Pemerintah Naikkan Tarif Ekspor Sawit untuk Dukung Biodiesel
JAKARTA, BursaNusantara.com – Pemerintah resmi menaikkan pungutan ekspor minyak sawit mentah (CPO) menjadi 10% mulai 17 Mei 2025. Kenaikan ini ditujukan untuk memperkuat pendanaan program biodiesel nasional.
Sebelumnya, tarif pungutan berada di level 7,5%. Langkah ini dituangkan dalam peraturan yang ditandatangani Rabu, 14 Mei 2025.
Pungutan ekspor untuk produk olahan CPO juga naik. Kini berada pada kisaran 4,75% hingga 9,5%, dari sebelumnya hanya 3% sampai 6%.
Kebijakan ini ditujukan untuk membiayai program strategis nasional. Termasuk subsidi biodiesel dan program penanaman kembali bagi petani kecil.
Targetkan Biodiesel 40% Tahun Ini
Pemerintah meningkatkan kadar campuran biodiesel dari 35% menjadi 40%. Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.
Pada 2026, pencampuran biodiesel ditargetkan naik ke 50%. Pemerintah juga merancang campuran 3% untuk bahan bakar jet mulai tahun depan.
Kebijakan ini bagian dari strategi transisi energi nasional. Pemerintah berharap biodiesel dapat memperkuat ketahanan energi jangka panjang.
Dana Subsidi Mencapai Rp35 Triliun
Badan Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) akan mengelola dana pungutan ini. Total subsidi biodiesel yang akan disalurkan mencapai Rp35,47 triliun atau setara US$2,14 miliar.
Dana ini juga mendukung program replanting bagi petani kecil. Pemerintah ingin meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat melalui skema ini.
Permintaan Biodiesel Terus Tumbuh
Kementerian Energi mencatat konsumsi biodiesel hingga 24 April 2025 mencapai 4,44 juta kiloliter. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun lalu.
Pemerintah mengalokasikan 15,6 juta kiloliter biodiesel untuk tahun 2025. Jumlah ini naik dari sekitar 13 juta kiloliter tahun sebelumnya.
Dengan permintaan biodiesel yang terus naik, kebutuhan pendanaan pun meningkat. Kenaikan pungutan ekspor jadi solusi untuk mengimbangi beban subsidi.
Kebijakan ini memperkuat komitmen pemerintah terhadap energi hijau dan ketahanan energi. Sektor sawit kembali menjadi pilar penting dalam transisi energi nasional.











