Geser Kebawah
BisnisPerdagangan & Industri

Hilirisasi Baja: Kunci Kemandirian Industri dan Penguatan Ekonomi Nasional

161
×

Hilirisasi Baja: Kunci Kemandirian Industri dan Penguatan Ekonomi Nasional

Sebarkan artikel ini
Hilirisasi Baja Kunci Kemandirian Industri Dan Penguatan Ekonomi Nasional
Hilirisasi baja memperkuat industri nasional, mengurangi impor, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ini penting bagi pembangunan infrastruktur.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Hilirisasi baja dinilai dapat memperkuat kemandirian industri nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor. Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batu Bara Indonesia (Aspebindo), Anggawira, menegaskan bahwa industri baja memiliki peran krusial dalam pembangunan infrastruktur serta sektor-sektor strategis lainnya di Indonesia.

Hilirisasi Baja dan Kemandirian Industri Nasional

Hilirisasi baja mencakup pengolahan serta peningkatan nilai tambah produk baja di dalam negeri. Menurut Anggawira, langkah ini sangat penting dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor baja. “Industri baja berperan penting dalam penyediaan bahan baku konstruksi, terlebih terkait dengan program tiga juta rumah yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto,” ujar Anggawira, Senin (24/3/2025).

Sponsor
Iklan

Ia juga menekankan pentingnya pembangunan ekosistem hilirisasi baja, terutama karena Indonesia tengah membangun Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur. Anggawira optimistis bahwa hilirisasi industri baja dapat memberikan manfaat besar bagi perekonomian nasional.

Peran Strategis Hilirisasi Baja dalam Pembangunan

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto, menyatakan bahwa kebijakan hilirisasi baja yang didorong pemerintah sangat mendesak bagi pembangunan infrastruktur di Indonesia. “Baja merupakan industri dasar yang sangat penting untuk didorong hilirisasinya, terutama karena Indonesia masih mengimpor baja untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,” jelasnya.

Hilirisasi baja juga dinilai dapat meningkatkan produksi peralatan rumah tangga, konstruksi, kendaraan, dan sektor lainnya. Dengan demikian, nilai tambah dari baja produksi dalam negeri menjadi lebih tinggi, yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.

Kinerja Industri Baja dan Pertumbuhan Ekspor

Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Andi Rizaldi, menjelaskan bahwa sektor baja saat ini menjadi salah satu subsektor industri prioritas pengembangan. Industri baja, yang masuk dalam kategori industri logam dasar, menunjukkan kinerja gemilang dengan pertumbuhan mencapai 18,07% secara tahunan pada semester I tahun 2024.

Permintaan domestik dan luar negeri yang tinggi menjadi faktor utama pertumbuhan industri ini. Volume ekspor logam dasar besi dan baja juga meningkat sebesar 25,2%, sedangkan pengecoran logam naik 24,29%.

Menurut Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), harga scrap baja global pada minggu ketiga Maret 2025 mencapai US$ 380 per ton atau sekitar Rp 6,2 juta (kurs Rp 16.572). Harga ini naik US$ 8 dibandingkan minggu sebelumnya. Sementara itu, harga baja impor di ASEAN dan ekspor ke China mengalami peningkatan karena tingginya permintaan global terhadap baja domestik.

Standarisasi dan Daya Saing Industri Baja Nasional

Penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Standar Industri Hijau (SIH) menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing industri baja nasional. “Dua standardisasi ini membantu industri baja dalam menjaga mutu produk, sehingga bisa diterima di level domestik maupun internasional,” ujar Andi Rizaldi.

Standarisasi juga memungkinkan produk baja Indonesia semakin kompetitif di pasar global. Dengan kualitas yang lebih baik, industri baja dalam negeri diharapkan tidak hanya mengandalkan pasar domestik, tetapi juga dapat memperluas jangkauan ekspor ke berbagai negara.

Restrukturisasi Krakatau Steel dan Penguatan Industri Baja Nasional

Ketua Komisi VI DPR, Eko Hendro Purnomo, menegaskan bahwa Indonesia harus memperkuat proteksi industri baja nasional. Komisi VI DPR mendukung restrukturisasi dan transformasi Krakatau Steel guna meningkatkan kinerja dan daya saing industri baja nasional.

Sebagai produsen baja terintegrasi terbesar di Indonesia, Krakatau Steel harus menjadi pemain utama dalam industri baja domestik. “Dalam 10 tahun ke depan, kebutuhan baja nasional akan meningkat pesat. Seharusnya ini menjadi peluang bagi industri baja dalam negeri,” jelas Eko.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa impor baja ke Indonesia terus meningkat sejak tahun 2020, dengan total impor mencapai 11,4 juta ton. Angka ini naik menjadi 13 juta ton pada 2021, kemudian mencapai 14,1 juta ton pada 2022, sebelum turun sedikit menjadi 13,8 juta ton pada 2023.

Anggawira menilai bahwa pemerintah perlu lebih serius mendukung Krakatau Steel agar dapat bersaing dengan industri baja swasta yang didukung oleh investasi asing. “Krakatau Steel adalah industri strategis pertama yang dibangun pemerintah Indonesia, dan memiliki peran vital dalam mendukung berbagai sektor industri lainnya,” tambahnya.

Langkah-langkah yang dapat ditempuh pemerintah dalam mendukung hilirisasi baja melalui Krakatau Steel meliputi restrukturisasi, modernisasi teknologi, dan peningkatan efisiensi produksi. Selain itu, pengendalian impor baja dan penerapan standar SNI pada produk baja juga harus diperkuat untuk melindungi industri dalam negeri.

Dengan kebijakan yang tepat, hilirisasi baja nasional diharapkan mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi, meningkatkan daya saing industri baja domestik, serta memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia di masa depan.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru