Geser Kebawah
Internasional

Trump dan Netanyahu Dukung Rencana Kontroversial Gaza, Masa Depan Palestina di Persimpangan

79
×

Trump dan Netanyahu Dukung Rencana Kontroversial Gaza, Masa Depan Palestina di Persimpangan

Sebarkan artikel ini
trump dan netanyahu dukung rencana kontroversial gaza, masa depan palestina di persimpangan kompres
Netanyahu mendukung rencana Trump untuk mengambil alih Gaza, sementara Israel mulai menyusun strategi migrasi sukarela warga Palestina.

Netanyahu Dukung Rencana Trump untuk Gaza

WASHINGTON DC, BursaNusantara.com – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara terbuka mendukung usulan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk mengambil alih Gaza. Dalam wawancara dengan Fox News, Netanyahu menyebut ide Trump sebagai “sangat luar biasa dan layak dipertimbangkan.”

Pernyataan tersebut muncul di tengah perdebatan global mengenai masa depan Gaza setelah 15 bulan konflik yang menghancurkan wilayah tersebut. Trump mengusulkan agar AS mengambil “kepemilikan jangka panjang” atas Gaza, merelokasi penduduknya ke negara-negara tetangga, dan mengembangkan kembali daerah tersebut menjadi “Riviera Timur Tengah.”

Sponsor
Iklan

Namun, rencana ini menuai kritik dari berbagai pihak, termasuk para pemimpin regional, pejabat Palestina, dan sekutu Barat AS. Kritik utama menyebut bahwa rencana tersebut berpotensi melanggar hukum internasional dan dapat dianggap sebagai bentuk pembersihan etnis.

Israel Susun Rencana Migrasi Sukarela Warga Gaza

Bersamaan dengan dukungan terhadap rencana Trump, Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, telah menginstruksikan militer Israel untuk menyusun rencana “keberangkatan sukarela” bagi warga Gaza. Dalam pernyataannya, Gallant menyebut bahwa Israel akan bekerja sama dengan negara-negara lain untuk merealisasikan rencana ini.

“Saya menyambut inisiatif berani Presiden Trump, yang bisa memungkinkan sebagian besar penduduk Gaza untuk beremigrasi ke berbagai negara di dunia,” kata Gallant.

Namun, banyak pihak meragukan apakah mayoritas warga Gaza akan benar-benar bersedia meninggalkan tanah air mereka secara sukarela. Menurut laporan PBB, sekitar 90% penduduk Gaza telah mengalami pemindahan paksa sejak konflik terbaru dimulai, dengan banyak dari mereka yang berpindah lebih dari sepuluh kali.

Respons Internasional: Kecaman dan Keraguan

Rencana Trump dan Israel mendapat kecaman luas dari komunitas internasional. Para analis menilai, sebagian besar warga Palestina tidak akan setuju untuk meninggalkan tanah mereka.

“Ini adalah tanah kami, dan kami adalah pemilik sahnya,” kata Amir Karaja, seorang warga Gaza, dalam wawancara dengan CNN. “Saya tidak akan dipindahkan, dan tidak ada yang bisa mencabut kami dari Gaza.”

Qatar dan negara-negara Arab lainnya juga telah menolak gagasan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, menyatakan bahwa negara-negara Arab berkomitmen untuk membangun kembali Gaza dengan tetap mempertahankan populasi Palestina di sana.

Masa Depan Gaza dan Tantangan bagi Israel

Sejak awal konflik pada 7 Oktober 2023, militer Israel telah melancarkan serangan besar-besaran yang menewaskan puluhan ribu warga Palestina dan menghancurkan sebagian besar infrastruktur Gaza. Namun, kelompok Hamas tetap bertahan meski mengalami banyak kerugian.

Para analis keamanan memperingatkan bahwa meskipun Israel telah berhasil menghancurkan sebagian besar kekuatan militer Hamas, kelompok tersebut masih mampu merekrut anggota baru dan bangkit kembali. Mantan Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, bahkan menyebut bahwa Hamas “merekrut hampir sebanyak yang mereka kehilangan.”

Dalam wawancara dengan Fox News, Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan memastikan Hamas benar-benar hancur sebelum mengakhiri perang ini. Namun, para kritikus menilai bahwa strategi Israel selama 15 bulan terakhir justru memperkuat Hamas di beberapa aspek.

Negosiasi Gencatan Senjata dan Nasib Gaza

Gencatan senjata sementara yang sedang berlangsung dipertanyakan kelanjutannya setelah 1 Maret 2025, ketika kesepakatan antara Israel dan Hamas akan dievaluasi ulang. Netanyahu menegaskan bahwa pemerintahannya akan tetap berkomitmen untuk membebaskan semua sandera Israel yang masih ditahan Hamas. Namun, ia juga skeptis terhadap fase kedua kesepakatan tersebut, yang mencakup penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza.

Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, bahkan mengancam akan mengundurkan diri jika gencatan senjata diperpanjang. Kondisi ini menambah ketidakpastian terhadap arah kebijakan Israel ke depan.

Kesimpulan: Realitas yang Kompleks

Rencana Trump dan Netanyahu mengenai Gaza menimbulkan kontroversi besar di tingkat global. Sementara Israel berusaha menghancurkan Hamas dan merekonstruksi Gaza di bawah kendali yang lebih ketat, banyak pihak menilai bahwa upaya tersebut dapat memperburuk ketegangan dan menghambat solusi jangka panjang.

Dengan meningkatnya tekanan internasional dan ketidakpastian politik di Israel, masa depan Gaza tetap berada dalam ketidakpastian. Apakah strategi migrasi sukarela dan dominasi AS di Gaza akan menjadi kenyataan, atau justru memperburuk konflik yang sudah berlangsung puluhan tahun, masih menjadi pertanyaan besar bagi dunia.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Tinggalkan Balasan