Geser Kebawah
BankKeuangan

Tren Take Over KPR Meningkat, Bank-Bank Besar Siapkan Strategi

122
×

Tren Take Over KPR Meningkat, Bank-Bank Besar Siapkan Strategi

Sebarkan artikel ini
Tren Take Over KPR Meningkat, Bank-Bank Besar Siapkan Strategi
Meski suku bunga acuan turun, bunga KPR tetap tinggi. Ini picu tren take over antar bank yang makin ramai.

Suku Bunga Acuan Turun, Take Over KPR Justru Meningkat

JAKARTA, BursaNusantara.com – Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% belum diikuti dengan penurunan suku bunga kredit oleh mayoritas perbankan, terutama pada segmen Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Kondisi ini mendorong nasabah untuk mempertimbangkan opsi take over KPR ke bank lain yang menawarkan bunga lebih kompetitif.

Sponsor
Iklan

Fenomena ini pun berpotensi memicu persaingan antar bank dalam merebut nasabah existing.

Bank BCA Waspadai Tren Perpindahan Debitur

Executive Vice President Consumer Loan BCA, Welly Yandoko, mengakui tren take over KPR semakin meningkat.

Hal ini menurutnya dipicu oleh meluasnya pemahaman masyarakat tentang take over dan agresivitas promo yang ditawarkan bank-bank pesaing.

Salah satu alasannya karena cicilan naik signifikan saat bunga fixed berubah menjadi floating,” jelas Welly.

Bunga Floating BCA Diklaim Stabil

Menurut Welly, suku bunga floating KPR BCA sudah stabil di angka 11% selama satu dekade terakhir.

Dengan demikian, seharusnya debitur existing sudah bisa mengantisipasi skenario kenaikan angsuran saat masa fixed rate berakhir.

Sejauh ini, permintaan take over dari bank lain ke KPR BCA masih relatif kecil, walau menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun.

Sebaliknya, jumlah nasabah KPR BCA yang melunasi kredit karena pindah ke bank lain lebih kecil lagi.

Strategi Retensi BCA untuk Nasabah KPR

Untuk merespons tren take over, BCA menjalankan strategi komunikasi bunga dan angsuran secara transparan di awal penawaran.

Nasabah diberi penjelasan sejak awal tentang potensi perubahan angsuran saat masuk periode floating.

BCA juga menawarkan skema bunga fixed berjenjang hingga 10 tahun bagi debitur yang menghindari lonjakan angsuran mendadak.

Langkah ini diklaim bisa memberi kenyamanan jangka panjang dan menjaga loyalitas nasabah.

Jika ada sinyal nasabah ingin berpindah ke bank lain, tim BCA akan melakukan konsultasi untuk menggali alasan dan memberikan edukasi tentang risiko dan biaya take over.

Welly menegaskan, edukasi ini juga memuat manfaat dan keunggulan layanan jika nasabah memilih tetap di BCA.

KPR BCA Tumbuh, Meski Tren Take Over Menguat

Meski menghadapi tantangan, KPR BCA tetap tumbuh 10,5% secara tahunan menjadi Rp135,5 triliun per kuartal I 2025.

Ini naik dari Rp122,5 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja tersebut mencerminkan upaya BCA menjaga daya saing melalui stabilitas pricing dan layanan yang diklaim memberi rasa aman.

Namun, mereka tetap waspada terhadap eskalasi tren take over yang makin terbuka lewat media sosial dan promosi dari kompetitor.

Bank Mandiri: Take Over Bukan Perkara Mudah

Sementara itu, Bank Mandiri juga mengonfirmasi tren take over yang meningkat, meski tidak mengungkapkan data spesifik.

VP Mortgage Product Development Bank Mandiri, Ruby Indra, menyebut proses take over tak semudah yang dibayangkan.

Menurutnya, bank asal biasanya menawarkan retensi bagi nasabah lancar, dan take over umumnya dikenakan penalti 2%-5%, bahkan bisa 10%.

Ini membuat banyak nasabah berpikir ulang karena harus menghitung ulang untung-rugi secara menyeluruh.

KPR Bank Mandiri Naik, Fokus ke Payroll dan Karyawan

Bank Mandiri mencatat pertumbuhan KPR sebesar 15,8% YoY menjadi Rp66,5 triliun di kuartal I 2025.

KPR menjadi motor utama kredit konsumer mereka tahun ini, sejalan dengan strategi inovasi layanan ritel.

Bank Mandiri menawarkan bunga kompetitif, mulai dari 2,60% fixed 1 tahun hingga fixed berjenjang 10 tahun mulai dari 7,68%.

Fokus utama bank ini adalah memperkuat basis nasabah existing, terutama dari payroll dan perusahaan wholesale.

Corporate Secretary Bank Mandiri, M. Ashidiq Iswara, menekankan pentingnya pemantauan dinamika ekonomi dan penyesuaian kebijakan suku bunga.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan pertumbuhan kredit tetap berkelanjutan dan kompetitif.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan