Geser Kebawah
ObligasiPasar

Yield SUN 10 Tahun Naik, Investor Beralih ke Pasar Uang

128
×

Yield SUN 10 Tahun Naik, Investor Beralih ke Pasar Uang

Sebarkan artikel ini
Yield SUN 10 Tahun Naik Investor Beralih Ke Pasar Uang
Yield Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun Indonesia mencapai 7,32%, tertinggi sejak 2008. Namun, investor mulai beralih ke pasar uang karena risiko meningkat.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Pasar obligasi kembali menarik perhatian dengan imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun Indonesia yang mencapai 7,32%. Namun, sejumlah sentimen domestik diproyeksi akan menekan minat investor pada pekan terakhir perdagangan sebelum Lebaran.

Yield SUN 10 Tahun Sentuh Level Tertinggi Sejak 2008

Berdasarkan data Trading Economics, Senin (24/3), imbal hasil SUN 10 tahun mencapai level tertinggi sejak Oktober 2008. Dengan kondisi ini, yield SUN 10 tahun naik 0,475% secara bulanan dan 0,659% secara tahunan.

Sponsor
Iklan

Meski memberikan penawaran yang tinggi, sejumlah investor justru mulai beralih ke instrumen pasar uang yang lebih stabil.

“Untuk sementara, mungkin sampai sentimen-sentimen negatif agak hilang, investor sudah mulai berpindah ke money market. Tidak hanya investor asing, tapi investor domestik juga,” ungkap Ekonom Senior KB Kalbe Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, kepada Kontan.co.id, Senin (24/3).

Investor Beralih ke Pasar Uang, Risiko Obligasi Meningkat

Pekan ini menjadi perdagangan terakhir sebelum libur panjang Lebaran. Menjelang penutupan pasar, Fikri memproyeksi akan terjadi aksi jual (sell-off) di pasar obligasi pemerintah meskipun yield masih berpotensi meningkat lebih tinggi.

Kondisi ini diperburuk oleh kenaikan skor Credit Default Swap (CDS) Indonesia yang mencapai 91,66 basis poin (bp), menandakan peningkatan risiko gagal bayar obligasi domestik. Meskipun demikian, yield SUN 10 tahun masih lebih menarik dibandingkan obligasi serupa dari negara lain seperti Jepang, Amerika Serikat (AS), dan China.

IHSG dan Rupiah Tertekan, Obligasi Bisa Jadi Alternatif

Menurut Fikri, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali turun dapat menjadi katalis positif bagi pasar obligasi, karena investor berpotensi mengalihkan dananya ke SUN sambil menunggu stabilisasi rupiah.

“Tapi melihat kondisi rupiah yang hari ini juga tertekan, saya juga khawatir mereka masih akan melakukan sell-off di pekan ini,” sebut Fikri.

Per Senin (24/3) pukul 10.20 WIB, IHSG Indonesia sempat menyentuh level 5.972,37, turun 4,57% dan mencetak rekor terendah sejak 2021. Sementara itu, rupiah berada di level Rp16.561 per dolar AS pada pukul 15.00 WIB, melemah 0,36% dibandingkan akhir pekan lalu.

Dengan dinamika ini, investor dihadapkan pada pilihan sulit antara mencari keuntungan dari yield tinggi SUN atau menghindari risiko akibat volatilitas ekonomi domestik.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.