WASHINGTON, BursaNusantara.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat gebrakan dalam kebijakan perdagangannya! Mulai 4 Maret, tarif impor sebesar 25% terhadap barang-barang dari Meksiko dan Kanada akan tetap diberlakukan, tanpa pengecualian.
Tidak hanya itu, China kembali terkena tambahan tarif 10%, menambah panas perang dagang yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.
Trump menyebut keputusan ini sebagai langkah “melindungi Amerika”, terutama dari ancaman narkoba fentanyl yang disebutnya masih masuk dari Meksiko dan Kanada dalam jumlah besar. Sementara itu, tarif baru untuk China diklaim sebagai strategi menekan dominasi ekonomi Beijing yang dianggap merugikan AS.
Apa Alasan Trump Naikkan Tarif Lagi?
Langkah agresif ini bukan tanpa alasan. Menurut Trump, ada dua faktor utama yang menjadi pemicu:
1. Ancaman Narkoba Fentanyl
Trump menegaskan bahwa peningkatan tarif ini bukan hanya soal perdagangan, tetapi juga menyangkut keamanan nasional AS. Dalam pernyataannya di Truth Social, ia berkata:
“Kami tidak bisa membiarkan ancaman ini terus membahayakan AS. Hingga masalah ini berhenti atau berkurang signifikan, tarif yang dijadwalkan pada 4 Maret akan tetap berlaku.”
Fentanyl, obat terlarang yang sangat mematikan, terus membanjiri AS, dan menurut Trump, Meksiko serta Kanada gagal menghentikannya. Oleh karena itu, ia menilai hukuman ekonomi adalah solusi yang paling efektif.
2. Menekan Dominasi Perdagangan China
Sementara itu, kebijakan tarif tambahan untuk China merupakan bagian dari strategi jangka panjang AS dalam perang dagang. Trump sebelumnya sudah mengenakan bea masuk 10% sejak Februari, dan kini menambah 10% lagi. Tujuannya?
- Mencegah China mendominasi pasar global dengan produk murah.
- Memaksa China lebih transparan dalam praktik perdagangannya.
- Menekan surplus perdagangan China terhadap AS.
Trump menginginkan AS tetap memimpin ekonomi global, dan tambahan tarif ini diyakini sebagai cara paling cepat untuk mencapai hal itu.
Bagaimana Dampaknya ke Dunia?
Keputusan ini langsung mengguncang pasar global. Beberapa efek yang bisa terjadi dalam waktu dekat:
1. Gangguan Rantai Pasok Global
Meksiko, Kanada, dan China adalah mitra dagang utama AS. Dengan tarif baru ini, banyak perusahaan akan menaikkan harga barang, yang pada akhirnya membebani konsumen di AS dan negara lain.
2. Ancaman Retaliasi dari Meksiko, Kanada, dan China
Negara-negara yang terdampak kemungkinan akan membalas dengan kebijakan serupa. China, misalnya, bisa menerapkan tarif baru bagi produk AS, yang akan semakin mempersulit eksportir Amerika.
Meksiko dan Kanada juga berencana melakukan negosiasi darurat dengan perwakilan dagang AS. Menteri Ekonomi Meksiko, Marcelo Ebrard, dan Menteri Keamanan Publik Kanada, David McGuinty, telah menjadwalkan pertemuan penting dalam waktu dekat.
Akankah Trump Menang dalam Perang Dagang Ini?
Trump dikenal sebagai pemimpin yang keras dalam kebijakan ekonomi, dan langkah ini dipandang sebagai bagian dari strategi politiknya menjelang pemilu mendatang. Namun, pertanyaan besar yang muncul:
- Apakah kebijakan ini benar-benar bisa menghentikan fentanyl masuk ke AS?
- Bisakah ekonomi AS bertahan jika negara lain membalas dengan tarif serupa?
- Sejauh mana kebijakan ini akan mempengaruhi hubungan diplomatik AS dengan China, Meksiko, dan Kanada?
Para ekonom memperingatkan bahwa tarif yang terlalu agresif bisa menjadi bumerang. Jika terlalu banyak negara membalas, AS sendiri bisa terkena dampak negatif berupa kenaikan harga barang dan perlambatan ekonomi.
Perdagangan Global di Ujung Tanduk
Keputusan Trump untuk menaikkan tarif impor bagi Meksiko, Kanada, dan China menjadi batu ujian bagi ekonomi dunia. Sementara AS ingin melindungi kepentingan nasionalnya, kebijakan ini berpotensi memicu gelombang balasan dari negara-negara lain.
Dampaknya masih harus ditunggu, tetapi satu hal yang pasti: perang dagang kembali memanas, dan dunia harus bersiap menghadapi babak baru ketegangan ekonomi global!












