bisa Melonjak

Sebarkan artikel ini
Tarif Impor AS Naik, Biaya Produksi Sawit Bisa Melonjak
Tarif resiprokal AS sebesar 32% berpotensi menaikkan biaya produksi sawit hingga 20% dan menekan margin petani.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menetapkan tarif impor resiprokal sebesar 32% terhadap produk Indonesia dinilai dapat berdampak serius terhadap sektor kelapa sawit nasional.

Ketua Umum Asosiasi Petani Sawit Indonesia (APKASINDO), Gulat Manurung, memperkirakan bahwa kebijakan tersebut dapat memicu kenaikan biaya produksi minyak sawit hingga 20%.

Sponsor
Iklan

Margin Petani Tertekan, Produktivitas Terancam

Menurut Gulat, beban biaya tambahan tersebut secara langsung akan memangkas margin keuntungan petani sawit. Saat ini, biaya produksi sawit berkisar antara Rp 1.500 hingga Rp 2.000 per kilogram, dengan harga jual rata-rata Rp 2.800 per kilogram. Kondisi ini memberikan margin sekitar Rp 800 per kilogram kepada petani.

Baca Juga: Program B40 2025: Harga TBS Turun, CPO Tersubsitusi Tinggi

“Jika biaya produksi naik 20%, margin itu bisa turun menjadi Rp 600 per kg. Itu cukup signifikan bagi petani, apalagi mayoritas dari mereka adalah petani swadaya,” ujarnya, Senin (7/4).

Kenaikan biaya produksi tersebut dipicu oleh mahalnya bahan baku penunjang seperti pupuk dan obat-obatan, yang sebagian besar masih bergantung pada impor. Kenaikan harga input pertanian ini bisa mendorong petani melakukan efisiensi dalam perawatan tanaman, yang akhirnya berisiko menurunkan produktivitas kebun.

Baca Juga: Pemerintah Genjot Sertifikasi Lahan Petani Sawit Demi Kepastian Hukum

“Kalau perawatan dikurangi karena biaya tinggi, produktivitas bisa turun sampai 7%. Ini akan berdampak secara nasional, apalagi perkebunan rakyat mencakup 42% dari total luas lahan sawit Indonesia, atau sekitar 6,8 juta hektare,” papar Gulat.

Dampak Nilai Tukar dan Keuntungan Hilir

Di sisi lain, Gulat menyoroti bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga memberikan sisi positif bagi industri sawit, khususnya sektor hilir. Harga minyak sawit mentah (CPO) yang dihitung menggunakan dolar AS akan mengalami kenaikan nilai dalam rupiah, yang dapat meningkatkan pendapatan eksportir.

Baca Juga: Program B40: Peluang Besar bagi Petani Sawit untuk Produktivitas Berkelanjutan

“Naiknya kurs dolar memang memberikan sisi positif bagi sektor hilir. Namun bagi petani, tantangannya tetap besar karena biaya bahan baku meningkat. Jadi ada plus minusnya,” pungkasnya.

Dinamika tarif dan nilai tukar ini menjadi sinyal bahwa pemerintah dan pelaku industri harus bergerak cepat menyusun langkah mitigasi demi menjaga keberlanjutan dan daya saing sektor sawit nasional yang menjadi tulang punggung ekspor pertanian Indonesia.

Baca Juga: Ekspor Komoditas RI Tertekan Tarif Impor AS

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Tinggalkan Balasan