WASHINGTON DC, BursaNusantara.com – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan kesiapannya untuk membangun hubungan dengan Korea Utara (Korut) di bawah kepemimpinan Kim Jong Un. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri (PM) Jepang, Shigeru Ishiba, di Gedung Putih pada Sabtu (8/2/2025).
“Kami akan menjalin hubungan dengan Korea Utara, dengan Kim Jong Un,” ujar Trump, seperti dikutip dari Anadolu. Trump juga menegaskan bahwa hubungan baik yang telah terjalin dengan Kim merupakan aset berharga bagi semua pihak.
“Saya akur dengannya, dia akur dengan saya. Dan itu hal yang baik, bukan hal yang buruk,” tambahnya.
Jepang Tekankan Isu Denuklirisasi
Di sisi lain, PM Jepang, Shigeru Ishiba, menegaskan pentingnya mengatasi masalah nuklir dan rudal Korea Utara. Ia menyatakan bahwa Jepang dan AS akan terus berkolaborasi dalam upaya denuklirisasi penuh Korut demi menjaga stabilitas kawasan.
“Jepang dan AS akan bekerja sama menuju denuklirisasi penuh Korea Utara,” kata Ishiba.
Ketegangan antara Korea Utara dan negara-negara Barat telah berlangsung selama bertahun-tahun akibat program nuklir dan rudal balistik yang terus dikembangkan oleh Pyongyang. Jepang, sebagai negara yang berada dalam jangkauan senjata Korut, menaruh perhatian serius terhadap langkah-langkah diplomasi yang dilakukan oleh AS dan sekutunya.
Jejak Diplomasi Trump dan Korea Utara
Donald Trump tercatat sebagai Presiden AS pertama yang menginjakkan kaki di wilayah Korea Utara pada 2019. Saat itu, ia bertemu dengan Kim Jong Un di zona demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan Korut dan Korea Selatan (Korsel). Pertemuan ini dianggap sebagai langkah berani dalam upaya membangun komunikasi antara kedua negara.
Namun, meski ada upaya diplomatik yang dilakukan, Korea Utara tetap melanjutkan uji coba rudal dan program nuklirnya. Pada 2023, Pyongyang mengklaim keberhasilan peluncuran rudal balistik antarbenua berbahan bakar padat, yang semakin meningkatkan kekhawatiran global.
Tantangan dalam Hubungan Diplomatik
Hubungan antara AS dan Korea Utara sering kali diwarnai ketidakpastian. Meskipun Trump menunjukkan keinginannya untuk membangun komunikasi, tantangan terbesar tetap ada, yaitu memastikan Korut menghentikan program nuklirnya. Sementara itu, Jepang terus menekan AS untuk memastikan bahwa setiap perjanjian yang dibuat dengan Korut harus berorientasi pada denuklirisasi penuh.
Saat ini, komunitas internasional masih menantikan bagaimana kebijakan AS terhadap Korea Utara akan berkembang di masa depan. Apakah hubungan diplomatik ini dapat membawa stabilitas di kawasan Asia Timur atau justru memicu ketegangan baru, masih menjadi pertanyaan besar.












