Geser Kebawah
Ekonomi Makro

Inflasi Maret 2025 Diprediksi Meningkat, Ini Faktor Pendorongnya

182
×

Inflasi Maret 2025 Diprediksi Meningkat, Ini Faktor Pendorongnya

Sebarkan artikel ini
Inflasi Maret 2025 Diprediksi Meningkat, Ini Faktor Pendorongnya
Inflasi Maret 2025 diperkirakan naik akibat berakhirnya diskon listrik dan meningkatnya konsumsi. Simak analisis lengkapnya di sini.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Setelah mengalami deflasi pada Februari 2025, inflasi diprediksi kembali meningkat pada Maret. Kenaikan ini dipicu oleh berakhirnya diskon tarif listrik serta peningkatan konsumsi masyarakat akibat pencairan Tunjangan Hari Raya (THR). Faktor lainnya adalah lonjakan harga pangan dan permintaan yang lebih tinggi menjelang Ramadan dan Idulfitri.

Faktor Pemicu Inflasi Maret 2025

1. Berakhirnya Diskon Tarif Listrik

Peneliti Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Riandy Laksono, memperkirakan berakhirnya diskon tarif listrik pada Februari akan berdampak signifikan pada inflasi Maret.

Sponsor
Iklan

“Prediksi saya akan ada inflasi di bulan Maret selain juga karena umumnya ada kenaikan dari sisi harga-harga pangan dan juga kenaikan permintaan secara umum karena dorongan THR,” kata Riandy, Senin (3/3/2025).

2. Peningkatan Konsumsi Akibat THR

Pemberian THR pada Maret mendorong daya beli masyarakat, yang biasanya meningkatkan konsumsi, terutama untuk kebutuhan rumah tangga, transportasi, dan pangan.

Riandy menilai bahwa meskipun daya beli masyarakat tumbuh stabil, pemerintah tetap perlu memperhatikan kelompok ekonomi menengah ke bawah, khususnya pekerja di sektor informal yang tidak mendapatkan THR.

“Banyak penciptaan kerja belakangan ini berasal dari sektor informal, yang tidak memiliki jaminan THR dan pendapatan yang fluktuatif,” ujarnya.

Deflasi Februari 2025 dan Tren Inflasi

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada Februari 2025 terjadi deflasi sebesar 0,48% month to month (mtm), menyebabkan inflasi tahunan turun ke 0,09% year on year (yoy), dibandingkan dengan Januari yang mencatat inflasi 0,76% (yoy).

Sementara itu, inflasi inti tetap tumbuh stabil sebesar 0,25% mtm dan 2,48% yoy, menunjukkan daya beli masyarakat yang tetap terjaga.

Dampak Kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia

1. Intervensi Kebijakan Harga

Menurut Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, deflasi Februari terjadi karena penurunan harga di kelompok administered prices dan volatile food. Harga tarif listrik, daging ayam ras, bawang merah, dan aneka cabai menjadi kontributor utama deflasi.

Bank Indonesia tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga melalui sinergi dengan pemerintah dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID), serta Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

“Ke depan, BI meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1% pada 2025,” kata Ramdan.

2. Kebijakan Diskon Tarif Transportasi

Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, menilai bahwa kebijakan pemerintah dalam memberikan diskon tarif transportasi akan membantu meredam kenaikan inflasi. Beberapa kebijakan tersebut antara lain:

  • Diskon tiket pesawat sebesar 13–14% untuk penerbangan domestik kelas ekonomi (1 Maret–7 April 2025, berlaku untuk penerbangan 24 Maret–7 April 2025).
  • Diskon tarif tol sebesar 20% selama periode Ramadan dan Idulfitri.

Hosianna menilai kebijakan ini dapat menekan inflasi, namun berakhirnya diskon listrik tetap menjadi faktor risiko peningkatan inflasi dalam beberapa bulan ke depan.

“Di sisi lain, Bank Indonesia menghadapi tantangan dalam penurunan suku bunga akibat arus keluar modal dan volatilitas rupiah,” jelas Hosianna.

Inflasi Maret 2025 dalam Tren Kenaikan

Setelah mengalami deflasi pada Februari 2025, inflasi pada Maret diperkirakan meningkat akibat kombinasi berakhirnya diskon tarif listrik dan peningkatan daya beli masyarakat karena THR. Meski pemerintah telah menerapkan kebijakan diskon transportasi untuk meredam tekanan inflasi, faktor global dan domestik masih akan mempengaruhi stabilitas harga ke depan.

Bank Indonesia dan pemerintah diharapkan terus mengoptimalkan strategi pengendalian inflasi agar tetap berada dalam target sasaran 2,5±1% sepanjang 2025.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Tinggalkan Balasan