KomoditasPasar

Trump Naikkan Tarif, Rupiah Rontok ke Rp16.507/USD!

86
Trump Naikkan Tarif, Rupiah Rontok ke Rp16.507USD!
Nilai tukar rupiah anjlok ke Rp16.507 per dolar AS usai lonjakan indeks dolar dipicu tarif baru Trump terhadap mitra dagang global.

Rupiah Anjlok, Dolar Menguat: Sinyal Awal Perang Dagang Global?

JAKARTA, BursaNusantara.com – Nilai tukar rupiah terpukul hebat terhadap dolar AS di awal Agustus 2025, seiring lonjakan indeks dolar yang kembali menembus angka psikologis 100.

Kondisi ini bukan semata karena sentimen moneter, melainkan lonceng peringatan dari langkah politik dagang Presiden AS Donald Trump yang mendadak menaikkan tarif terhadap puluhan negara.

Lonjakan indeks dolar AS menjadi katalis utama tekanan terhadap mata uang global, termasuk rupiah yang dibuka melemah 51 poin ke level Rp16.507 per dolar AS di pasar spot Jumat (1/8/2025).

Padahal sehari sebelumnya, rupiah juga ditutup turun ke Rp16.456 per dolar AS, mencerminkan pelemahan dua hari berturut-turut dengan sentimen eksternal mendominasi.

Langkah Trump yang menetapkan tarif impor terhadap Swiss hingga 39%, Kanada 35%, serta tekanan terhadap Uni Eropa menjadi penyulut reli dolar.

Trump Panaskan Medan Perang Dagang Baru

Presiden Trump tak lagi sekadar mengancam, tapi mulai mengeksekusi kebijakan tarif besar-besaran terhadap negara-negara mitra dagang utama AS.

Dengan penguatan indeks dolar sebesar 0,12% ke level 100,08, sinyal pasar menunjukkan bahwa para pelaku keuangan global mulai mengantisipasi babak baru proteksionisme.

Khusus untuk Swiss, tarif naik drastis dari 31% ke 39%, sementara Kanada dikenakan beban impor lebih tinggi dari yang semula diperkirakan.

Euro pun tak luput dari tekanan, mendekati posisi terendah dalam dua bulan karena kesepakatan dagang dinilai timpang dan merugikan pihak Eropa.

Langkah Trump ini disebut sebagai bentuk dominasi unilateral AS, mengingatkan pasar pada era perang dagang 2018–2019.

Respons Pasar Asia: Yen, Euro dan Franc Swiss Terkapar

Dampak kebijakan proteksionis AS tak hanya menghantam rupiah, tetapi juga memukul hampir seluruh mata uang utama dunia.

Yen Jepang tergelincir ke level 150,89 per dolar, terendah sejak Maret, setelah Bank of Japan menunda rencana kenaikan suku bunga.

Euro melemah ke kisaran US$1,1420, tak jauh dari level terendah sejak Juni, dibebani persepsi pasar terhadap posisi tawar UE yang lemah.

Sementara itu, franc Swiss jatuh 0,26% menjadi 0,8120 per dolar AS, menyusul kenaikan tarif ekspor yang mengejutkan pelaku pasar.

Kurs dolar Kanada bahkan menyentuh level terlemah dalam lebih dari dua bulan akibat tarif baru yang dinilai membebani sektor ekspor utama negara tersebut.

Dolar Menguat Meski Trump Serang The Fed

Ironisnya, penguatan dolar tetap terjadi meski Presiden Trump kembali melontarkan kritik keras terhadap Jerome Powell.

Trump menyebut penunjukan Powell sebagai “kesalahan” dan bahkan mengancam akan memecatnya, sebuah tindakan yang dinilai mengancam independensi The Fed.

Meski demikian, pasar justru menilai dinamika ini telah “terdiskon”, seperti dikatakan Mike Houlahan, Direktur Electus Financial di Auckland.

Houlahan menyebut bahwa pasar lebih fokus pada ketegangan dagang dan kebijakan tarif daripada drama internal AS.

Ia menambahkan bahwa penurunan tajam euro dan respons negatif terhadap kesepakatan UE–AS menjadi alasan kuat penguatan dolar dalam waktu dekat.

Apa Artinya untuk Indonesia dan Investor?

Bagi Indonesia, pelemahan rupiah berarti tekanan tambahan terhadap sektor impor, beban utang luar negeri, dan potensi inflasi yang membayangi.

Kenaikan biaya impor bahan baku dan barang konsumsi dapat mendorong penyesuaian harga domestik yang mengganggu daya beli masyarakat.

Sektor-sektor seperti energi, otomotif, dan manufaktur akan menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya secara langsung.

Investor pun cenderung mencari aset lindung nilai atau rebalancing portofolio ke instrumen berbasis dolar.

IHSG kemungkinan menghadapi tekanan psikologis jika rupiah menembus level resistensi baru di atas Rp16.500, memicu arus keluar modal asing.

Tekanan Jangka Pendek, Risiko Jangka Panjang

Pelemahan nilai tukar rupiah yang bersifat struktural dapat menggerus kepercayaan investor jika tak ditanggapi dengan kebijakan fiskal dan moneter yang cepat dan tegas.

Bank Indonesia berpotensi mempertimbangkan intervensi di pasar valas atau menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah.

Namun, langkah semacam itu juga berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi, terutama menjelang kuartal akhir tahun fiskal.

Pasar akan mencermati apakah perang dagang global ini hanya manuver politik Trump menjelang pemilu, atau benar-benar menjadi babak baru ekonomi dunia.

Yang jelas, saat dolar menguat dan tarif dagang diperketat, negara-negara berkembang seperti Indonesia harus menyiapkan tameng ekstra.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Grafik tidak tersedia karena JavaScript dinonaktifkan di browser Anda.
×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version