Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Trump Ancam Rusia, Harga Minyak Meledak

81
×

Trump Ancam Rusia, Harga Minyak Meledak

Sebarkan artikel ini
Trump Ancam Rusia, Harga Minyak Meledak
Harga minyak melonjak 2% dipicu ultimatum Trump kepada Rusia dan kesepakatan energi AS–UE senilai US$750 miliar, mengguncang pasar global.

Tekanan Geopolitik Meledak: Energi Jadi Senjata Baru Barat

NEW YORK, BursaNusantara.com – Harga minyak dunia kembali menjadi barometer kegelisahan geopolitik global usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ultimatum keras terhadap Rusia, sekaligus meneken perjanjian energi raksasa dengan Uni Eropa.

Dua peristiwa besar itu terjadi nyaris bersamaan, namun bukan kebetulan: energi kini bukan lagi sekadar komoditas, melainkan alat diplomasi ofensif Barat untuk mengisolasi Moskwa.

Sponsor
Iklan

Trump tidak hanya mempercepat tenggat diplomatik bagi Rusia untuk mundur dari Ukraina menjadi 10–12 hari lebih dari sekadar ancaman, itu adalah sinyal sanksi lanjutan yang akan menyasar sektor energi Rusia yang masih menopang perekonomian Moskwa.

Reaksi pasar terjadi seketika: harga minyak Brent langsung melesat 2,3% ke level US$ 70,04 per barel, tertinggi dalam 10 hari. WTI menguat 2,4% ke US$ 66,71.

AS-Eropa Rancang Jalur Baru Energi, Rusia Terancam Terpinggirkan

Lebih dari sekadar retorika, Washington dan Brussels kini membangun jalur baru distribusi energi lintas Atlantik, dengan nilai potensi transaksi mencapai US$ 750 miliar.

Perjanjian itu bukan hanya kesepakatan dagang, melainkan reposisi strategis Eropa yang selama ini sangat tergantung pada gas dan minyak Rusia.

Presiden Trump menyebut perjanjian ini sebagai “pukulan telak” bagi dominasi energi Rusia. Di balik pernyataan politik itu terselip satu fakta penting: energi Amerika, mulai dari LNG hingga minyak mentah, kini akan mengambil pangsa pasar Rusia di jantung ekonomi Eropa.

Phil Flynn dari Price Futures Group menyebut perjanjian ini “mengubah peta rantai pasok energi global,” dan bisa memicu pergeseran rute perdagangan yang selama ini terkunci pada geopolitik pasca-Perang Dingin.

Harga Naik, Tapi Ancaman Baru Juga Muncul

Sementara sebagian pelaku pasar menyambut lonjakan harga dengan antusias, analis energi memperingatkan bahwa penguatan dolar AS dan pelemahan permintaan India bisa menjadi batu sandungan baru.

Tamas Varga dari PVM menyebut euforia pasar masih “bersifat sementara” karena ancaman over-supply masih nyata, terutama jika OPEC+ tidak disiplin.

Tony Sycamore dari IG menyoroti pula bahwa jeda tarif antara AS dan China turut meredakan ketegangan dagang, namun dampaknya terhadap permintaan energi masih lemah tanpa pemulihan konsumsi di Asia.

Pertarungan Berikutnya: OPEC+ dan Strategi Pasokan Jangka Pendek

Kekuatan kartel minyak OPEC+ kembali diuji dalam rapat penting Minggu (3/8/2025), ketika delapan negara utama dijadwalkan mengevaluasi potensi penambahan pasokan.

Dengan harga naik dan tekanan dari konsumen meningkat, kartel berada dalam dilema antara menjaga harga tetap tinggi atau mengamankan pangsa pasar jangka panjang.

Laporan proyeksi dari ING menyebut bahwa OPEC+ kemungkinan besar akan menuntaskan pengembalian tambahan 2,2 juta barel per hari sebelum akhir September, sebagai bagian dari strategi normalisasi pasokan pasca-pandemi.

Namun jika tensi geopolitik memburuk, terutama terkait Rusia, maka kalkulasi itu bisa berubah total: pasokan akan ditahan, harga akan terus naik, dan volatilitas akan jadi norma baru.

Narasi Energi Global Kini Dikuasai Politik, Bukan Produksi

Pasar minyak tak lagi dikendalikan semata oleh fundamental permintaan dan penawaran. Saat ini, narasi dominan adalah politik, diplomasi, dan kekuatan militer.

Selama Rusia tetap menolak mundur, dan AS terus menggunakan energi sebagai senjata diplomasi, harga minyak akan tetap bergerak liar dan bukan tidak mungkin menembus level psikologis US$ 75 dalam waktu dekat.

Pasar telah memberi sinyal: siapa yang mengendalikan energi, mengendalikan arah konflik global hari ini.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan