Geser Kebawah
BisnisEnergi

Ekspor Komoditas RI Tertekan Tarif Impor AS

174
×

Ekspor Komoditas RI Tertekan Tarif Impor AS

Sebarkan artikel ini
Ekspor Komoditas RI Tertekan Tarif Impor AS
Kebijakan tarif tinggi AS mengancam ekspor komoditas RI. Pelaku usaha diminta adaptif hadapi penurunan permintaan global dan kompetisi pasar.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Ketergantungan Indonesia terhadap ekspor sumber daya alam (SDA), khususnya komoditas mineral, batubara, dan kelapa sawit, menghadapi tantangan besar menyusul kebijakan tarif impor tinggi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.

Kondisi ini memicu kekhawatiran kalangan pelaku usaha terhadap potensi penurunan permintaan dari negara-negara mitra dagang utama.

Sponsor
Iklan

Kebijakan Tarif AS Mengancam Stabilitas Ekspor

Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association (IMA), Hendra Sinadia, menyampaikan bahwa ekspor komoditas masih menjadi tulang punggung pendapatan nasional dalam sepuluh tahun terakhir.

Baca Juga: Laba Bersih BYAN Turun 25,5% di 2024, Bagaimana Prospek ke Depan?

Namun, dampak perang dagang global, khususnya tarif tinggi dari AS, dapat memperlemah daya saing dan mengurangi permintaan pasar luar negeri.

“Di tengah tekanan ekonomi sebagai imbas dari kebijakan tarif Presiden Trump, sepertinya kita mau tidak mau masih mengandalkan ekspor komoditas minerba dan sawit,” ujar Hendra kepada Kontan, Minggu (6/4).

Menurutnya, bila konsumsi listrik di negara-negara tujuan ekspor menurun akibat melambatnya sektor industri, maka permintaan atas batubara dan mineral logam dari Indonesia juga akan ikut merosot.

Baca Juga: DHE SDA 100%: Regulasi Baru Tekan Industri Batubara

Kondisi ini diperparah dengan harga komoditas global yang fluktuatif, serta ketergantungan infrastruktur dan logistik nasional terhadap permintaan luar negeri.

Ketidakpastian pasar internasional berisiko mengganggu arus kas perusahaan tambang dan perkebunan, sehingga dapat berdampak ke sektor ketenagakerjaan.

Risiko Kontraksi Komoditas Strategis

Hal senada disampaikan Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios). Ia menilai bahwa komoditas unggulan seperti batubara, sawit, minyak, dan nikel sangat rentan mengalami kontraksi tajam, terlebih dengan munculnya tarif balasan terhadap produk-produk AS yang dapat menekan perekonomian global.

Baca Juga: Harga Tembaga Ambruk Akibat Tarif Trump, Dampak Perang Dagang Mengintai

“Batubara, minyak, sawit, nikel, dan produk tambang lainnya sangat mungkin mengalami penurunan permintaan, terutama ke China,” ungkap Bhima.

Dalam menghadapi situasi ini, perusahaan ekspor komoditas dihadapkan pada dilema strategi: memilih antara menurunkan margin keuntungan atau mengalihkan sebagian produksi ke pasar domestik. Meski begitu, Bhima menyebut masih ada harapan untuk produk tertentu.

“Pemerintah perlu manfaatkan peluang jika tembaga dan nikel dikecualikan dari tarif resiprokal. Ekspor olahan seperti NPI, feronikel, dan nikel matte bisa didorong, asalkan penuhi traceability, standar lingkungan, dan perlindungan tenaga kerja,” tambahnya.

Baca Juga: Laba PT Bukit Asam (PTBA) Turun 16,41% di 2024, Pendapatan Naik

Ia juga menambahkan bahwa diversifikasi pasar menjadi krusial. Peluang baru bisa dibuka lewat peningkatan kerja sama bilateral dengan negara-negara ASEAN, Timur Tengah, dan Afrika yang sedang gencar mengembangkan infrastruktur dan energi.

Aspek Regulasi dan Diplomasi Harus Diperkuat

Dari sisi hukum, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan (Pushep), Bisman Bakhtiar, menilai bahwa tarif impor tinggi dari AS membuat harga beli komoditas Indonesia menjadi tidak kompetitif. Imbasnya, produsen terancam kehilangan pasar atau terpaksa menurunkan harga jual agar tetap bersaing.

“Harga yang lebih tinggi akan membuat AS mencari alternatif komoditas dari negara lain. Ini jadi tantangan besar untuk perdagangan kita,” ujar Bisman.

Baca Juga: Prospek Saham Tambang Batubara di Tengah Regulasi DHE

Bisman menekankan pentingnya diplomasi ekonomi yang aktif dan terarah. Pemerintah perlu segera mengupayakan negosiasi ulang agar produk ekspor strategis Indonesia tidak terhambat tarif tinggi yang merugikan.

“Pelaku usaha harus bijak dan berpikir strategis. Komoditas seperti sawit masih prospektif. Namun, kita juga harus membuka pasar alternatif seperti Eropa, India, dan China agar tidak terlalu tergantung pada AS,” tutup Bisman dengan nada optimistis.

Baca Juga: Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi di Tengah Ketegangan Global

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru