JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) kembali mencuri perhatian pasar dengan membagikan dividen senilai Rp162 miliar dari laba bersih tahun buku 2024.
Pembagian tersebut setara dengan Rp172,92 per saham dan menghasilkan dividend yield sebesar 6,48%, angka yang dianggap tinggi untuk sektor kesehatan.
Langkah ini dinilai menjadi daya tarik tersendiri bagi investor, terutama bagi mereka yang mengincar pendapatan pasif dari dividen di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.
Yield PRDA Lampaui Emiten Kesehatan Lain
Analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis Setyo Wibowo, menyampaikan bahwa yield PRDA terbilang menonjol dibandingkan dengan emiten lain di sektor serupa.
Baca Juga: Saham MIKA Dipantau BEI, Investor Diminta Waspada
Ia menyebut Kalbe Farma (KLBF), Mitra Keluarga (MIKA), dan Sido Muncul (SIDO) memiliki yield yang cenderung lebih rendah.
Menurut Azis, kombinasi antara pembagian dividen yang agresif dan prospek pertumbuhan bisnis menjadikan PRDA semakin kompetitif. Ini dapat memicu minat lebih besar dari investor, khususnya yang mengincar sektor kesehatan dalam jangka menengah hingga panjang.
Potensi Cerah dari Tren Preventive Healthcare
Selain dividen yang tinggi, PRDA juga dinilai memiliki prospek pertumbuhan yang solid. Fokus pemerintahan Prabowo terhadap program kesehatan preventif menjadi katalis positif yang bisa dimanfaatkan perseroan.
Azis menambahkan bahwa tren digitalisasi layanan kesehatan turut menjadi pendorong yang relevan bagi model bisnis PRDA, terutama karena perusahaan telah mengembangkan berbagai platform layanan kesehatan berbasis teknologi.
Baca Juga: Kinerja SIDO Melonjak 23% di 2024, Targetkan Pertumbuhan Dua Digit di 2025
Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan tetap ada. Salah satu faktor yang masih membayangi adalah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih sejak pandemi, terutama di segmen layanan kesehatan yang tidak masuk kategori darurat.
Saham PRDA Bergerak Variatif
Dari sisi pasar saham, harga PRDA per Jumat (2/5) ditutup di level Rp2.670 per lembar. Meskipun mengalami koreksi 3,96% dibandingkan hari sebelumnya, harga tersebut tercatat naik 9,88% dalam satu bulan terakhir.
Kondisi ini mencerminkan adanya ketertarikan pelaku pasar terhadap fundamental dan strategi perusahaan, meski tetap dipengaruhi oleh dinamika jangka pendek di bursa.
Dengan yield yang mengungguli rata-rata sektor dan prospek yang terhubung dengan arah kebijakan pemerintah mendatang, PRDA kian diperhitungkan sebagai emiten defensif yang tetap atraktif di tengah ketidakpastian ekonomi.
Baca Juga: Griyainsano Perkuat Kepemilikan MIKA, Investasi Strategis Terus Naik
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












