Geser Kebawah
Internasional

Yuan Menguat, China Gencar Promosikan De-Dolarisasi Global

31
×

Yuan Menguat, China Gencar Promosikan De-Dolarisasi Global

Sebarkan artikel ini
Yuan Menguat, China Gencar Promosikan De-Dolarisasi Global
Saat indeks dolar melemah, China agresif dorong yuan jadi alternatif global dengan strategi pasar berjangka, digitalisasi mata uang, dan ekspansi offshore.

China Genjot Internasionalisasi Yuan, Tantang Dominasi Dolar AS

JAKARTA, BursaNusantara.com – Pemerintah China mempercepat langkah de-dolarisasi global di tengah merosotnya kepercayaan dunia terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Langkah ini sejalan dengan penurunan indeks dolar AS yang sudah terkoreksi lebih dari 9% sepanjang 2025.

Sponsor
Iklan

Sementara itu, yuan offshore justru menguat lebih dari 2% terhadap dolar, membuka celah momentum untuk ekspansi.

Dalam Forum Lujiazui, Gubernur Bank Sentral China Pan Gongsheng menggarisbawahi pentingnya mengurangi ketergantungan dunia pada satu mata uang dominan.

Ia juga memperkenalkan rencana pendirian pusat internasionalisasi yuan digital di Shanghai sebagai basis inovasi moneter China.

Fokus Pasar Berjangka dan Akses Lembaga Asing

Tiga bursa utama China — Shanghai, Dalian, dan Zhengzhou — kini membuka akses 16 kontrak berjangka baru bagi investor institusional asing yang memenuhi syarat.

Kontrak tersebut mencakup komoditas seperti karet alam, timah, dan timbal, serta melengkapi daftar kontrak yang lebih luas tahun ini.

Zhou Ji dari Nanhua Futures menilai langkah ini memperluas instrumen lindung nilai bagi investor asing, sekaligus meningkatkan peran yuan dalam penetapan harga global.

China juga mulai menerima masukan terkait rencana penggunaan mata uang asing sebagai agunan dalam perdagangan berdenominasi yuan.

Secara bertahap, yuan didorong sebagai mata uang settlement alternatif dalam perdagangan komoditas dunia.

Yuan Digital dan Infrastruktur Pembayaran Lintas Batas

China juga terus mendorong penggunaan yuan digital sebagai alat tukar resmi menggantikan uang tunai dan logam koin.

Melalui jaringan bank kliring yuan offshore dan sistem pembayaran lintas batas, otoritas keuangan China mendorong adopsi global RMB.

Langkah ini disambut positif oleh sejumlah negara berkembang yang mulai menggunakan yuan dalam pinjaman bilateral dengan bank China.

Menurut analisis The Fed, salah satu pendorong kuatnya adalah ongkos pinjaman dalam yuan yang relatif lebih rendah dibandingkan dolar AS.

Di sektor perdagangan, pemerintah China menyediakan pendanaan sebesar US$100 miliar pada Februari 2025 untuk bisnis di Hong Kong guna mengakses pembiayaan yuan.

Investor Global Mulai Lirik Akses Komoditas China

Morgan Stanley, melalui anak usahanya di China, telah memperoleh izin resmi untuk melayani perantara komoditas berjangka domestik.

Langkah ini menjadi titik awal ekspansi layanan mereka ke instrumen lain seperti ekuitas dan obligasi berjangka di masa mendatang.

Persetujuan ini merupakan kelanjutan dari kebijakan otoritas China sejak 2023 yang memberi akses kepemilikan penuh kepada perusahaan asing.

Namun, meskipun pintu akses terbuka, daya tarik yuan masih tertahan oleh reputasi regulasi dan tingkat transparansi sistem pasar China.

Analis BCA Research Matt Gertken menilai kelemahan hukum dan terbatasnya aset likuid terbuka menjadi penghambat utama daya saing yuan.

Strategi Bertahap Namun Konsisten

Otoritas China memberikan insentif lebih lanjut dengan membebaskan biaya pembukaan rekening lokal bagi lembaga asing pada awal 2025.

Bursa efek juga membuka opsi dana ETF untuk investor asing yang memenuhi syarat, mulai 9 Oktober 2025, dengan fokus pada instrumen hedging.

Upaya ini secara keseluruhan disusun secara bertahap dengan pendekatan sistematis dan koordinasi lintas otoritas keuangan.

Direktur China Eurasia Group Dan Wang mencatat bahwa meski belum merata, langkah de-dolarisasi China menunjukkan percepatan.

Yuan memang belum menjadi pengganti dolar, tetapi Beijing tengah menciptakan ekosistem yang mengurangi dominasi greenback.

Tantangan Transparansi dan Kepercayaan Global

Meski regulasi dibuka, skeptisisme investor internasional terhadap sistem China masih menjadi hambatan utama de-dolarisasi.

Faktor ini mencakup kekhawatiran terhadap intervensi negara, kontrol modal, dan stabilitas hukum atas aset keuangan.

Investor global menuntut jaminan kepastian hukum dan perlindungan hak kepemilikan sebelum mengucurkan dana dalam skala besar.

Namun demikian, dengan kejatuhan indeks dolar, ruang strategi yuan terbuka lebih lebar dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Sinyal geopolitik dan ketidakpastian AS menambah daya tarik relatif RMB, meski jalan menuju kepercayaan global masih panjang.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.