BisnisPerdagangan & Industri

Vale Genjot Proyek Smelter, Pilar Bisnis Nikel Jadi Tiga Kaki

94
Vale Genjot Proyek Smelter, Pilar Bisnis Nikel Jadi Tiga Kaki
Presiden Direktur baru Vale tegaskan kelanjutan proyek smelter di Pomalaa, Bahodopi, dan Sorowako sebagai upaya memperkuat tiga pilar bisnis nikel INCO.

Strategi Vale Indonesia Genjot Proyek Nikel Multi-Lokasi

JAKARTA, BursaNusantara.com – Kepemimpinan baru di tubuh PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menjadi momentum percepatan transformasi model bisnis nikel nasional.

Bernardus Irmanto, Presiden Direktur & CEO Vale Indonesia yang baru diangkat, menegaskan komitmennya untuk menuntaskan proyek strategis perusahaan di Pomalaa, Bahodopi, dan Sorowako.

Langkah ini bukan hanya sekadar pemenuhan syarat administratif IUPK, tapi bagian dari reposisi Vale sebagai perusahaan pertambangan kelas dunia berbasis keberlanjutan.

Pilar Bisnis Vale Kini Berdiri di Tiga Lokasi

Perubahan paling signifikan adalah terbentuknya struktur bisnis tiga kaki.

Setelah sekian lama hanya bergantung pada smelter Sorowako, Vale kini mulai mengukuhkan pendapatan dari pengapalan nikel ore Pomalaa dan saprolite Bahodopi.

Hal ini menciptakan diversifikasi pendapatan yang lebih resilien terhadap fluktuasi harga global nikel.

Bernardus menyatakan, kekokohan bisnis saat ini jadi landasan kuat untuk optimalisasi nilai perusahaan.

Vale dinilai lebih adaptif menghadapi dinamika pasar yang penuh risiko, dengan mengandalkan cadangan nikel salah satu yang terbesar di Indonesia.

Kekuatan Eksplorasi dan Daya Tawar Teknologi

Salah satu kekuatan Vale ada pada agresivitas eksplorasi dan konsistensi dalam praktik tambang berkelanjutan.

Bernardus menyebut, reputasi sebagai perusahaan yang mengedepankan good mining practices membuka akses lebar ke teknologi pengolahan nikel terkini.

Khususnya pada proyek-proyek berbasis teknologi HPAL (High Pressure Acid Leach) yang digarap di Pomalaa dan Bahodopi, serta revitalisasi di Sorowako.

Daya tawar ini menjadi kunci ketika menjalin kemitraan strategis dengan investor global.

Komitmen Tata Kelola dan Antusiasme Investor

Dari sisi pasar, kehadiran Bernardus Irmanto disambut positif oleh pelaku industri dan investor.

Menurut Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas, kepastian struktur kepemimpinan akan mendukung tata kelola perusahaan yang lebih baik.

Tata kelola solid dinilai esensial untuk menjaga kinerja jangka panjang dan menarik investor institusional global.

Nafan juga menyoroti ambisi Vale membangun tiga smelter HPAL yang total nilainya mencapai US$ 9 miliar.

Smelter di Pomalaa diproyeksikan rampung kuartal IV 2026, dan menjadi salah satu katalis penting bagi peningkatan nilai tambah nikel dalam negeri.

Saham INCO Makin Aktif, Valuasi Diambang Konsolidasi

Meski belum merilis rekomendasi terbaru, Nafan sempat menyarankan strategi sell on strength karena harga INCO sudah menembus target di kisaran Rp3.490 3.830 per saham.

Namun, lonjakan 1,92% ke level Rp3.720 pada Senin (28/7) menunjukkan bahwa ekspektasi pasar masih cukup tinggi terhadap transformasi Vale di bawah kepemimpinan baru.

Prospek ekspansi smelter, penguatan tata kelola, serta tren hilirisasi membuat INCO tetap menarik, meski dibayangi volatilitas harga komoditas global.

Vale kini bukan lagi sekadar pemain tunggal di Sorowako, tetapi telah menjelma menjadi kekuatan terintegrasi nikel nasional dengan pijakan di tiga lokasi strategis Indonesia.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Grafik tidak tersedia karena JavaScript dinonaktifkan di browser Anda.
×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version