Australia Diuntungkan Tarif AS, Ekspor Dipacu Lewat Strategi Tenang
JAKARTA, BursaNusantara.com – Presiden AS Donald Trump menetapkan kenaikan tarif impor global, namun tetap mempertahankan tarif dasar 10% untuk Australia.
Kebijakan ini memberi peluang besar bagi Australia memperluas ekspor, saat negara lain justru dikenai tarif hingga 50%.
Produk Australia Lebih Kompetitif di Pasar AS
Menteri Perdagangan Australia Don Farrell mengatakan tarif rendah itu menjadikan produk lokal lebih kompetitif dibanding Brasil, Kanada, dan Selandia Baru.
Brasil kini dikenai bea masuk 50%, Kanada 35%, dan Selandia Baru 15%, sementara Australia tetap 10%.
Farrell menegaskan pemerintah akan membantu eksportir memanfaatkan keunggulan ini agar volume perdagangan dengan AS meningkat tajam.
Sektor agrikultur, manufaktur ringan, dan teknologi dinilai sebagai pilar utama yang akan diakselerasi ke pasar Amerika.
Pemerintah Australia memproyeksikan peluang pertumbuhan signifikan dalam ekspor non-tradisional di tahun depan.
Diplomasi Senyap Pemerintah Albanese Berbuah Hasil
Farrell menyebut keberhasilan mempertahankan tarif minimum ini adalah buah dari strategi diplomasi yang tenang dan tidak konfrontatif.
PM Anthony Albanese sempat dikritik oposisi karena tak bertemu langsung dengan Presiden Trump, namun hasilnya justru lebih nyata.
Farrell menyebut pendekatan lunak jauh lebih efektif dalam meraih kepercayaan Washington tanpa tekanan publik.
Diplomasi semacam ini menunjukkan Australia mampu menjaga stabilitas hubungan strategis meski dalam iklim proteksionisme global.
Langkah ini menjadi pembenaran politik terhadap pendekatan Albanese yang lebih memilih kerja diam ketimbang simbolisme.
Imbas Kebijakan Terhadap Pesaing Regional
Negara tetangga seperti Selandia Baru belum mendapat konsesi serupa dan masih terus melobi AS.
Menteri Perdagangan Todd McClay menyatakan harapannya untuk merundingkan ulang bea masuk yang saat ini diberlakukan sebesar 15%.
Ia mengatakan telah menjalin komunikasi langsung dan terbuka dengan pejabat perdagangan AS dalam beberapa bulan terakhir.
Namun hingga kini, belum ada hasil konkret yang menyamai posisi istimewa Australia dalam kebijakan tarif terbaru AS.
Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas dan relasi diplomatik yang konsisten menjadi penentu dalam sistem perdagangan internasional saat ini.
Potensi Ekspor Australia Kian Terbuka
Pemerintah Australia juga melonggarkan pembatasan impor daging sapi asal AS, yang menurut pengamat memperkuat goodwill dua arah.
Meski PM Albanese membantah bahwa langkah itu bagian dari barter dagang, sinyal tersebut terbukti mempererat hubungan bilateral.
Farrell menilai kebijakan tersebut berpotensi membuka jalan bagi peningkatan kerja sama jangka panjang.
Ia mengingatkan bahwa keunggulan tarif bersifat momentum, dan harus segera dimanfaatkan sebelum lanskap politik AS kembali berubah.
Dengan pendekatan pragmatis dan kolaboratif, Australia kini berada di jalur cepat memperluas ekspor ke pasar strategis Amerika Serikat.











