Pasar Tenaga Kerja AS Tahan Tekanan, Tapi Belum Pulih Sempurna
JAKARTA, BursaNusantara.com – Data terbaru dari Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa permohonan tunjangan pengangguran awal kembali menurun pada pekan yang berakhir 19 Juli.
Jumlah klaim turun sebesar 4.000 menjadi 217.000, menjadi level terendah sejak pertengahan April.
Ini adalah penurunan berturut-turut selama enam pekan, terpanjang sejak 2022, dan mencerminkan tren yang di luar dugaan banyak ekonom.
Hasil tersebut juga lebih rendah dari perkiraan median dalam survei Bloomberg yang memperkirakan angka lebih tinggi.
Artinya, pemutusan hubungan kerja masih rendah, mencerminkan ketahanan korporasi dalam mempertahankan pegawai.
Klaim Lanjutan Masih Tinggi, Sinyal Tersembunyi?
Meskipun klaim awal menurun, klaim lanjutan tetap tinggi di angka 1,96 juta.
Angka ini tak banyak berubah dari minggu sebelumnya dan masih berada di level tertinggi sejak 2021.
Fakta ini menunjukkan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan kesulitan mendapatkan pekerjaan baru.
Dengan kata lain, pasar kerja tidak benar-benar “longgar”, tapi lebih kaku bagi para pencari kerja.
Hal ini dapat mencerminkan ketidaksesuaian keterampilan atau lemahnya penciptaan lapangan kerja baru.
Ketahanan atau Stagnasi? Peluang Pemulihan Masih Terbuka
Stabilnya klaim awal mencerminkan bahwa sebagian besar perusahaan belum melakukan PHK massal.
Namun stagnasi klaim lanjutan bisa menjadi alarm dini bagi perlambatan sektor-sektor padat karya.
Pola ini juga bisa diartikan sebagai bentuk kehati-hatian perusahaan dalam melakukan perekrutan.
Sebagian analis menilai data ini menunjukkan kekuatan ekonomi, namun dengan catatan risiko struktural tersembunyi.
Pasar kini menanti bagaimana kebijakan suku bunga dan fiskal akan merespons dinamika ini.
Klaim menurun tapi pengangguran tetap stagnan situasi ini membuat banyak ekonom angkat alis.












