Geser Kebawah
Gaya HidupKesehatan

Wajah Orang Indonesia Diwarnai Stres? Ini Penjelasan Ilmiahnya

343
×

Wajah Orang Indonesia Diwarnai Stres? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Sebarkan artikel ini
Wajah Orang Indonesia Diwarnai Stres Ini Penjelasan Ilmiahnya
Stres dan ketidakpastian finansial disebut picu hormon kortisol tinggi di wajah orang Indonesia, berbanding terbalik dengan warga negara maju yang tampak lebih "glowing".

Faktor Hormon Kortisol Di Balik Penampilan Fisik Warga Indonesia

JAKARTA, BursaNusantara.com – Penampilan fisik warga negara berkembang seperti Indonesia disebut banyak dipengaruhi oleh kondisi stres kronis dan ketidakpastian hidup sehari-hari.

Pernyataan ini disampaikan Sekretaris Utama BKKBN, Prof Budi Setiyono, dalam forum diskusi bersama media saat kunjungan kerja ke Ambarawa, Jawa Tengah, Jumat (25/7/2025).

Sponsor
Iklan

Prof Budi menyoroti pengaruh hormon kortisol yang dilepaskan tubuh saat menghadapi tekanan atau ancaman sebagai penyebab utama wajah orang Indonesia cenderung kurang bersinar.

Warga Negara Maju Lebih Terjamin, Wajah Lebih Glowing

Menurut Prof Budi, warga negara maju cenderung tampil lebih sehat dan menarik karena memiliki jaminan sosial serta ketenangan hidup yang jauh lebih stabil.

Ia menyebut masyarakat Eropa sebagai contoh utama, di mana kekhawatiran terhadap masa depan nyaris tidak lagi menjadi beban harian warga di sana.

Sebaliknya, ia menegaskan bahwa warga Indonesia masih dihantui tekanan ekonomi, mulai dari kesulitan mencukupi kebutuhan dasar hingga minimnya akses perlindungan sosial.

Kondisi inilah yang menurutnya membuat hormon kortisol terus diproduksi tubuh, memengaruhi penampilan dan ekspresi wajah secara jangka panjang.

Bukan DNA, Tapi Ancaman Hidup yang Membentuk Ekspresi

Prof Budi menolak anggapan bahwa DNA atau genetik menjadi penentu utama perbedaan fisik antarbangsa.

Ia menjelaskan, orang Indonesia mengalami tekanan hidup harian yang menyebabkan tubuh terus-menerus memproduksi hormon stres.

Menurutnya, ini bisa terlihat jelas pada wajah-wajah masyarakat Indonesia yang tampak tegang, lelah, dan kurang bercahaya dibanding wajah warga negara maju.

Contoh sederhana, ujar Budi, bisa dilihat saat seseorang sedang tertekan: raut wajahnya akan berubah dalam sekejap menjadi lebih muram, kaku, atau pucat.

Dari Korea Hingga Jerman: Pola Global yang Sama

Lebih jauh, ia membandingkan perbedaan penampilan antara warga Korea Selatan dan Korea Utara.

Meski berasal dari etnis dan budaya yang sama, warga Korsel dinilai memiliki tampilan wajah yang lebih menarik karena kondisi hidup mereka lebih mapan dan bebas dari ancaman kelaparan atau ketidakpastian.

Menurutnya, bahkan tanpa operasi plastik sekalipun, wajah-wajah warga Korsel tetap lebih nyaman dipandang dibanding wajah warga Korut yang hidup dalam tekanan.

Hal serupa juga pernah terjadi pada masa pemisahan Jerman Barat dan Jerman Timur, saat wajah warga Jerman Timur cenderung lebih suram akibat tekanan hidup komunis yang penuh kekhawatiran.

Sementara warga Jerman Barat tumbuh dalam sistem jaminan sosial dan ekonomi kapitalis yang mapan, wajah mereka pun tampak lebih segar dan bersinar.

Perubahan Fisik Lewat Kesejahteraan Hidup

Prof Budi menekankan bahwa perubahan wajah warga Indonesia tak harus melalui pernikahan dengan orang asing.

Solusi yang ia dorong adalah menciptakan sistem hidup yang menjamin kesejahteraan minimum bagi seluruh penduduk.

Mulai dari program makan bergizi gratis, koperasi merah putih, hingga sekolah rakyat, menurutnya adalah langkah awal pemerintah untuk menciptakan wajah bangsa yang sehat dan optimistis.

Namun ia menyayangkan bahwa belum semua masyarakat memahami arah kebijakan ini sebagai upaya jangka panjang memperbaiki kualitas hidup warga secara menyeluruh.

Visi Produktivitas Nasional Hadapi Bonus Demografi

Menurut perhitungannya, pada 2045 sebanyak 30 persen populasi Indonesia akan memasuki usia lansia.

Untuk itu, ia menekankan bahwa 70 persen populasi usia produktif harus benar-benar aktif bekerja dan menghasilkan pendapatan guna menopang populasi non-produktif.

Ia juga mendorong hadirnya kebijakan penghasilan layak, wajib belajar 12 tahun, dan penerbitan sertifikat kompetensi agar penduduk Indonesia memiliki daya saing di pasar kerja.

Lebih dari sekadar angka ekonomi, semua itu menurutnya adalah syarat agar wajah-wajah generasi Indonesia berikutnya terbebas dari pengaruh hormon stres yang selama ini menekan.