JAKARTA, BursaNusantara.com – Pasar keuangan Indonesia kembali menunjukkan volatilitas tinggi. Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melonjak ke 6,88% pada Kamis (27/2/2025), mencerminkan meningkatnya ekspektasi risiko di pasar obligasi domestik.
Sementara itu, di pasar global, yield US Treasury Note 10 tahun justru turun ke 4,260% di hari yang sama. Perbedaan tren ini mengindikasikan adanya tekanan di pasar keuangan Indonesia dibandingkan dengan AS.
Di sisi lain, tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin nyata. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah melemah ke Rp16.575 per dolar AS pada Jumat (28/2/2025).
Mengapa Yield SBN Naik?
Yield SBN yang naik menunjukkan bahwa investor menuntut imbal hasil lebih tinggi untuk menahan surat utang Indonesia. Beberapa faktor utama yang memengaruhi kenaikan ini antara lain:
1. Ketidakpastian Global dan Suku Bunga The Fed
Investor masih menanti arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Jika bank sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, permintaan terhadap aset berisiko seperti SBN Indonesia bisa berkurang.
2. Pelemahan Rupiah
Rupiah yang terus melemah membuat investor asing lebih berhati-hati dalam berinvestasi di aset berbasis rupiah, termasuk obligasi negara.
3. Sentimen Pasar Domestik
Ketidakpastian ekonomi domestik, termasuk kebijakan fiskal dan moneter yang diambil pemerintah, juga berperan dalam pergerakan yield SBN.
Rupiah Melemah, Apa Dampaknya?
Melemahnya rupiah hingga menyentuh Rp16.575 per dolar AS menjadi perhatian utama pelaku pasar. Beberapa dampak dari depresiasi rupiah ini meliputi:
1. Biaya Impor Meningkat
Mata uang yang lebih lemah membuat harga barang impor lebih mahal, yang dapat berdampak pada inflasi di dalam negeri.
2. Tekanan bagi Dunia Usaha
Perusahaan dengan utang dalam dolar AS akan menghadapi beban pembayaran yang lebih besar akibat depresiasi rupiah.
3. Potensi Campur Tangan Bank Indonesia
Melihat situasi ini, Bank Indonesia kemungkinan akan lebih aktif dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Ramdan, perwakilan BI, menegaskan:
“BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia.”
Pasar Keuangan dalam Tekanan
Lonjakan yield SBN dan pelemahan rupiah menunjukkan bahwa pasar keuangan Indonesia sedang menghadapi tantangan besar. Faktor eksternal seperti kebijakan The Fed dan kondisi global akan sangat memengaruhi pergerakan ke depan.
Pelaku pasar perlu mencermati langkah-langkah yang akan diambil oleh pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.












