Tarif Trump Kembali Mengancam Tata Perdagangan Dunia
JAKARTA, BursaNusantara.com – Mantan Presiden AS Donald Trump kembali memicu gejolak global dengan mengumumkan tarif 30% untuk seluruh impor dari Meksiko dan Uni Eropa.
Kebijakan ini disampaikan langsung melalui dua surat yang ia unggah di platform Truth Social.
Trump menyebut Meksiko belum cukup tegas menekan arus fentanil dan imigran ilegal ke perbatasan AS.
Ia menyebut kawasan itu tengah berubah menjadi “Taman Bermain Perdagangan Narkoba”.
Tarif 30% dijatuhkan sebagai bentuk tekanan dan simbol kedaulatan ekonomi Amerika.
Trump juga menuding Uni Eropa sebagai penyebab memburuknya defisit perdagangan AS selama bertahun-tahun.
Dalam suratnya, ia menyebut hubungan dagang dengan Eropa tidak lagi timbal balik dan merugikan keamanan nasional AS.
“Sayangnya, hubungan kita jauh dari timbal balik,” tegas Trump dalam suratnya kepada pemimpin Uni Eropa.
Fondasi Kampanye Ekonomi Trump 2024
Tarif ini merupakan bagian dari kampanye Trump 2024 yang fokus pada pemulihan ekonomi AS dengan pendekatan proteksionis.
Trump meyakini negara-negara lain telah merebut keuntungan besar dari pasar Amerika selama puluhan tahun.
Kebijakan ini menandai kembalinya doktrin “America First” yang ia gaungkan sejak periode pertamanya.
Namun langkah itu juga mencederai konsensus global yang dibentuk melalui Putaran Uruguay sejak dekade 1990-an.
Selama ini, negara-negara peserta mematuhi prinsip “most-favored nation” yang melarang diskriminasi tarif antarnegara.
Dengan tarif selektif seperti ini, Trump dinilai menghancurkan kerangka perdagangan multilateral.
51 Negara Masuk Radar Tarif Balasan AS
Melalui suratnya pada Sabtu (12/7/2025), Trump resmi menetapkan kebijakan tarif terhadap total 24 negara mitra dan 27 anggota Uni Eropa.
Trump mengklaim kebijakan ini bukan sekadar strategi ekonomi, tapi juga pertahanan nasional berbasis perdagangan.
Ia ingin menghapus defisit yang dianggap sebagai kelemahan sistemik ekonomi AS di hadapan sekutu maupun pesaing.
Langkah ini menjadi alarm keras bagi dunia bahwa perang dagang era Trump bukan hanya wacana kampanye, melainkan kebijakan nyata yang siap mengguncang peta ekonomi global.












