Geser Kebawah
Internasional

Trump Kirim Utusan ke Rusia, Kapal Selam AS Siaga Nuklir

84
×

Trump Kirim Utusan ke Rusia, Kapal Selam AS Siaga Nuklir

Sebarkan artikel ini
Trump Kirim Utusan ke Rusia, Kapal Selam AS Siaga Nuklir
Trump utus diplomat ke Kremlin dan kerahkan kapal selam AS dekat Rusia. Tekanan meningkat jelang tenggat sanksi baru atas invasi Ukraina.

Diplomasi Bayangan & Kapal Selam: Cara Trump Mainkan Tekanan Global

JAKARTA, BursaNusantara.com – Amerika Serikat kembali memainkan kartu tekanan diplomatik terhadap Rusia, tapi kali ini dengan taktik yang menggabungkan kekuatan militer bawah laut dan diplomasi ekonomi tingkat tinggi.

Presiden Donald Trump mengirim utusan khususnya, Steve Witkoff, ke Moskow di tengah ancaman sanksi baru dan eskalasi militer yang semakin nyata.

Sponsor
Iklan

Trump mengungkap bahwa dua kapal selam AS kini telah dikerahkan ke kawasan “perbatasan” yang dirahasiakan, menyusul perseteruan daringnya dengan mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev.

Meskipun tidak menjelaskan secara rinci jenis kapal selam tersebut, pernyataan Trump cukup untuk menciptakan ketegangan baru di panggung geopolitik global.

Bersamaan dengan itu, Trump memberikan tenggat waktu hingga akhir pekan depan kepada Rusia untuk menunjukkan langkah konkret dalam mengakhiri perang di Ukraina.

Jika tidak, sanksi tambahan akan segera diberlakukan dan tidak hanya untuk Rusia, tetapi juga negara-negara mitra dagangnya seperti China dan India.

Kapal Selam dan Diplomasi Dua Lapis

Langkah pengiriman kapal selam ini menandai eskalasi paling serius dalam retorika militer AS sejak Trump kembali menjabat. Dalam dunia diplomasi, ini disebut “deterrent signaling” sinyal penahanan yang dikombinasikan dengan tekanan diplomatik.

Utusan Steve Witkoff dikirim langsung ke Kremlin, menandakan bahwa saluran komunikasi tetap dibuka, meskipun hubungan membeku sejak upaya normalisasi sebelumnya gagal.

Trump menyiratkan bahwa pesan utama AS adalah: “Dapatkan kesepakatan di mana orang-orang berhenti terbunuh.”

Namun, apa yang disebut “kesepakatan” itu masih buram. Rusia di sisi lain tetap pada posisi keras: menyerahkan empat wilayah yang telah dianeksasi dan menjamin Ukraina tidak bergabung dengan NATO.

Eskalasi Ukraina: Perang Semakin Terfragmentasi

Sementara itu, Ukraina justru meningkatkan perlawanan. Serangan drone ke depot minyak di Sochi menjadi sinyal bahwa medan perang tak lagi terbatas pada wilayah perbatasan, tapi sudah merambah jantung ekonomi Rusia.

Ukraina juga menegaskan sikapnya: tidak akan tunduk pada tekanan Moskow, termasuk tuntutan teritorial dan blok NATO.

Presiden Zelensky bahkan mengumumkan rencana pertukaran 1.200 tahanan perang yang dibahas dalam pertemuan rahasia di Istanbul. Isyarat ini menunjukkan bahwa di tengah desingan rudal dan drone, diplomasi diam-diam tetap berjalan.

Dampak Global: Bayangan Tarif Sekunder

Apa yang membuat strategi Trump berbeda kali ini bukan hanya pada tekanan militer, tapi juga potensi ekonomi global yang bisa terdampak.

Ia menyebut akan ada “tarif sekunder” yakni sanksi ekonomi bagi negara yang tetap menjalin hubungan dagang dengan Rusia.

Jika diterapkan, langkah ini berisiko menghantam mitra besar seperti China dan India. Efeknya? Gelombang ketidakpastian baru di pasar energi, logistik, dan komoditas global bisa muncul kapan saja.

Trump sendiri memulai masa jabatan keduanya dengan keyakinan bahwa perang Ukraina bisa diakhiri “dengan cepat”. Namun realitas di lapangan berkata sebaliknya. Putin masih bertahan dengan narasi “perdamaian versi Rusia”, sementara Ukraina memperluas serangannya sebagai respons atas korban sipil yang meningkat.

Trump kini menghadapi ujian: apakah diplomasi dua jalur antara utusan khusus dan ancaman kapal selam akan menciptakan terobosan, atau justru mendorong dunia lebih dekat ke konflik yang tak terkendali.