JAKARTA, BursaNusantara.com – Pemerintah Indonesia tengah melakukan transformasi besar-besaran di sektor koperasi petani, khususnya bagi penghasil gabah dan beras, guna mencapai target swasembada pangan pada 2025.
Program ini menjadi bagian dari Asta Cita ke-2, yang menggarisbawahi pentingnya ketahanan pangan nasional tanpa bergantung pada impor.
Wakil Menteri Koperasi Ferry Juliantono menyampaikan bahwa langkah strategis ini mencakup mobilisasi cepat dan aktif untuk memastikan ketersediaan stok beras dari petani dalam negeri.
“Konsekuensinya, maka harus secara cepat dan aktif memobilisasi pengadaan beras dan gabah di dalam negeri,” ujar Ferry dalam pernyataan resminya pada Minggu (19/1/2025).
Revitalisasi Koperasi Unit Desa (KUD)
Dalam program prioritas ini, Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop) akan merevitalisasi Koperasi Unit Desa (KUD) di berbagai wilayah.
KUD akan dibantu dengan penyediaan alat pengering (dryer) untuk meningkatkan kualitas hasil panen petani. Selain itu, Bulog akan kembali diberdayakan untuk menyerap gabah dan beras langsung dari petani dengan standar tertentu, sehingga petani mendapatkan harga yang lebih kompetitif.
Ferry menekankan pentingnya keterlibatan koperasi dalam mendukung Bulog untuk kembali memainkan peran strategis sebagai penyangga pangan nasional. Penyaluran pupuk juga akan dioptimalkan melalui Peraturan Presiden (Perpres) yang sedang dalam tahap penyusunan.
Efisiensi Penyaluran Pupuk
“Saat ini kami memiliki data sekitar 6.000 Gapoktan berbadan usaha koperasi yang akan dilibatkan untuk menyalurkan pupuk. Sebelumnya terlalu banyak rantai distribusi, sehingga petani tak mendapatkan pupuk dengan jumlah dan waktu yang tepat,” ungkap Ferry.
Dengan adanya penyaluran pupuk yang lebih terukur, produksi gabah dan beras akan lebih mudah dicatat. Data yang akurat akan membantu Pemerintah mengurangi ketergantungan pada impor. Ferry optimistis jika ekosistem bantuan alat mesin hingga pupuk berjalan lancar, swasembada pangan dapat terwujud.
Kolaborasi Holistik Hulu ke Hilir
Ketua Umum Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi), Sutarto Alimoeso, menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam mencapai swasembada pangan.
Menurutnya, peningkatan produktivitas di tingkat petani (hulu) harus diimbangi dengan efisiensi proses penggilingan padi hingga pengelolaan hasil (hilir).
“Bulog sebagai penyangga pangan nasional harus bersinergi dengan ekosistem holistik ini. Kemenkop juga perlu mendukung pembiayaan yang mudah dan murah bagi petani,” kata Sutarto.
Ia juga berharap pemerintah dapat segera menetapkan kebijakan terkait investasi pembangunan penggilingan padi, serta memberikan bantuan alat seperti dryer untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas beras.
Potensi Koperasi Pertanian
Data Kemenkop pada tahun 2023 mencatat bahwa jumlah koperasi aktif di sektor pertanian mencapai 3.800 unit dengan 162.492 anggota, serta volume usaha sebesar Rp2,1 triliun. Angka ini mencerminkan potensi besar koperasi dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Pemerintah terus berupaya untuk memastikan ekosistem yang kondusif bagi petani melalui penguatan koperasi, dukungan teknologi, dan akses pembiayaan. Langkah-langkah ini diyakini akan menjadi pilar utama dalam mewujudkan swasembada pangan pada 2025.










