Pasar Berbalik: Safe Haven Emas Tak Lagi Digdaya
JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga emas global mencatat pelemahan tajam pada Jumat (27/6/2025), mempertegas pergeseran selera risiko investor yang kini tak lagi memprioritaskan aset lindung nilai tradisional seperti emas.
Meredanya Konflik Bikin Investor Longgarkan Cengkeraman
Penurunan harga emas sebesar 1,5% ke US$ 3.277,17 per troy ons terjadi seiring tercapainya kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan China.
Kontrak berjangka emas AS bahkan ditutup lebih dalam, melemah 1,8% ke US$ 3.287,60, memperpanjang tekanan mingguan menjadi dua pekan berturut-turut.
Pelemahan ini membatalkan status emas sebagai pelarian utama investor ketika ketegangan geopolitik mencair.
Sentimen pasar berbalik arah setelah muncul sinyal positif dari dua poros utama global: AS dan China, serta Timur Tengah.
AS-China Sepakat, Pasar Saham Dunia Naik Daun
Kesepakatan percepatan ekspor rare earth dari China ke AS jadi pemantik utama penguatan saham global, sekaligus menekan permintaan terhadap emas.
Logam tanah jarang menjadi kunci dalam rantai pasok teknologi global, dan kesepakatan ini menurunkan risiko pasokan yang sempat mencemaskan industri AS.
Pasar menyambut sinyal damai ini sebagai peluang baru untuk mengambil risiko, berpaling dari aset defensif.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa investor mulai fokus pada prospek pertumbuhan ketimbang perlindungan nilai.
Timur Tengah Tenang, Tapi Harga Emas Malah Goyang
Gencatan senjata antara Iran dan Israel juga menjadi katalis stabilitas yang tidak biasa dalam dinamika harga emas.
Meskipun ada beberapa bentrokan lokal, ketegangan regional dinilai tidak cukup memicu gelombang beli emas yang biasa terjadi saat konflik meningkat.
Kondisi geopolitik yang lebih tenang memperkuat narasi bahwa pasar sedang tidak membutuhkan pelindung nilai ekstrem.
Menurut analis RJO Futures Daniel Pavilonis, “Ini saatnya investor merealisasikan keuntungan setelah rally sebelumnya.”
Data Ekonomi AS Melemah, Tapi Emas Tak Terangkat
Data belanja konsumen AS yang menurun secara tak terduga pada Mei sempat memberi harapan bagi pendukung emas.
Namun pasar menafsirkan penurunan tersebut sebagai sinyal moderat, bukan alarm resesi, sehingga tidak cukup kuat mendongkrak minat terhadap emas.
Inflasi bulanan yang terkendali juga menekan ekspektasi lonjakan harga emas.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed sebesar 75 basis poin sepanjang 2025 justru mendorong aset berisiko, bukan emas.
Selera Risiko Investor Menguat, Emas Terlupakan
Saat stabilitas geopolitik meningkat dan data ekonomi tidak menimbulkan ketakutan, investor mulai menyukai kembali ekuitas dan komoditas lain.
Emas, yang tidak menawarkan imbal hasil, tertinggal dibanding instrumen lain seperti saham atau bahkan obligasi berimbal hasil tinggi.
Pavilonis menyebutkan bahwa stabilitas justru membuat emas kurang menarik karena karakter pasifnya dalam iklim pertumbuhan.
Ini menunjukkan bahwa harga emas kini lebih rentan terhadap rotasi portofolio global daripada faktor inflasi tunggal.
Logam Mulia Lainnya Bergerak Campuran
Di tengah penurunan emas, harga perak ikut jatuh 1,4% ke US$ 36,10 per ons, sementara platinum tertekan lebih dalam hingga 5,3% ke US$ 1.341,57.
Namun secara mingguan, keduanya masih mencatatkan kenaikan tipis yang mengindikasikan minat parsial dari pelaku pasar industri.
Palladium justru mencatat kenaikan 0,5% ke US$ 1.137,92 dan berpotensi menutup minggu dengan penguatan dua pekan beruntun.
Data ini menunjukkan bahwa tidak semua logam tertekan secara seragam, tergantung fungsi dan sentimen sektoral masing-masing.
Narasi Baru: Emas Hanya Favorit Saat Dunia Bergolak
Kondisi pasar saat ini memperlihatkan bahwa emas bukan lagi aset wajib dalam semua kondisi, tapi lebih pada alat lindung selektif saat krisis.
Investor global kini lebih taktis dalam menakar risiko, hanya kembali ke emas jika benar-benar diperlukan.
Stabilitas politik dan makroekonomi yang terjadi serentak dari dua titik panas dunia menjadi kombinasi langka yang memberi tekanan mendalam bagi logam kuning.
Dalam lanskap baru ini, emas harus bersaing dengan instrumen berimbal hasil tinggi untuk menarik perhatian investor institusi dan ritel.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











