Ancaman Obesitas Akibat Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak Berlebih
Tren Obesitas di Indonesia Meningkat Drastis
JAKARTA, BursaNusantara.com – Tanpa disadari, masyarakat Indonesia banyak mengonsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) secara berlebihan dari makanan sehari-hari, bukan hanya dari makanan kemasan. Konsumsi GGL yang berlebihan ini menjadi salah satu penyebab utama obesitas di Indonesia, yang meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir.
Menurut Susana, STP, MSc, PD Eng, Head of Strategic Marketing Nutrifood, sumber asupan GGL justru banyak ditemukan pada makanan nonkemasan seperti kerupuk, gorengan, dan kue-kue. “Ini menjadi penyebab obesitas,” ujar Susana dalam acara edukasi yang diselenggarakan Nutrifood bersama Kementerian Kesehatan RI dan Badan POM.
Obesitas adalah penumpukan lemak berlebih akibat kelebihan berat badan. Data menunjukkan bahwa angka obesitas di Indonesia meningkat dari 8% pada 2007 menjadi 21,8% pada 2018. Angka ini terus bertambah seiring dengan perubahan pola makan dan gaya hidup masyarakat.
Obesitas dapat menimbulkan berbagai penyakit serius, seperti diabetes tipe 2, hipertensi, dan penyakit jantung. Oleh karena itu, pencegahan obesitas harus dimulai sejak dini dengan memperhatikan pola konsumsi makanan sehari-hari.
Strategi Pencegahan Obesitas
1. Mengontrol Konsumsi GGL
Mengurangi asupan GGL secara bertahap dapat membantu menekan risiko obesitas. Misalnya, mengurangi konsumsi gorengan dan kerupuk dari setiap hari menjadi tiga kali seminggu. Selain itu, mengganti minuman manis dengan air putih atau infused water juga bisa menjadi langkah awal untuk mengurangi asupan gula berlebih.
2. Membaca Label Kemasan
Penting bagi masyarakat untuk membaca informasi nilai gizi pada kemasan pangan olahan agar dapat mengontrol asupan GGL dengan lebih baik. Informasi mengenai kandungan gula, garam, dan lemak dapat ditemukan dalam label gizi yang biasanya tertera di bagian belakang atau samping kemasan. Dengan memahami informasi ini, masyarakat dapat memilih produk yang lebih sehat.
3. Melakukan Aktivitas Fisik Secara Rutin
Latihan fisik seperti berjalan kaki, bersepeda, atau olahraga ringan lainnya dapat membantu menjaga keseimbangan energi dalam tubuh. Aktivitas fisik juga dapat meningkatkan metabolisme tubuh, yang berperan penting dalam menjaga berat badan yang sehat.
Batas Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak
Kementerian Kesehatan RI telah menetapkan batas aman konsumsi GGL per hari sebagai berikut:
- Gula: Maksimal 50 gram (setara 4 sendok makan)
- Garam: Maksimal 5 gram (setara 1 sendok teh)
- Lemak: Maksimal 67 gram (setara 5 sendok makan)
Namun, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, Dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, mengungkapkan bahwa rata-rata konsumsi gula di Indonesia melebihi angka tersebut. “Tak heran, 1 dari 3 orang Indonesia mengalami obesitas,” jelasnya.
Peran Pemerintah dalam Pengendalian Obesitas
Pemerintah telah mengambil berbagai langkah konkret untuk mengatasi obesitas, di antaranya:
- Gerakan Nusantara Tekan Angka Obesitas (GENTAS)
- Regulasi pencantuman informasi nilai gizi pada pangan olahan
- Kampanye pola hidup sehat CERDIK:
- Cek kesehatan secara rutin
- Enyahkan asap rokok
- Rajin olahraga
- Diet seimbang
- Istirahat cukup
- Kelola stres
Selain regulasi, pemerintah juga terus mendorong berbagai program edukasi bagi masyarakat. Edukasi gizi di sekolah dan lingkungan kerja menjadi salah satu strategi utama dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya pola makan sehat dan aktivitas fisik.
Edukasi Gizi dan Kesadaran Masyarakat
Direktur Standarisasi Pangan Olahan Badan POM, Dra. Dwiana Andayani, Apt., menekankan pentingnya membaca label kemasan agar masyarakat lebih sadar akan kandungan gizi makanan yang dikonsumsi. “Banyak yang belum memahami informasi nilai gizi pada kemasan. Padahal, ini sangat penting untuk mengontrol asupan GGL,” jelasnya.
Selain itu, Badan POM juga menerapkan regulasi Front-of-Pack Nutrition Labelling, yang mencantumkan informasi gizi secara lebih jelas di bagian depan kemasan untuk memudahkan konsumen dalam memilih produk sehat.
Keamanan Bahan Tambahan Pangan (BTP)
Dalam industri pangan, penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) sering menjadi perdebatan. Dr. Puspo Edi Giriwono, STP., Magr, Direktur SEAFAST Center IPB, menjelaskan bahwa keamanan BTP telah diuji melalui analisis risiko yang ketat. “Kajian toksikologi menentukan batas aman penggunaan BTP sehingga konsumen tidak perlu khawatir selama mengikuti anjuran yang ada,” katanya.
Beberapa tujuan utama penggunaan BTP meliputi:
- Mengawetkan makanan dari mikroba perusak
- Meningkatkan warna dan aroma agar lebih menarik
- Menambah nilai gizi seperti protein, mineral, dan vitamin
- Memperbaiki tekstur dan cita rasa
- Memperpanjang daya simpan produk pangan
Namun, masyarakat tetap perlu waspada terhadap penggunaan BTP yang berlebihan, terutama pada produk yang sering dikonsumsi anak-anak. Oleh karena itu, membaca label komposisi dan memahami regulasi yang berlaku menjadi langkah penting dalam memilih makanan yang aman.
Pola Makan Sehat untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Obesitas adalah masalah kesehatan yang harus ditanggulangi secara kolektif. Dengan memahami sumber asupan GGL, membaca label kemasan, serta menerapkan pola hidup sehat, masyarakat dapat mengurangi risiko obesitas dan meningkatkan kualitas hidup.
Pemerintah, industri pangan, dan masyarakat harus bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Dengan demikian, generasi mendatang dapat tumbuh dengan pola hidup yang lebih baik dan terbebas dari ancaman obesitas.
Selain itu, individu juga harus memiliki kesadaran untuk mengatur pola makan yang lebih seimbang. Mengonsumsi makanan dengan proporsi yang tepat, memperbanyak sayur dan buah, serta membatasi makanan olahan tinggi gula, garam, dan lemak adalah langkah awal dalam menciptakan gaya hidup yang lebih sehat. Dengan menerapkan kebiasaan ini sejak dini, kita dapat menghindari berbagai penyakit yang diakibatkan oleh obesitas dan menikmati hidup yang lebih berkualitas.












